Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Sebuah Janji Sebelum Kelulusan


Dania termenung lalu ia menyentuh tangan sahabatnya ia mulai bicara dari hati ke hati, Dania menarik nafas dalam-dalam lalu mereka membuat janji sebelum masuk SMA atau SMK. “Ayo kita buat janji sebelum lulus,” kata Dania.


Ucapan Dania membuat Mia menatap sahabatnya dengan kening berkerut. “Janji apa?” tanya Mia. “Kita harus memaafkan ayah kita sebelum lulus, bagaimana?” tawar Dania.


Usul Dania hanya diangguki oleh Mia. “Yaudah berarti nanti kita pulang ke Toko karpet bokap lu dulu baru gua,” usul Dania. Mia hanya mengangguk dan pasrah dengan sahabatnya karena ia sangat berhutang budi pada keluarga Rejaya termasuk Nathan yang membantunya masuk sekolah.


“Eh Dania nanti gua nginep di rumah lu, gua mau pastikan lu minta maaf ama bokap lu atau kagak.” Mia sambil merangkul Dania menuju kelas karena jam istirahat sudah selesai dan akan menuju ruang komputer untuk ujian sekolah.


Dua sahabat itu ingin masuk kelas lalu di hadang oleh geng bule. “Nia gua takut,” bisik Mia di telinga Dania.


Karena Dania adalah putri seorang perwira dari keluarga militer Dania percaya dengan darah keberanian yang mengalir di nadinya, sikap pemberani Dania di turunkan dari Nathan yang seorang Mayor Jendral.


“Mau apa kalian?! Kita gak mau cari rebut jadi tolong minggir!” tegas Dania menatap semua anak orang kaya yang manja ini.


“Kita cuman mau nanya?” tanya Louis.


“Nanya apa? Buruan soalnya gua mau belajar buat ujian!!” ujar Dania kepada anak-anak orang kaya ini.


“Apa bener lu anak Jendral?” tanya Tia pada Dania.


“Iya, bokap Jenderal ama abang Lettu sekarang dinas di Yonkav kostrad,” jelas Dania pada anak kaya yang manja ini.


“Lettu apa?” tanya Tia.


“Letnan Satu!” jelas Mia dengan kesal.


“Eh anak haram kita gak ada urusan ama lu!” ucap Louis pada Mia, gadis blasteran Yaman itu hanya menunduk.


“Kenapa lu gak ngasih tahu kita dan gabung ama kita?” tanya Louis. Dania hanya tertawa mengejek dan berusaha melawak lalu wajahnya datar.


“Jawabannya panjang kali lebar kali tinggi,” jelas Dania.


“Matematika kali ah,” celetuk Tia.


“Jelasin aja!” ujar Louis dengan kepo, “apa urusannya ama lu pada gua berhak atas apa yang terjadi ama hidup gua.”


“Sekarang biarin kita lewat karena kita mau belajar,” ujar Dania sambil mengandeng tangan Mia.


“Oke, woy biarin anak Jendral lewat.” Louis memerintahkan untuk memberikan jalan pada teman-temannya.


Dania lewat dengan kesal lantaran ia tak pernah suka sikap Louis yang arogan dan suka menindas, Louis hanya melihat punggung Dania yang berjalan ia tersenyum ternyata sangat baik genderang bersambut baik.


Semua orang sebenarnya tahu latar belakang keluarga Dania pantas saja gadis itu paling berani menghadapi Louis, di kelas Dania mendapatkan tepuk tangan dari seluruh teman-temannya. Mia hanya di tindas oleh geng bule dan juga memiliki teman lain, tapi tak terlalu dekat seperti Dania dan Niken.


Ternyata pemikat yang ada di tubuh Dania sudah mulai berfungsi sejak awal masuk sekolah, karena Dania berteman dengan Mia saja yang membuatnya iku-ikutan di jauhi di tambah kompornya geng bule.


Sejak saat itu tidak ada lagi yang menindas Mia atau Dania termasuk geng bule sok berkuasa, yang paling menyebalkan Louis dengan diam-diam mengirimkan Dania bunga dan coklat di taruh di laci mejanya dia.


Mia bicara dengan teman lainnya karena meski gadis itu suka di tindas oleh geng bule tapi teman yang lain amat menghormati Mia karena selain pinta Mia juga membantu tanpa pamrih.


Mia dan anak perempuan lain sedang berbincang di sebelah Dania yang sedang membaca buku, tapi geng bule mendekat dan berusaha mengusir anak-anak perempuan itu. “Eh lu pada minggir jangan deketin calon istri gua?!” ujar Louis pada Mia dan anak perempuan yang sedang berbicara dengan Mia.


Dania melepas kacamatanya ia menatap Louis sambil menutup bukunya. “Siapa?” tanya Airin kepada geng Bule.


“Dania sekarang calon bini gua!!” ujar Louis.


Semua orang membulatkan matanya, geng bule baru tahu kalo Dania anak seorang Jendral karena penampilan Dania yang sederhana dan apa adanya tidak memakai barang mewah. “Lu apa-apaan sih!!” maki Dania tak terima.


“Gua gak bakal mau ama lu!! Meski kasih gua uang!!” tegas Dania.


“Lu berani ama gua!!” maki Louis yang marah membanting meja membuat anak perempuan lainnya yang di sebelah Dania lari keluar kelas.


“Gila lo ya!! Apa sih konsep lo ngakuin gua bini lo!!” marah Dania tak akan pernah mau.


Mia keluar kelas ia tak bisa membantu apapun karena Louis adalah anak Donatur di sekolah ini, “yaallah cepet lulus kek.” Dania bicara.


“Lu lulus gua bakal ngikutin lu kemana lu mau masuk SMA,” tekad Louis.


Dania memutar bola matanya jengah ia ingin bergabung bersama Mia dan anak perempuan lainnya tapi Louis malah menarik lengannya dan wajah mereka berhadapan membuat mata mereka saling menatap.


Gadis itu melepaskan dengan kasar lalu berteriak memaki Louis juju ria tak berani menamparnya karena ia tak mau cari masalah, “lo apa-apaan sih lo!! Kagak waras lo!!” maki Dania yang kesal.


Dania mengambil bukunya lalu menuju Mia dan memeluknya ia melihat Mia, Dania menangis ia tak suka jika Louis mendekatinya jujur saja ia membenci Louis karena suka meresahkan orang lain.


“Gua gak mau ama Louis gua jijik!!” ucap Dania sambil memeluk Mia.


Anak-anak perempuan lainnya hanya bisa mendekati Dania lalu mengusap punggung gadis malang itu, mereka semua tahu latar belakang keluarga Dania kecuali geng bule. Karena mereka yang ingin bergabung dan berteman dengan geng bule pasti akan di wawancarai dulu oleh Louis.


Tak sembarang orang yang boleh menjadi circle geng Bule, Dania memilih hidup sederhana dan berteman dengan siapa saja bahkan ramah. Dania memegang teguh nilai-nilai yang diajarkan oleh mendiang sang ibu.


Pulang sekolah Dania pulang berjalan bersama Mia menuju Toko karpet ayahnya Mia, tapi tiba-tiba Louis menghadangnya lalu menarik tangannya. Dania yang diajarkan caranya bela diri oleh Satria ia menginjak kaki Louis lalu menarik tangan Mia untuk lari.


“Ayo Mia kita lari!” ajak Dania sambil menarik tangan Mia.


Mereka bersembunyi di balik tembok setelah kepergian geng bule mereka keluar lalu segera pergi menaiki angkutan umum untuk menuju toko karpet, “sumpah lu beruntung bisa sama Louis.”


“Beruntung cangkem mu?!” maki Dania tak suka.


“Ih beruntung lu bisa sama anak CEO.” Mia bicara pada Dania membuat gadis itu tak suka.


“Mau dia anak CEO atau anak Pejabat kalo attitude nya kagak ada gak bakal ada nilai di mata orang,” jelas Dania kepada Mia.


“Louis emang dari kecil dapetin apa yang dia mau, tapi dia lupa cinta itu gak bisa di beli pake duit.” Dania bicara pada Mia membuat Mia bangga dengan pikiran Dania.


Sesampainya di toko karpet milik ayahnya Mia, dua gadis SMP itu masuk melihat ayahnya Mia sedang menghitung dengan kertas dan sibuk dengan bisnisnya. “Baba!” panggil Mia menatap ayahnya.


Pria Yaman itu berdiri lalu terheran melihat putrinya mengunjunginya pertama kali, lalu Mia berlari memeluk ayahnya. “Baba aku minta maaf, aku mulai nerima Baba.” Pria Yaman itu menatap Dania yang mengangguk.


Pria Yaman itu mengerti lalu membalas pelukan Mia dan ia senang dengan Dania, meski anak seorang Jendral Dania lebih mandiri dan berpikir terbuka. “Baba aku mau menginap di rumah Dania lagian besok Sabtu dan Minggu libur boleh ya?” pinta Mia pada sang ayah.


“Boleh tapi udah izin sama Ummu?” tanya Pria Yaman itu.


Mia hanya menggeleng lalu Pria Yaman itu membelai rambut Mia yang keriting. “Izin dulu ama Ummu.” Dania mendekat, “maaf kalo aku ganggu kebersamaan antara ayah dan anak tapi Om bisa ngerti keadaan Mia.”


Dania menyalami ayahnya Mia, pria Yaman itu menyuruh mereka ke rumah Mia yang berada di sebrang jalan depan toko ada gang tinggal masuk saja. Pria Yaman itu memegang tangan Dania lalu mendoakan gadis itu.


“Semoga Allah memberimu kebahagiaan dan melindungi mu, terimakasih untuk hadiah ini.” Dania hanya tersenyum lalu mengatakan, “hubungan antara anak perempuan dan ayah sangat khusus dan memiliki ikatan batin yang kuat.”


Dua sahabat itu ke warung makan milik ibunya Mia yang ada di depan rumah Mia, Rumah Mia sangat minimalis dan tingkat. Rumah Mia memang tidak sebesar dan semewah milik Dania.