
Mia dan Dania berlari ke arah pintu tapi malah di kunci, “kok di kunci!” ujar Dania sambil berusaha membuka pintu yang mengarah ke ruang tamu. “Lu jangan becanda!!” ucap Mia yang kesal.
“Nih coba kalo lu kagak percaya!!” maki Dania.
Mia mencoba membuka pintu tapi tidak bisa, “kunci biasanya lu taro mana?” tanya Mia kepada sahabatnya. “Bi Jum biasanya naro di dapur deket gantungan kunci!” ujarnya.
“Dih gua takut ke dapur takut ada sikopatnya!” aku Mia.
“Ya mau gimana lagi! Lu mau endingnya ke bunuh ama tuh sikopat!!” maki Dania yang ketakutan.
Dania heran melihat tingkah sahabatnya menunjuk tangannya ke belakang. “Lu ngapa?!” tanya Dania kepada Mia, “di-dibelakang lu!!” tunjuknya sambil ketakutan. Dania memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, saat menoleh ia melihat jubah hitam dengan memakai topeng mengangkat pisau.
“AAAAAAAAAAA!!!!” teriak kedua gadis berumur 15 tahun itu. Mia langsung menyalakan ponselnya lalu ia menarik tangan Dania menuju dapur, tapi selangkah mereka menuju dapur ada sikopat yang berjubah yang sama dengan jubah hitam dan topeng tengkorak.
“Dih sikopatnya ada dua!!” ucap Dania dengan panik.
Kedua gadis itu lalu meringkuk terduduk sambil berpelukan. Mereka berdua pasrah apa yang terjadi pada diri mereka, Dania dengan berani menendang area sensitive salah satunya lalu menarik Mia lari melihat satunya membantu temannya.
Tidak ada Satria atau Nathan karena Satria mengaku mau keluar bersama teman-temannya sedangkan Bi Jum sedang mengantar makanan untuk tetangga yang sepertinya belum kembali dari beberapa menit yang lalu.
Dania sampai di dapur ia menyuruh Mia bersembunyi di bawah meja samping kulkas dengan taplak, Mia membekap mulut Dania sambil memeluknya, tak lama dua orang yang memakai topeng tengkorak itu datang mencari keberadaan keduanya.
“Mia gua takut kagak bakal selamet.” Dania bicara membuat Mia semakin ketakutan.
“Eh jangan ngomong macem-macem lagi kaya gini juga mau lu Louis jadi duda,” ujar Mia.
“Keadaan kaya gini masih sempet lu joke!” ujar Dania kepada Mia.
Keributan kedua gadis berusia 15 tahun itu membuat mereka ketahuan saat panci dan penggorengan jatuh membuat kedua orang sambil memegang pisau itu mengalihkan perhatian mereka.
Semakin dekat dan dekat Mia dan Dania saling berpelukan saat tangan meraih panci dan penggorengan tersebut, tapi beruntung mereka selamat kedua orang itu hanya merapikan panci dan penggorengan itu.
Tapi tanpa sengaja salah satu kaki dari dua orang itu menyenggol atau tanpa sengaja memukul Dania membuat gadis itu dengan refleks mengatakan, Aduh! Dania langsung membekap mulutnya kuat-kuat.
“Tolol banget sih gua!” batin Dania bicara.
Salah satu tangan berusaha membuka kain yang menutupi bawah meja tersebut, dan mereka ketahuan lalu kain itu di lempar ke sembarang arah. “AAAAAAAAAAAA!!” Mia dan Dania sama-sama berteriak ketakutan.
Tak lama Bi Jum pulang karena wanita berusia paruh baya itu membawa kunci cadangan. “Loh kok lampunya mati, coba saya cek saklar mungkin turun.” Bi Jum menyalakan saklar lampu tapi ia kaget dan langsung masuk rumah saat mendengar teriakan majikannya.
“Astagfirullah Non Dania sama Non Mia kenapa??” ujar Bi Jum dengan panik terburu-buru masuk rumah.
Bi Jumi langsung masuk rumah saat di dapur Bi Jum juga ikut berteriak saat melihat dua orang mengangkat pisau memakai topeng dan jubah hitam.
“SIAPA KALIAN!!” tanya Bi Jum sambil membawa benda apapun yakni pentungan agar bisa melawan.
“Ini saya Bi,” ujarnya.
Dania dan Mia saling menatap saat membuka topeng itu adalah Satria dan Rizki teman kesatuan Satria, rumornya dulu saat pasukan perdamaian atau pasukan Garuda Satria dan Rizki selalu bersama bahkan di tugaskan dan di pulangkan bersama.
“SOMPRET LU BERDUA YA!!” maki Dania mendekati keduanya sambil berkacak pinggang, “tahu gak sih kita tuh hampir kena serangan jantung!!” tambah Mia mendekat sambil menunjuk keduanya.
Rizki dan Satria langsung tertawa dan puas mengerjai dua gadis itu. “Dasar lu minus akhlak lu tahu gak kita lagi belajar tadi di atas!! Mentang-mentang kagak ada papa lu semena-mena ya!!” marah Dania kepada keduanya yang masih tertawa.
“Hahahahaha, kita puas ngerjain kau berdua!” ujar Rizki dengan logat sebrang pulau Jawa.
“Konsepnya apa sih kaya gitu!!” ujar Mia dengan kesal tak peduli keduanya adalah Perwira karena keduanya kesal bukan main habis di kerjain.
“Kita gabut,” kata Satria mewakili Rizki.
Dania dan Mia sangat marah lantaran Satria dan temannya mengerjainya, Bi Jumi mendekat lalu menaruh pentungannya. “Kalian berdua ini,” ucap Bi Jum.
“Maaf Bi, tolong jangan bilangin papa ya.” Satria memohon pada Bi Jumi.
Tapi saat mereka semua saling bicara tiba-tiba lampu rumah mati nyala sendiri membuat semuanya terdiam, “Bang jangan lagi apa!!” maki Dania sambil menunjuk.
“Gua takut bukan karena setan!! Gua takut di bunuh!!” maki Dania. “Mana lu berdua bawa pisau lagi,” tambahnya.
“Sumpah demi tuhan gua kagak bikin lagi,” aku Satria.
“Iya lagipula ini sudah selesai pula,” lanjut Rizki.
“Kita kagak tahu!” ujarnya.
“Rendy kali,” sahut Rizki.
“Eh kumis onta dari tadi adek gua tidur malah pules banget!” ujar Dania.
“Lagian kalo di pikir secara logika Rendy mana sampai but mati nyalain saklar listrik Bang,” lanjut Mia berpikir secara logika.
“Lah terus siapa?” tanya Rizki.
Tak lama Bi Jumi masuk lewat pintu geser yang terbuat dari kaca yang mengarah ke kolam renang, “loh Bi Jum gimana?” tanya Mia mewakili semuanya. Dania dan Satria diam terpaku saat melihat sesosok memasuki raga Bi Jumi.
“Bi Jumi!” panggil Mia sekali lagi sambil memiringkan kepalanya dengan heran.
Mia mendekati Bi Jumi lalu menyentuh tangannya. Hal aneh yang di rasakan Mia saat menyentuh tangan Bi Jumi rasanya sangat dingin seperti es, “Mia jangan!” teriak Satria lalu Mia terdiam sambil menatap heran Bi Jumi.
“Emang kenapa?” tanya Mia heran sambil mengerutkan keningnya.
Tak lama mata Bi Jumi melotot dan energinya semakin kuat ia melepaskan tangannya dan membuat tubuh Mia ke hempas ke tembok, membuat Satria berlari menyelamatkan sahabat adiknya di susul Dania.
Roh yang merasuki Bi Jum mengangkat tangannya ke atas membuat semua benda yang ada di dapur melayang terangkat ke atas, “Bang gua biar bawa Mia ke dalam lu urus Bi Jum.” Satria mengangguk lalu Dania membawa Mia ke kamar.
Mia dan Dania tubuhnya terseret kembali ke dapur karena roh yang merasuki tubuh Bi Jumi.
“Kalian berdua keturunan Puspasari!! Kalian berhak membayar kejadian lalu leluhur kalian,” tunjuknya kepada Dania dan Satria.
Tangan Bi Jumi mengarah ke dalam rak lemari yang berisi berbagai pisau dapur dan piring-piring kaca, lalu membukanya dan dengan kekuatan gaibnya mengarahkannya ke arah Dania dan Satria.
“Awas!!” teriak Satria menyuruh semuanya menunduk.
Pisau-pisau dapur itu menancap di tembok sedangkan piring-piring yang dari kaca itu pecah, menjadi pecahan beling, “aduh!” keluh Mia melihat sikut tangannya berdarah.
“Astagfirullah Mia!!” ucap Dania.
Tiba-tiba Satria menyuruh Rizki membawa Mia keluar dari dapur, Rizki mengangguk karena ia takut juga, Mia di bawa ke ruang tamu dan di obati oleh Rizki kepada Mia. “Aduh Bang pelan-pelan,” ujar Mia.
“Adek sekolah dimana?” tanya Rizki.
“SMP 13, Bang.”
**********************************
Di dapur Dania dan Satria menghadapi roh yang merasuki Bi Jum, Dania berdoa dan memohon. Akhirnya membuat roh jahat yang merasuki Bi Jumi kepanasan. “Siapa kamu?” tanya Satria.
“Saya Juminten!” jawabnya sambil di kunci oleh Dania.
“Apa tujuan kamu ingin menyakiti saya dan adik saya?!” tanyanya.
“Saya dendam kepada Puspasari!” ujarnya.
Satria dan Dania saling menatap satu sama lain mereka heran karena sang ibu tak pernah cerita tentang ini, “sekarang kamu keluar dari tubuh wanita ini!” perintah Satria sambil memegang atas kepala Bi Jumi.
“Satu lagi ada rahasia yang tersembunyi wanita ini sudah bersekutu dengan iblis untuk mendapatkan ayah kalian!” jelasnya.
Hal itu membuat Satria dan Dania saling menatap satu sama lain. “Bang emang bener ya?” tanya Dania.
“Yaudah coba lu cek dulu,” perintah Satria.
Dania hanya mengangguk, gadis itu berlari ke kamar Bi Jumi ia mengeledah semua isi tasnya dan juga lemari. Dania heran lantaran ada suatu benda yang terbalut kain merah gadis itu segera keluar saat menuju dapur keadaan Bi Jum sudah lemas antara sadar tak sadar.
Satria memboyongnya menuju ruang tamu tubuhnya di tidurkan di sofa, Dania membuka benda yang terbalut kain itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat ada sebuah mustika selama ini benar Bi Jum berusaha memelet ayahnya.
Satria dan Dania tak menyangka selama ini Bi Jumi berusaha memelet ayahnya dengan menggunakan mustika dan selendang pemikat, keduanya bahkan sudah menganggap Bi Jumi bagai ibu tapi ini yang dia lakukan.
“Ini ‘kan mustika penari khusus untuk pemikat,” ujar Satria.
“Maksudnya ini bisa memikat siapa aja, Bang.” Dania bicara pada kakaknya lalu ia menyentuh mustika itu, Dania tersenyum ia malah menyuruh Mia mencobanya kepada Satria.