Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Ikatan Cinta Ayah Dan Anak Perempuan


Dania perlahan menatap ke depan dirinya terkejut saat melihat sesuatu, di kegelapan di balik jeruji penjara seperti era revolusi Perancis keluarlah AnnaMarie.


Ya AnnaMarie yang sudah di kurung lewat batu akik milik Dokter Amir dan di kubur dibelakang Masjid. "DIA NYOKAP GUA!!" bentak Louis tepat di hadapan wajah Dania, gadis itu hanya diam sambil mengeluarkan air mata.


"Je adalah Victoria bukan?" ujar Annamarie dengan tudung dan tangannya memegang lilin, Dania lalu bicara.


"Apa mau kalian sebenarnya?" tanya Dania kepada AnnaMarie dan Louis.


Louis langsung menarik tangan Dania dan wajah mereka berhadapan, "gua udah ngomong apa mau gua!!" ujar Louis yang masih dalam tubuh Hans.


"LEPASIN NYOKAP GUA!!" ujarnya.


"Gua gak tahu siapa yang ngurung," aku Dania kepada Louis dan Annamarie.


"Lepasin Nyokap gua atau lu gua teror kaya gini mulu setiap malem!" ancam Louis.


Dania dalam hatinya mulai berusaha mengeluarkan keberanian, memejamkan matanya lalu dirinya melihat ke samping dekat berseraknya barang-barang Eropa klasik ada tongkat.


Dania hanya mundur dan meringkuk dipojokan, "lo mau kem---" belum sempat Louis menyelesaikan kalimatnya Dania langsung mengambil tongkat itu dan memukulkannya kepada Louis.


BUGH!!!


BUGH!!!


BUGH!!!


Dania juga tampa ampun memukul Louis saat sedang lengah, sampai Louis terkapar dan meminta ampun.


"Ampun gua nyerah," ujar Louis.


Tapi Dania yang sudah muak dan dendam malah memukul Louis dengan membabi buta, Annamarie juga berteriak dari dalam jeruji besi.


"Jangan pukul anak ik," cegahnya sambil berteriak.


Tapi Dania terus memukul Louis sampai akhirnya Louis tak sadarkan diri dan tiba-tiba saja ilusi itu menghilang dan Dania kembali ke lorong waktu, dirinya harus bertemu Hanson karena ada hal yang harus ia bicarakan dengan ayahnya itu.


*****************


Nathan malam ini tengah bertugas melatih para prajurit dan membuat strategi untuk prajurit yang akan di kirim ke Papua untuk aksi perdamaian, Nathan belakangan ini amat sibuk besok ia akan ke Bogor untuk mengawal beberapa bawahan menjaga Istana negara.


Mungkin antara 5 sampai 6 hari dirinya tak akan pulang, ada rasa khawatir sebagai seorang ayah apalagi yang dirinya khawatirkan kalo bukan anak-anaknya.


Satria dan Dania sedang sakit dan putranya yang bungsu belum bisa merawat diri, dirinya akan serahkan tugas antar jemput Rendy kepada Mang Asep.


Seorang pria yang berusia senja tengah sibuk membaca berkas dengan kacamatanya, tak lama ada anak buahnya yang melapor.


"Lapor Jendral," ucapnya membuat Nathan menoleh.


"Ada apa Letnan?" tanya Nathan.


"Siap ada tugas dari pusat katanya untuk tugas ke Bogor besok sudah di Istana negara, dan abis dari istana negara Batalyon Armed 7/105 GS ingin Jendral dan saya segera datang untuk bicara soal kemiliteran."


Nathan yang mendengar itu langsung lemas dirinya semakin cemas akan anak-anaknya, tapi karena dirinya harus profesional sebagai abdi negara ia menjalankan tanggung jawab itu secara ikhlas.


"Baik saya akan laksanakan dan atur, kamu boleh keluar dulu dan lanjut latih prajurit saya akan mengumpulkan laporan untuk saya serahkan ke Istana negara besok."


Nathan bicara dengan tegas dan profesional, "siap Jendral." Letnan yang menjadi junior Satria keluar ruangan Nathan.


Nathan Aditya Rejaya hanya bisa menghembuskan nafas lelah lalu segera mengumpulkan laporannya, saat tengah menyiapkan semuanya tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.


"Letnan Suyadi saya sudah bilang, nanti saya kesana! saya juga harus mengumpulkan laporan!" tegas Nathan yang merasa terganggu mengira bawahannya yang menepuk-nepuk bahunya.


"Dan kenapa kamu lancang sekali masuk tidak mengetuk pintu atau mem----" kalimat Nathan terputus tatkala saat berbalik arah bukan bawahannya yang ia lihat melainkan sosok berkepala kambing bertubuh manusia, Nathan menelan ludahnya.


Dirinya juga memiliki kemampuan indigo sama seperti mendiang istri dan ketiga anaknya, semua jenis mahkluk sudah ia rasakan dan lihat tapi dirinya amat tak kuat apalagi tahan dengan energi mahkluk satu ini.


Aromanya semerbak seperti darah, matanya memperhatikan dari atas sampai bawah. Berkepala kambing badannya seperti manusia dengan memakai jubah di tangannya membawa tongkat dengan lambang tengkorak berhias bulan sabit.


Dania tangannya di tarik oleh Louis bahkan di tampar, saat tersadar mahkluk itu sudah pergi. Mendapatkan penglihatan itu Nathan langsung semakin mencemaskan putrinya.


Entah kapan Nathan begitu peduli pada Dania dan Satria, dulunya dirinya mengaggap kedua anaknya itu hanya anak dari orang lain yakni hantu Belanda. Tapi setelah Dania perlahan tahu tentang jati dirinya rasa sayang ayah kepada anak perempuannya perlahan mulai tumbuh di hati Nathan.


"Astagfirullah!" ujar Nathan yang memegang dada seolah menghawatirkan keadaannya Dania, "Anakku Dania." Sampai seorang dengan kemben dan dua buah perhiasan di lengan kanan dan kirinya juga mahkota mengingatkan Nathan.


"Kamu tenang aja Gerr, anakmu akan baik-baik saja karena aku selaku leluhurnya selalu melindunginya." Dia adalah leluhur dari Nathan yang selalu melindungi cucu perempuan dari keluarga Rejaya, Nathan menghembuskan nafas lega karena putrinya aman.


Dirinya melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, tapi berbagai pertanyaan mulai timbul siapa sosok mahkluk yang berwujud kambing berbadan manusia tadi.


Tanpa mau memikirkan hal lalu Nathan segera melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan laporan untuk ia serahkan besok ke wakil menteri pertahanan mengenai beberapa laporan.


*******************


Di rumah mewah yang menjulang tinggi dengan pilar khas eropa dan halaman yang luas, di dalamnya terdapat beberapa barang antik yang di dapat dari lelang tentu harganya tidaklah main-main.


Di rumah itu nampak sepi karena orang tua dari pria remaja berusia 15 tahun itu sedang ke Manchester untuk urusan bisnis, dirinya di sebuah ruangan sedang bersama sepupunya dari Bogor yang juga Indigo.


"Cuy gadis inceran lu cantik juga ya," ujar sepupunya yang membantu Louis untuk memelet Dania agar menjadi jatuh cinta.


"Awas aja lu naksir gua tumbuk lu!" ancam Louis kepada sepupunya.


"Kagak elah, lagian mana berani gua lamar anak Jendral duit gua kagak cukup buat mahar."


Louis hanya menggelengkan kepala tanda tersenyum, "eh bandot! BTW lu buat ilusi itu gagal maning!" eluh Lois sambil makan keju.


"'Ya 'kan gua udah berusaha rusa kutub," balas sepupunya Louis dari pihak ibunya yang berasal dari Bogor.


"Kagak guna lu!" makinya.


"Ya terus apa rencana lu?" jeda "jangan sampai lu lakuin itu?!" ujarnya dengan kesal, karena Louis ini selain ambisius juga tipe pemaksa.


"Ya kagak ada pilihan lain, gua mau berbisnis saat lulus SMP 'kan lumayan sekolah sambil bisnis."


"Ya tapi kagak gitu juga caranya wahai rawon daging kurban!" ujar sepupunya Louis bernama Aksa.


"Eh Aksa, lu lulus sekolah lu timbang kerja di perusahaan gua." Louis bicara sambil menyalakan rokoknya.


"Apalagi nanti dapet anak indigo juga dari emaknya, makin untung bisnis gua...," ucap Louis yang bicara santai selayaknya elite global yang berusaha merencanakan sesuatu setiap waktu.


Tak lama gorden kamar beterbangan munculah sosok peliharaan Aksa, "tuan!" ujarnya.


"Kamu udah melaksanakan apa yang saya perintahkan?!" tanyanya.


Sosok berwujud manusia berkepala domba itu hanya mengangguk karena itu adalah peliharaan turun temurun dari kakeknya berasal dari Garut, "cakep sekarang kamu bisa pergi!" ujarnya lalu sosok itu pergi.


Louis hanya menatap saudaranya karena dirinya tak melihat apa-apa, sedangkan Aksa hanya menghembuskan nafas lega.


Sebenarnya dirinya tak mau berbuat kejahatan apalagi sampai melukai seseorang karena dirinya masih percaya dengan karma, jika menabur yang baik maka akan menuai yang baik pula begitu juga sebaliknya.


"Gua kagak mau nyakitin orang lain...gua bakal menyadarkan lu Louis karena lu sepupu gua," batin Aksa menatap Louis yang masih sibuk merokok.


Dirinya terpaksa melakukan itu karena dipaksa kalo tidak maka ancaman Louis sangat berpengaruh dengan jantung ayahnya, Aksa hanya melakukan sedikit sihir membuat ilusi dan tidak berani menyakiti Dania lagi karena kejadian tempo hari.


Setelah dirinya mengirimkan guna-guna kepada Dania, dirinya malah seminggu lebih di teror oleh sosok beberapa mahkluk dari pria Belanda dengan leher memutar, penari dengan wajah tengkorak, sosok wanita berpakaian kerajaan dengan membawa cambuk, dan sosok tentara jepang dengan membawa samurai.


"Gila tuh cewek bekingannya kuat juga ya," batin Aksa.


"Gua jadi penasaran ama tuh cewek gua bakal cari tahu ah, eh tapi takut gimana kalo dia terlalu pemilih ya apalagi dia tahu gua sepupu dari musuhnya."


Aksa membatin sudah berpikiran negatif mengenai Dania, padahal dirinya belum mengenal sifat Dania. Ya gadis dari keluarga Rejaya sebelum mendiang ibunya meninggal sudah menanamkan nilai-nilai menjadi seorang wanita dan bagaimana caranya bersikap.


"Dania Anindita Rejaya, namanya kejawen banget!" batin Aksa sambil seulas senyum terukir di bibirnya.


#BERSAMBUNG