
Dania mendengar pembicaraan ibunya lalu ia merasa terperajat saat seorang Bendide menepuk pundaknya, “Juffrouw ngapain? Apa Juffrouw butuh sesuatu?” tanya Baboe itu dengan kebaya dan kain batik.
“Sa-saya haus,” aku Dania.
“Juffrouw sudah bisa berbahasa melayu?” tanya Baboe itu.
Dania terkejut apa maksud perkataan wanita di hadapannya. “Ik haus antarkan ik ke dapur jika tidak ik akan adukan ke Papa!” ancam Dania seolah gadis itu bicara seperti apa yang Hanson peragakan.
“Inggih Non,” patuhnya.
Dania diantar ke dapur lalu duduk di kursi makan ia menahan tawa seolah yang dilakukannya adalah lucu, dalam hatinya ia berkata “gua berasa tujuh belasan meragain kaya begini, hahahahha.” Dania menahan tawa dan ingin lepas tapi ia membungkam tawanya dengan tangan yang menutupi mulut.
“Ini Juffrouw minumnya,” ucap Bendide itu menyerahkan minum.
“Arigatho,” ucap Dania.
Dania sengaja mengerjai Baboe itu karena seolah ini lucu, “apa artinya Juffrouw?” tanya Bendide. “Bahasa Jepang, Tokyo.” Baboe itu ikut tertawa. Hanson yang melihat putrinya bicara dan akrab dengan Baboe langsung menghampiri lalu menarik putrinya.
“Victoria apa yang je lakukan!!” maki Hanson.
“Apa yang salah?” jawab Dania enteng seolah hal itu biasa.
“Ayo ikut ik ke kamar je! Je masih sakit kenapa malah keluar kamar!!” gentak Hanson menari Dania keluar lalu menatap Baboenya yang tengah menunduk.
“Beraninya je mendekati Victoria! Ingat batasanmu!!” peringatnya sambil menunjuk Baboe itu dengan wajah emosi.
“Baik Menner saya minta maaf,” ucapnya.
Dania heran dengan sikap pria Belanda ini kenapa sangat rasis, baiklah sekarang Victoria harus berperas sebagai Aktris di zaman ini. Dania pasrah tatkala tangannya di tarik oleh pria Belanda yang bernama Hanson ini.
Dania di suruh ke kamar dan istirahat. Gadis itu sama sekali tidak mengerti lagi. “Je istirahat nanti Dokter Stefania akan kesini untuk meriksa je,” ujarnya mengistirahatkan Dania lalu menyelimutinya dengan lembut.
Dia amat tak menyangka yang dilakukan Hanson tak seperti yang dilakukan Nathan sebagai ayah, meski keduanya sama-sama perwira Tentara tapi sikap Nathan cenderung keras dibandingkan dengan Hanson.
*******************************************
Satria sedang melatih Tentara berbaris dan memantau keadaan anak buahnya yang sedang bersembunyi di kamar, lalu Satria mengumpulkan berkas untuk di bawa ke ruang rapat atasannya.
Setelah melakukan semua itu Satria di suruh atasannya memeriksa gudang senjata dan mendatanya di kesatuannya, sungguh pekerjaan yang melelahkan tapi Satria rela melakukan semua itu.
Nanti setelah ini ia berencana sekolah lagi agar pangkatnya naik, setelah semuanya Satria kembali ke ruangannya karena pangkatnya Letnan satu ia istirahat di kamar pribadi yang sudah di siapkannya.
“Buset dah capek banget,” ungkapnya. Satria duduk sambil meluruskan kakinya lalu ia tertidur setelah solat isya, karena kelelahan ia lupa menutup jendela hal yang bodoh sekaligus ceroboh yang ia lakukan.
Satria yang tengah memejamkan mata ia mendengar suara kucing mengeong tapi karena rasa lelah ia malah mengabaikannya, tapi semakin diabaikan semakin dekat suaranya. Satria membuka matanya ia melihat ada kucing hitam sedang bersantai di sebelah kasurnya membuatnya menjerit kaget.
Segera setelah pria itu menutup mulutnya agar tak menarik perhatian, “the black robe!” makinya dengan berani tapi nadanya sopan. Satria tahu jika si jubah hitam akan menyamar menjadi kucing hitam untuk menemui orang-orang yang memiliki kemampuan special dalam wujud kucing hitam.
Tapi biasanya jika memiliki kemapuan Indigo seperti Satria atau adik-adiknya yang ia lihat bukan wujud kucing tapi sosok jubah hitam melayang seperti bayangan, “mau apa lo!?” tanya Satria.
“Hah!” ungkap Satria ia terkejut.
“Bawa gua ke sana!” pintanya.
Satria meminta hal itu kepada si jubah hitam. “Tapi kamu akan menjadi adik Dania bukan kakak,” ujarnya. “Gak masalah asalkan saya ingin adik saya keluar sekarang!” ucapnya.
“Adikmu harus tahu semuanya.”
“Iya tapi jangan sekarang! Dania akan mengikuti ujian kelulusan dia harus fokus belajar!” kata Satria seolah memikirkan masa depan adiknya, si jubah hitam membawa Satria ke dalam pusaran waktu.
Satria mengetahui bahwa dirinya adalah Jason Van Buthjer atau altarnya masuk dalam dirinya saat usia 13 tahun, tapi untuk Dania Satria mengatakan pada si jubah hitam agar tak memberitahunya terlebih dahulu di karenakan Dania memiliki banyak tekanan.
Di tambah sang ibu baru saja tiada juga pertengkaran dengan ayahnya yang ada malah Dania akan semakin hancur dan terpuruk, Satria juga bertanggung jawab untuk menemani adiknya dan membimbing sesuai janji pada sang ibu.
Tapi Janji itu tak di penuhi sepenuhnya karena faktor pekerjaan dan juga tugas keluar pulau Jawa, di tambah Satria harus bertugas selama satu bulan. Satria mengerti sekarang ia harus terus memantau adiknya lewat kemampuan Indigonya.
Apa yang di rasakan Satria tak boleh di rasakan lagi oleh adik-adiknya hidupnya dulu sangat berat, Satria selalu mengadu masalahnya kepada mendiang ibunya jika ia mengadu kepada mendiang ayahnya cenderung menyikapinya lebih keras.
Satria semakin kesal tatkala si jubah hitam malah menawarinya hal konyol yakni calon istrinya, “woy!! Gua kagak mikir begituan dulu!! Kagak tahu apa gua lagi mumet!!!” ungkap Satria dengan marah karena rasa khawatir dan faktor kelelahan.
Si jubah hitam membawa Satria ke zaman dimana Indonesia dulu masih di juluki Hindia Belanda, Satria membuka matanya ia melihat di kamar dengan wujud bocah berusia seperti Rendy.
“Dania!!” ucapnya.
Satria langsung beranjak dari kasurnya untuk menuju kamar adiknya dalam wujud Victoria, ia hafal seluk - beluk rumah ini, saat ingin masuk Yu Darmi melarangnya dengan mengatakan Victoria sedang sakit.
“Tapi saya ingin menemuinya,” ungkapnya.
“Nanti Sinyo tertular,” katanya.
“Ik akan adukan ke mama en papa jika je tak izinkan ik masuk!” ancam Satria bicara seperti orang asing dengan logatnya juga.
Setelah di perbolehkan masuk ia melihat Dania dalam wujud Victoria. “DANIA!” panggil Satria dalam tubuh Jason sambil menyentuh tangannya.
Dania banguan ia heran siapa anak ini apa dia adiknya di masalalu, “ini gua Satria!” ucapan Satria membuat Dania terduduk sambil membulatkan mata.
“Bang Satria! Ini gua dimana?!” tanya Dania kepada kakanya yang seumuran Rendy.
“Lu disini jangan manggil gua Bang langsung manggil nama gua aja Jason,” jelas Satria.
“Oke, terus ini masksudnya apa?” tanya Dania dalam wujud Victoria.
“Ini masa lalu mama,” kata Satria. Gadis itu langsung mengeryitkan keningnya lalu meminta penjelasan kepada kakaknya ia amat tak mengerti.
Pesan Author
Kalo kalian mau tahu tentang masa lalu Nadia Sabrina mendiang ibu dari SATRIA, DANIA, DAN RENDY. Baca novel series pertamanya dulu, Nadia the Indigo Girl. Disana di jelaskan masa lalu ibu mereka dan permasalahan yang menimpa ibu mereka apa saja, dan siapa itu Victoria dan Jason di jelaskan di novel series pertama.