
Pagi ini Dania terduduk dan sudah sehat dirinya disuapi oleh sang nenek, tapi bibinya yang bernama Defani sudah berangkat untuk menuju Surabaya hanya dengan satu tujuan yakni bisnis proyek Apartemen.
Saat tengah di suapi bubur yang dari rumah sakit, tiba-tiba ada perawat datang untuk melepas infusnya. "Lepas infusnya dulu ya," ujar Perawat itu.
Dania hanya mengangguk dan hanya di jawab oleh neneknya, "iya suster."
"Suster kira-kira kapan cucu saya bisa pulang?" tanya nenek Dania, ibu dari mendiang Nadia Sabrina.
"Hari ii Bu, nanti tunggu ada perawat yang datang bawa kursi roda ya?" ucapnya.
"Baik terimakasih suster," ujar ibunya Dania di jawab sama-sama dengan begitu ramah oleh perawat itu.
Wajar ramah karena Dania adalah pasien VIP, dan Dania bersama neneknya hanya menunggu. Neneknya akan menginap selama seminggu di rumah menantunya untuk menjaga para cucunya yang dua diantaranya sedang sakit.
Neneknya berkemas barang-barangnya tak lama ada yang masuk ruangannya, hal yang membuat kaget dua wanita itu bukan perawat laki-laki yang membawa kursi rodanya melainkan Dokter Amir.
"Loh Nak Amir dimana perawatnya?" tanya neneknya Dania.
"Eyang," ujar Amir langsung salim lalu menjelaskan satu hal.
"Saya yang gantiin kebetulan tugas saya udah selesai, kalian mau pulang diantar ama siapa?" tanya Dokter Amir.
"Saya baru mau pesan Grab," jawab neneknya Dania.
"Ayo Dania naik kursi rodanya dan pulangnya saya anterin kebetulan saya mau bertemu Satria," ungkap Dokter Amir membuat Dania menggelengkan kepalanya.
"Udah gak usah repot-repot Nak Amir," ujarnya.
"Gak repot kok eyang," aku Dokter Amir.
Lalu Dania menaiki kursi roda di bantu Amir menuju lorong rumah sakit, para perawat wanita terlihat iri akan keberuntungan gadis berusia belia itu.
Tapi sepasang mata menatapnya dengan kesal pasalnya dirinya sudah menambatkan hatinya untuk Amir, tapi kenapa Amir lebih milih daun muda.
"Sial kenapa Amir lebih milih daun muda! apa spesialnya dia!" maki wanita dengan hijab.
"Dia anak jendral," jawab dokter laki-laki rekan kerjanya di rumah sakit ini.
"Lah saya juga anak Jendral!" jawabnya dengan kesal, tak mau terus terbakar lahar kecemburuan wanita itu masuk ruangannya.
*********
Di dalam mobil neneknya Dania banyak bercengkrama dengan Dokter Amir, "nak Amir sudah berapa lama kenal sama menantu dan cucu saya?" tanya neneknya Dania.
"Kalo sama Mayor Jendral kenal dari sejak ibu saya jadi Dokter di rumah sakit itu, tapi kalo Satria kenal sejak saya masuk pendidikan Akmil di Magelang," ujarnya sambil membenarkan kaca mobil untuk melihat wajah Dania yang terdiam pucat.
Neneknya Dania hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saat Amir terus menatap Dania, cucunya ini sangat beruntung belum lulus sekolah saja sudah mendapatkan jodoh.
"Nak Amir belum punya pacar?" tanya neneknya Dania membuat gadis sebelahnya yang berwajah pucat seketika menatap neneknya.
"Apaan sih nih nenek gua!" batin Dania yang tampak kesal karena tak enak hati, "belum." Amir menjawab singkat.
"Kenapa belum?" tanya neneknya Dania.
"Ya karena belum dapat jodoh aja eyang," jawabnya disertai cengiran.
'Nunggu cucumu lulus dulu, karena ikrar saya ya cucumu.' Amir bicara dalam hatinya, sebenarnya Amir mulai menyimpan rasa kepada Dania sejak awal bertemu di rumahnya Satria.
Mobil yang dikendarai Amir masuk di pekarangan asri kediaman keluarga kecil Rejaya bernaung, Nathan memilih membuat rumahnya nampak sejuk dengan di tumbuhi pohon.
Dan rumahnya minimalis tapi masih tingkat, tapi terdapat banyak kamar. Amir membuka pintu di bantu dua pembantu dan mang Asep membantu majikannya turun dari mobil.
Di dalam rumah juga sudah ada Mia menyambut kepulangan sahabatnya, dirinya tak menyangka sahabatnya mendapatkan musibah seperti ini.
"Dania! akhirnya lo pulang!" ujar Mia yang berlari lalu memeluk sahabatnya itu.
"Iya nih," jawab Dania dengan lemas.
Saat Dania mau masuk tiba-tiba sedikit jatuh karena kakinya kurang seimbang, Amir maju lalu membopong tubuh Dania dan kedua tangan Dania melingkar di leher Amir.
"Mari biar saya bawa kamu masuk," ucap Amir.
"Bang Amir udah gak usah aku bisa sendiri," keluh Dania yang protes.
Tapi Amir malah menuli 'kan telinganya mengabaikan Dania yang protes, baru sampai di sofa Amir baru menjatuhkan tubuh Dania.
"Ok saya mau masuk ke kamar Satria," ujar Amir berusaha menghilangkan rasa canggungnya.
"Dania ini gua buatin nasi bryani biar lu cepet sembuh, rasanya tawar tapi ini ada daging teriyakinya lo pasti suka." Mia menyuapi Dania sesuap demi sesuap.
"Yaudah sini gua bisa makan sendiri," ujar Dania.
"Ini," kata Mia memberikan piring dan sendok.
"Awas pelan-pelan nanti main lu makan aja mulut lu doer kaya di sengat ubur-ubur," ujar Mia membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.
Dania makan dengan lahapnya membuat ada suara orang depan pintu, "yaiyalah dia 'kan anak babu Saudi wajar jiwa memsaknya masih ada."
suara itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah sang empu, membuat Dania dan Mia menatap kesal saat melihat siapa yang datang.
"Kamu siapa?! bisa jaga sopan santun gak? di rumah ini ada aturannya!" ucap neneknya Dania dengan kesal, karena dirinya tak suka ada orang lain merendahkan yang dianggap rendah.
"Louis...lo ngapain kesini?" tanya Dania gelagapan karena kejadian semalam dirinya di jebak oleh Louis seolah diancam ingin dihabis dengan cara di bikin ilusi.
"Gua kesini mau jenguk calon istri," ujarnya.
"Tolong keluar karena disini tak ada laki-laki dan Dania mau istirahat," ujar neneknya Dania mengusir secara halus.
"Baik saya akan keluar tapi saya mau nitip buah ini," ujarnya.
Dania melihat buah itu tidak ada sihir, dirinya sudah asal tuduh dan berfikiran negatif soal Louis.
"Thankyou ouis," ujar Dania dengan suara parau.
Setelah kepergian Louis Mia segera membantu Dania ke kamar karena ingin membahas soal ujian untuk minggu besok, ya Dania dan Mia akan menghadapi ujian kelulusan.
Di kamar Satria dan Amir tengah bicara serius mengenai Sundari dan Annamarie, setelah di telisik lagi ada benang merah yang terhubung antara Louis Aljendro dengan Annamarie.
"Lah gua baru tahu," ujar Amir.
"Pantesan tuh si curut got ngebet banget ama adek lu, si Dania." Amir melanjutkan kalimatnya sambil terkekeh.
"Yaiyalah ibaratnya Victoria lahir si Hans juga lahir buat dapetin Victoria lagi," ujar Satria yang masih setia berbaring di kasurnya.
Kamar Satria sementara waktu pindah ke lantai bawah karena dirinya tak akan sanggung naik kelantai atas, dengan keadaan betisnya yang masih di jahit.
"Kemaren di rumah sakit tuh cabe kaleng sebelum dimasukin ke cincin akik gua nyamar jadi perawat," jelas Amir membuat Satria membulatkan kedua bola matanya.
"Loh kok bisa tuh Cabe kaleng exp 1000 abad nyamar di rumah sakit jadi perawat?" tanya Satria membuat Amir tertawa.
"Ya pasti ngejar darahnya Dania lah, wong daranya lu ama Dania aja langka."
Amir menatap sahabatnya, "udah jangan banyak gerak nanti setelah seminggu baru gua bisa lepas nih benangnya." Amir bicara sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
"ARGH! Sialan nih luka!" gerutu Satria yang muak dirinya juga mau masih bebas.
Amir ke rumah Rejaya untuk memfoto keadaan Satria untuk laporan tugasnya ke Jendral Hussen Siregar, "lu kayaknya kenapa sensi banget ama tuh bocil SMP?" tanya Amir yang dimaksud adalah Louis.
Satria menceritakan jika dimasa lalu dirinya dan reingkarnasi milik Louis memiliki hubungan yang tak menyenangkan, selalu bermusuhan. Hal itu membuat Amir hanya menganggukan kepalanya.
"Gua titip Dania nanti saat lu ditugaskan ke Bandung bareng bokap gua," pinta Satria kepada Amir.
Amir hanya mengangguk dengan tegas, 'ya gua jagainlah apalagi dari si garong nanti tiba-tiba calon bini gua abis aja di rauk ama si garong' batin Amir.
****************
Malam semakin pekat membuat Dania terlelap dirinya masih terjaga, ingin sekali memejamkan matanya tapi dirinya masih enggan karena ada banyak hal yang dipikirkan.
Dania menoleh ke sebelahnya dirinya melihat neneknya yang sudah terlelap di sampingnya, tapi dirinya masih enggan untuk tidur.
Dirinya merasa haus ada niat untuk mengambil air ke dapur, dengan pelan-pelan ia melangkah keluar kamar agar tak membangunkan neneknya. Dirinya berjalan menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur saat melewati sebuah kamar, matanya melihat kakak dan adiknya sedang tidur bersama.
Seulas senyum terukir di wajah Dania tatkala melihat kakak dan adiknya bersama, dirinya kembali menuju dapur. Segelas air putih mampu menghilangkan dahaganya, tak lama ada yang menepuk bahunya dirinya menoleh ke belakang.
Dania ingin berteriak tapi berhasil di bekap, dan setelah menenangkan dirinya sosok itu berhasil melepaskan bekapan dari mulutnya.
"Papa Hanson," ujar Dania.
#BERSAMBUNG