Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Bermasalah Dengan Louis


Di rumah Rendy tengah memilih jadwal pelajaran untuk besok dengan di temani dua asisten rumah tangga baru, tapi bocah yang hampir berusia 10 tahun itu harus biasa karena setelah lulus nanti ayahnya berencana memasukannya ke sekolah Taruna.


Saat tengah mengerjakan PR dari sekolahnya tiba-tiba ayahnya pulang memapah kakaknya yakni Satria dengan dibantu Mang Asep menuju ke kamar bawah karena untuk menaiki tangga kakinya agak sulit.


"Loh Bang Satria?! Papa abang kenapa?" tanya Rendy berlari ke bawah menghawatirkan kakaknya, "abang kamu terluka saat tugas! udah kamu ke kamar belajar aja besok kamu berangkat di anter ama supir ya soalnya papa tiga hari agak sibuk."


Nathan menjelaskan kepada putranya lalu hanya dijawab anggukan oleh putranya, dan Rendy hanya diam mematung di luar kamar yang melihat abangnya tengah kesakitan.


Rendy hanya menggedikan bahunya acuh lalu berjalan ke kamar atas, tak lama saat tengah merapikan bukunya ayahnya ke kamarnya lalu memeluknya.


"Papa berangkat dulu ya," ujarnya lalu pergi menuju tempat dinasnya.


Rendy yang malang di usianya yang masih anak-anak harus ditinggal ibunya selamanya dan pikirannya dipaksa harus dewasa, Rendy juga harus mengimbangi kedua kakaknya Satria tipe kakak yang kadang bijak, ngeselin, dan tipe membuat adem suasana.


Berbeda dengan kakaknya yang bernama Dania tipenya cenderung sembrono, bicaranya ceplas-ceplos, dan jika marah sukar mengendalikan diri.


Tapi meski begit Dania juga sangat baik bahkan diantara Satria dan Dania, hanya Dania lah yang memiliki perhatian penuh kepadanya.


Hal itu di buktikan dengan saat dirinya menghilang di makam sang ibu, hanya Dania juga yang paling mengkhawatirkannya dan dengan rela Dania terlambat ke sekolah hanya untuk membelikan seragam sekolah dan perlengkapan sekolah untu Rendy.


"Gua kangen sama lu kak, kagak ada lu kagak ada yang bisa ngajarin gua apalagi merhatiin gua." Rendy menyeka air matanya mengingat kakaknya yang penuh perhatian itu tengah sakit.


"Semoga lu cepet sembuh," batin Rendy sambil merapikan buku-bukunya.


Rendy tidur di kasurnya tak lama dari kamar atas milik Satria yang tak di tempati keris itu pindah ke kamar Rendy hanya untuk melindungi karena Satria sedang tak berdaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit Amir sedang melepas pakaian dinas tentaranya, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan mencatat pasien yang mengalami cedera seperti kecelakaan dan patah tulang.


Amir saat lulus sekolah menengah atas langsung masuk Akmil dan keluar memiliki pangkat menjadi letnan dua, dirinya sebenarnya ingin masuk kuliah jadi ia mendaftar menjadi dokter.


Kebanyakan tentara dan polisi biasanya masuk kuliah jurusan hukum berbeda dengan Amir yang memilih mengambil jurusan kedokteran, tapi dirinya yang cerdas mampu menyelesaikan pendidikan selama 4 tahun.


Usianya memang sudah cukup untuk menikah tapi dirinya ingin menikahi Dania, Amir sendiri bingung harus bagaimana mengutarakan itikad baiknya kepada atasannya itu.


Pasalnya dirinya masuk Akmil karena Nathan dan bekerja di rumah sakit ini juga rekomendasi dari Nathan, jujur Amir menjadi takut jika mendapatkan penolakan dari Nathan pasalnya Dania juga masih muda dan harus menikmati masa mudanya dulu.


Saat tengah mendata tiba-tiba lampu ruangannya berkedip-kedip, Amir langsung terbuyar dari lamunannya karena hal ini membuatnya takut.


"Hey kamu...hihihi," panggilnya dengan suara serak yang mengerikan.


Amir tak melihat apapun tapi dirinya bisa melihat di penerawangannya posisinya ada di atas kepalanya, tapi dirinya tak mau ambil pusing karena jika takut malah makin jadi.


Amir masih setia mendata dengan menggunakan jas dokternya, Saat tengah menganti pulpen dengan yang baru tiba-tiba ada rambut menjuntai dari langit-langit ruangannya.


Rambut itu warna hitam, lalu tubuh berbentuk manusia dengan gosong seperti terbakar jatuh di atas meja membuat Amir terjungkal ke belakang, tapi Amir masih tenang dirinya hanya mundur ke tembok.


Tapi mahkluk itu merambat turun seperti laba-laba, mulai dari kaki kananya diikuti tangan kiri dulu dan seterusnya, Amir hanya memejamkan mata dirinya ketakutan saat wajahnya mahkluk itu tepat di depannya.


Wajahnya seperti setengah gosong, matanya sebelah kanan bolong mengeluarkan banyak belatung, dan hidung nya setengah terbakar seperti tulang yang dipanggang, Amir bisa merasakan jika mahkluk ini adalah korban tragedi tahun 1998.


Saat itu kerusuhan terjadi dan pembakaran dimana-mana.


Tak lama mahkluk korban kebakaran itu hilang dan lampu yang berkedip-kedip mulai kembali normal, Amir hanya menghembuskan nafas lega karena mahkluk itu sudah pergi.


Dirinya kembali ke kursi dan fokus mendata tapi bayangan wajah Dania terus membayanginya, dirinya berharap jika Dania ikut pindah ke Bandung dirinya juga mau ikut.


Karena di kesatuannya nanti belum ada Dokter tentara yang usianya muda hanya ada dokter tentara yang sudah lanjut usia itu pun sebentar lagi pensiun, saat sudah selesai dirinya ingin keluar sebentar.


Kakinya berjalan dan berhenti di ruangan VIP yang ditempati anak atasannya, Amir hanya bisa melihatnya dari pintu yang ada kacanya dirinya tersenyum lalu pergi setelah mengetahui Dania aman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dania masih terlelap dalam mimpi dirinya dijaga bersama nenek dan bibinya, dirinya seolah dibuat ilusi ke alam lain. Dania melihat dirinya keluar dari tubuhnya dan melihat sekeliling, matanya melihat ada neneknya sedang tidur di sofa dan tantenya sedang sibuk dengan laptopnya.


Matanya melihat ke atas lemari ada anak kecil jongkok dengan rambut yang utuh, tapi tanpa busana hanya meringkuk seolah tak tahu arah dan tujuan.


Dania merasa harus pergi karena ada suatu hal yang harus di selesaikan, saat dirinya keluar dari kamarnya ia melihat berbagai jenis sosok yang mengerikan di setiap lorong rumah sakit.


Tapi dirinya berusaha acuh, saat melewati sosok-sosok mengerikan itu. Sampai dirinya melihat ada dua kuntilanak yang tengah menyisir rambutnya yang berada di bangku ruang tunggu.


Kuntilanak itu hanya menatap Dania dengan wajah mengerikan, matanya tetap melotot sambil tertawa dan giginya bertaring.


Dania mempercepat langkahnya sampai ia melihat dokter Amir sedang membeli wedang jahe depan rumah sakit, Dania hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Kakinya terus melangkah sampai Dania terkejut dirinya sudah di suatu tempat yang gelap tapi sama sekali tak ada orang, di sebuah taman dengan patung malaikat dan bunga mirip seperti taman khas rancangan Eropa selayaknya abad pertengahan.


Dirinya menatap seseorang yang mendekat dari jauh, "Louis?" ucap Dania yang melihat teman sekelasnya mendekat lalu menarik tangan Dania.


Louis dengan kasar menarik tangan Dania sampai tengah taman lalu menampar wajahnya.


PLAK!!


"Lu kemanain nyokap gua?!" maki Louis dengan tatapan marah, Dania hanya menggelengkan kepala sambil menahan air matanya.


Tak lupa ia memegang pipinya yang ditampar Louis barusan, "a-apa maksud lo!" balas Dania yang marah tapi matanya berkaca-kaca.


"Lu gak usah munafik! lu kan yang nahan Mama Marie?" tuduh Louis.


"Emang lu ada bukti? jangan nuduh sembarangan!" balas Dania dengan sengit karena dirinya juga tidak terima saat Louis menuduhnya secara tiba-tiba, "Marie gua kagak tahu siapa nyokap lu itu!" maki Dania yang tak terima.


"Alah! lu gak usah ngeles!! gua tahu semua!! Mama Marie udah ngasih tahu tentang lu yang mau ambil darah lu!" tunjuk Louis.


Saat ingin angkat bicara tiba-tiba Satria juga masuk ke dalam ilusi yang sama lalu meninju wajah Louis.


Bugh!!


"apa maksud lo nuduh adek gua kaya gitu!" ujarnya dengan melotot marah, Louis hanya memegang hidungnya yang abis di bogem oleh Satria.


"Heh asal lo tahu nyokap lu si Cabe songong udah di kurung! bukan adek gua tapi ama si Jendral Siregar," jelas Satria membuat Louis diam seribu kata.


"Dan kasih tahu sama dukun andalan lu! stop ganggu hidup adek gua! stop ganggu hidup Mia! karena lu gak lebih dari begundal sampah masyarakat," ujar Satria dengan sarkatis.


Satria memeluk adiknya lalu melihat Louis perlahan menghilang, "gila sih tuh orang! cringe banget tahu!" ujar Satria.


"Bang udah ayo kita balik sekarang," ajak Dania saat ingin berbalik tiba-tiba ada sosok wanita Belanda yang tersenyum sorot matanya layu tapi menyiratkan aura kebencian.


Dania dan Satria yang tak merasa kenal malah membalas senyum, lalu pergi menuju tubuh mereka masing-masing.


BERSAMBUNG