Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Keras Kepala Hampir Membawa Masalah


Pagi ini di wilayah kesultanan Banten di dekat laut yang menghubungkan dengan pulau Natal atau Christmas Island, markas Belanda terletak di atas dan bawahnya adalah laut agar dapat memantau jika kalau ada musuh.


Victoria hanya terdiam sambil menatap ke depan sedangkan punggungnya tengah di olesi obat oleh dokter berparas pria Belanda karena terkena peluru tempo hari, "Juffrow makanan sudah siap." seorang Bendide yang kemarin datang tapi Victoria menatapnya dengan tajam.


"Ik tak lapar!" ucapnya singkat.


Dania dalam wujud Victoria sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa lepas dari ikatan gaib yang dilakukan ibunya ini, sungguh dirinya muak dengan semua ini.


Tubuhnya masih mengenakan baju yang kemarin, dalam otaknya lalu terlintas untuk keluar dari markas Belanda. Sebelum menjalankan misinya dirinya harus berganti baju dulu.


Tapi dirinya bingung karena tak ada celana hanya ada gaun itu pun semuanya khas Eropa semua, dirinya akhirnya memilih salah satu gaun berwarna kuning dan warnanya di penuhi motif bunga-bunga, lalu rambunya di sanggul dengan gaya cepol jaman tahun 2023.



Victoria lompat dari ata s jendela dengan kain yang disusun lalu melompat dari luar jendela, tiba-tiba dirinya di hutan dan berlari tak tahu arah kemana pun itu.


di wilayah hutan yang lebat dirinya mendengar suara teriakan seorang wanita, Dania memutuskan mencari asal suara itu dan benar saja dirinya tak percaya atas apa yang dia lihat.


"Astagfirullah," ujar Victoria.


Hans Rusells altar milik Louis sedang menindih salah satu gadis pribumi, Dania yang tak tega langsung mengambil batu lalu melemparnya ke punggung Hans.


Victoria lalu berlari menjauh menelusuri hutan yang lebat sampai kakinya tersandung, "Argh!" ringisnya sembari memegang kakinya.


Tapi dirinya menjerit kuat tatkala melihat yang di hadapannya ada ular kobra yang siap mematuknya tapi gadis yang dibantunya tadi menyingkirkan ular kobra itu dengan ranting kayu.


"Je?" ujar Victoria.


"Kenapa je menolong ik padahal ik adalah kompeni?" tanya Victoria, gadis itu mengulurkan tangannya untuk membantu Victoria berdiri.


"Jika kau bisa menolongku dari kebejatan mereka kenapa aku tak bisa membantumu," ujarnya dengan seulas senyum.


"Baju je kotor ayo kita bersihkan dulu," ujar Victoria dengan ramah.


"Ayo mari berjalan," mereka bicara satu sama lain sampai mereke menemukan sebuah air terjun yang indah dengan panorama yang sungguh di kagumi.



Victoria menyadarkan kakinya di bebatuan dekat curug bersama gadis pribumi yang hampir di perkosa oleh Hans, "siapa nama anda Juffrouw?" tanyanya.


"Victoria," ujar Dania dalam wujud Victoria.


"Bisa bicara bahasa melayu?" tanya Dania lagi.


"Ya aku bisa," sahut gadis itu.


Sampai suatu ketika mereka mendengar ada orang yang datang, dua gadis berbeda ras itu langsung sembunyi dibalik semak-semak.


Ternyata yang datang adalah pasukan Belanda berwajah Indo belanda dan melayu datang membawa beberapa harta jarahan dari warga, "ayo kita segera lari dari sini!" ujar Gadis itu sambil menarik tangan Victoria.


"Tunggu Harti," ujar Victoria mencegah temannya itu dengan menahan tangannya yang ditari Harti.


Saat tengah memperhatikan tiba-tiba kakinya tanpa sadar menginjak ranting membuat tentara Belanda berbahasa melayu berteriak dan mengancam, "ayo pergi dari sini!" ujar gadis pribumi itu sambil menarik tangan Victoria.


Saat tengah berlari sampai ke tengah hutan mereka menarik nafas lalu sampai ke pemukiman penduduk milik Meneer Derwitt, Dania melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dengan kejam warga diperlakukan oleh centeng berwajah pribumi juga.


Sampai tanpa sadar tangannya di tarik oleh seseorang dan saat menoleh itu adalah Jason altar milik Abangnya, "Bang Satria!" ujarnya dengan berbisik.


"Shut!" ujarnya mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.


"Ayo ikut gua!" ujarnya lagi sambil menarik tangan Victoria.


"Lu mau ngajak gua kemana sih Bang?" tanyanya.


"Gua kagak mau!" ujarnya sambil menghempaskan tangannya.


"Eh Bocil sebenernya mau lu apa sih?! jangan bikin masalah deh lu?!" ujar Satria yang berteriak marah.


"Eh disini gua sebagai Victoria kakak lu! bukan adek lu!" belanya pada sang Abang.


"Ya ok, sekarang mau lu apa?!" maki Satria.


"Mau gua! gua mau mati sebagai Victoria dan gua mau jadi Dania anindita Rejaya!" ungkapnya.


"Udah gila lu! lu kagak mikir resikonya!" ucapnya sambil menjentul jidat adiknya dalam wujud Victoria.


"Lu tahu gak resikonya kalo lu sampai ke bunuh jadi Victoria!" ujarnya dengan memaki.


"Kagak! emang ngapa tuh?" tanyanya.


"Lu bakal jadi kaya Tuti!" ujar Jason, yang dimaksud Satria adalah orang gila dekat mess Satria yaang suka wara wiri.


"Serius gua bisa jadi gila?!" ucap Dania.


"Dua rius! sekarang mending lu ikut gua balik ke Papa Hanson," kata Jason sambil menarik tangan Victoria menaiki kereta kuda memasuki pedalaman.


Satria dan Dania masuk ke dalam kereta kuda, "BTW lu ngapain disini?" tanya Dania kepada abangnya.


"Gua ngasih tahu jawabannya, lu 'kan udah tahu sekarang." Jeda "nanti kalo udah sampai markas lu cuci tangan dan cuci kaki lalu bobo siang!" jelas Satria dengan nada mengejek karena sikap Dania yang nekat.


Sesampainya di dalam hutan mereka juga bermasalah ribuan rakyat Banten menyerang kereta kuda mereka, tentara Belanda yang berjumlah sedikit malah kewalahan.


Sampai pasukan datang dan membunuh Rakyat Banten yang berhasil di pukul mundur saat itu dipimpin oleh Hanson yang mencari anak-anaknya.


"Papa!" teriak Victoria dan Jason memeluk ayah mereka.


Setelah terselamatkan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju markas, Victoria menatap ayahnya tatapannya sudah dengan wajah masam.


'Siap-siap aja balik gua dapet hukuman nih," batinnya sambil menatap ayahnya itu.


Sesampainya di markas keduanya di peluk oleh Nadia ibu mereka, "kalian membuatku khawatir." Rupanya Nadia tengah ditenangkan oleh para Nyonya kompeni yang tengah khawatir dengan kehilangan Dania.


Sesudahnya sesi berpelukan Hanson dengan marah mencengkram pergelangan tangan Victoria lalu menariknya melewati lorong dengan arsitektur Eropa, dengan patung-patung angel.


Benar Saja Hanson menghempaskan tubuh Victoria ke kamarnya dan dadanya kembang kempis menatap putrinya, "je menyusahkan saja!" maki Hanson kepada putrinya.


Jason dan Dania berusaha menenangkan Hanson yang kepalang emosi karena tingkah ceroboh putrinya, dan dirinya akan memberikan hukuman agar putrinya ini jera.


"Je akan ik kurung di kamar ini dan jendela akan ik tralis agar je tak bisa kabur lagi! ik lakukan ini demi kebaikan je!" ujar Hanson lalu menyuruh beberapa orang kacung untuk membuat tralis jendela.


Sesudah selesai Victoria di tempatkan di ruangannya lalu Hanson mengunci pintunya dari luar meskipun sudah di cegah oleh istri dan putranya tapi dirinya melakukan ini demi kebaikan Victoria.


Tak lama kepala Victoria pening sampai dirinya tertidur di lantai dan menatap langit-langit kamar, sampai dirinya memejamkan mata tak sadarkan diri.


Dania melewati hutan yang gelap berlari tak tentu arah sampai akhirnya dirinya melihat ada secercah cahaya dan menembusnya sampai dirinya sadar dan terbangun di jam 8 pagi.


Dania menyadari ini di kamarnya dan menengok kesana kemari ternyata neneknya sudah tak ada, lalu Dania mendudukkan tubuhnya dan menatap ke sekeliling kamarnya.


Dirinya melihat kotak musik pemberian mendiang ibunya masih bertengger manis di nakas, dirinya menyesali perbuatannya karena menampar ibunya saat dirinya menjadi Victoria.


Entah karena kesal dan marah Dania tak sadar jika dirinya sudah melakukan itu, dirinya merasa khilaf karena rasa bersalahnya dirinya menjambak rambutnya frustasi.


#Bersambung