
Dania tersadar keringat bercucuran membasahi sprei yang di tidurkannya penuh dengan keringat, sampai akhirnya ia tersadar dan menoleh ke samping ia melihat sesosok hantu Belanda yang usianya 20 tahunan tersenyum ke arahanya lalu menghilang.
"Papa," ujarnya dengan suara lirih.
**Drett!! **
Drett!!
Suara dering ponsel di samping nakas membuatnya kaget ia mengecek pesan ternyata itu dari Mia sahabatnya, "ngapain nih anak nelepon gua jam segini." Dania yang merasa khawatir langsung mengangkatnya dan yang lebih mengherankan lagi suaranya bukan Mia tetapi Nyai Sundari.
"Dania Anindita Rejaya," ucapnya dengan suara berat.
"Aku Nyai Sundari jika kau ingin temanmu selamat datanglah ke gedung belakang sekolah," ujarnya.
Dania segera memakai jaketnya dan celana training adidasnya lalu menggunakan sepatu sandal membawa ponsel dan garam juga bawang putih di ranselnya, ia berjalan dengan menggunakan sepatu roda agar cepat sampai jam menunjukan pukul sembilan malam.
Di kamar Nathan Aditya Rejaya
Amir, Dan Nathan tengah memberikan pertolongan kepada Rendy yang tengah terbaring lemah. Darah manis atau tulang harum yang di dalam diri Rendy, membuatnya di sukai oleh lelembut.
Nathan tengah membuat perlindungan untuk putranya, karena Nathan sangat menyayangi putra satu-satunya ini. Pria itu beranggapan jika Satria dan Dania hanyalah reinkarnasi dari anak hantu Belanda, yang layak di beri kasih sayang hanya Rendy.
Meski di denyut nadi Dania dan Satria mengalir darah keluarga Rejaya tetapi tetap saja bagi Nathan itu semua tak berarti, Di kamar ini Nathan hanya fokus untuk menyembuhkan Rendy yang terbaring tanpa busana wajahnya pucat.
"Ini semua salah Dania!" maki Nathan dalam hatinya.
Dokter Amir ajudan pribadi Nathan sekaligus anak buahnya fokus mengobati Rendy, tetapi penerawangannya terus mengarah ke Dania yang membahayakan dirinya.
"Aku akan urus Rendy dulu, baru aku akan bersamamu." Dokter Amir bicara dalam hatinya, entahlah dalam hatinya ia terus memikirkan Dania.
Amir adalah Dokter Tentara untuk angkatan Darat, tapi dirinya sudah menyimpan rasa kepada Dania sejak gadis itu berumur 11 tahun.
Memang terdengar seperti pedofil tapi ia bertemu dengan gadis itu saat usianya sedang pelatihan di Akmil Magelang, dan selesai mengambil jurusan kedokteran.
Amir mengobati Rendy dengan bacaan doa agar tubuh Rendy menghangat, sedangkan Nathan menyiapkan baskom air.
Dari perut di tempel keris lalu menjalan ke mulut dan Rendy membuka matanya, mulutnya langsung muntah di atas baskom.
Di baskom keluar bukan muntahan isi perut melainkan tanah dengan belatung, mulut Rendy penuh dengan darah lalu Nathan mengelapnya dengan tisu basah.
Aura negatif dalam diri Rendy sudah di keluarkan, Nathan dan Amir memakainya baju hangat dan menidurkan tubuh Rendy di kasur yang king size lalu menyelimutinya.
"Komandan saya menghawatirkan Dania, dia ada di belakang sekolah sekarang!" ujar Amir dengan panik.
"Apa!! anak itu menyusahkan saja!! apa dia tak tahu adiknya sedang dalam keadaan seperti ini!!" maki Nathan sambil keluar menuju mobil di ikuti oleh Amir.
Di gudang belakang sekolah
"Mia Lo dimana?" panggil Dania masuk ke gudang itu.
Tak lama terdengar suara gamelan musik yang biasa dimainkan saat ada acara kesenian sekolah, Dania mengarahkan senternya ke asal suara itu.
"Mia! Nyai tolong lepaskan teman saya_hiks," Isak Dania yang ketakutan lantaran energinya cukup kuat bisa jadi gadis itu terpental.
"Kowe nang kene, Cahayu." Dania menoleh ke belakang ia melihat Juminten bicara matanya memancarkan kilat dendam dan amarah.
Tak lama di belakang balik tirai luar jendela terdengar suara mendiang ibunya Nadia, "Nak kamu disini! Tolong mama!" panggil Nadia yang seolah itu adalah ilusi.
"Mama!!" jerit Dania yang panik.
"Iblis lu apain nyokap gua!!" marah Dania, Juminten hanya tertawa.
Suara Sundari di belakang aroma semerbak melati mulai tercium, Dania mulai keringat dingin ia memegang senternya kuat-kuat.
Air mata mulai bercucuran, energinya sangat kuat ia bisa mati jika dalam keadaan seperti ini. "A-apa salah nyokap sama leluhur gua?" tanya Dania dengan mulut bergetar ketakutan.
Nyai Sundari yang memiliki dendam kesumat kepada Nadia karena telah menghancurkan leburkan kadipaten Anggalarang, mencekik tubuh Dania lalu mengakatnya dengan cakar dan kuku seperti reptil.
Dania menatap ke bawah mata Nyai Sundari seperti reptil, lalu tubuh Dania di hempaskan sampai mengenai meja kayu lalu terbelah dua.
"Argh!" ringis Dania memegang kakinya yang berdarah ada potongan kayu yang tertancap di kakinya, "Victoria Alexandria Van Buthjer putri Hanson Van Buthjer kami akan membayar atas apa yang dilakukan ayahmu." Nyai Sundari mendekati lalu menarik Dania, tubuh gadis itu terangkat dengan sebuah sihir wajahnya mengeluarkan linangan air mata.
Sampai satu kata haru terucap dari mulutnya yang tak berdaya, "papa Hanson tolong aku." Dania memejamkan matanya dan hilang kesadaran.
Tubuhnya terlepas ia berdiri di taman yang indah dengan bunga menatap seorang wanita dengan gaun yang cantik, "mama!" panggilnya mendekati ibunya.
Dania memeluk ibunya dengan sangat erat seolah ada rindu yang tersalurkan, "Dania apa kabar sayang?" tanya ibunya.
Dania hanya menangis pilu saat bisa kembali dengan ibunya, "mama apa ini surga?" tanya Dania menatap ibunya dengan linangan air mata.
"Aku kesini untuk menyelamatkanmu," ucapnya.
Nyai Juminten yang dendam kepada Puspita langsung menancapkan paku di gamelan ke pergelangan tangan kanan Nadia, lali Nyai Sundari mendekat dan menyayat leher Dania dengan jarinya yang tajam seperti cakar buaya.
"Ini untuk kesaktian," ucapnya.
"Kamu siluman bisa dengan itu tapi aku adalah jiwa iblis tak membutuhkan itu. Dendam telah usai, mata di balas mata."
Tak lama Dokter Amir menggedor pintu gudang sekolah datang bersama Mia, "Dania!!" jerit Dokter Amir.
Dania terbaring dengan Darah di kaki ya yang tertancap serpihan kayu, dan leher juga pergelangannya. Mereka sengaja membiarkan Dania sekarat, tetapi samar-samar Dania mendengar seseorang menuturkan dalam bahasa Belanda.
"Jij duivelse teef!! Hoe durf je mijn dougther kwaad te doen!!" ucap Hanson dalam bahasa Belanda.
"P-pa-papa," lirih Dania menatap langit-langit hanya mendengar suara gebrakan marah Hanson.
Mia dengan maung yang merasuki tubuhnya berhasil mendobrak pintu, ia terkejut dengan Dokter Amir.
"Mia kamu ke Dania saya ada urusan sebentar," perintah Dokter Amir.
Mia hanya mengangguk. "Astaghfirullah Dania!" tutur Mia dengan terkejut, Mia hanya menangis karena melihat banyak darah bercucuran tubuh Dania seolah tergenang oleh Darah.
"Dania Lo harus kuat, lo sahabat gua satu-satunya_hiks_hiks." Mia menangis di samping Dania.
Dokter Amir kembali bersama Satria, kakaknya Dania. "Letnan telepon rumah sakit, biar saya cabuti dulu beling dan serpihan kayunya," ujarnya.
Satria sudah menelepon rumah sakit, ia menyusul keluar ada Hanson dan pasukannya.
"Papa Hanson!" kata Satria.
"Oh Di gembel ini!" maki Satria.
Mereka berdua berusaha mengalahkan siluman dan iblis itu meski dengan segala daya dan upaya, salah satu pengawal milik Hanson berhasil meringkus Nyai Sundari sesosok siluman.
Satria yang tak terima dengan kejadian yang menimpa Dania langsung memenggal kepala Nyai Sundari, lalu di persembahkan kepada Hanson.
Jari tangan kanannya bisa di gunakan untuk pedang, ia pernah di ajari oleh salah seorang kiai yang berada di Jombang.
Ambulance datang mengevakuasi Dania untuk di bawa ke rumah sakit, Mia masih setia menemani Dania sampai rumah sakit.
"Dania gua di samping lu, karena lu sahabat gua yang mau nerima gua." Mia menangis di Sampingnya Dania yang tak sadarkan diri.