Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Kasus Pembunuhan Berencana Yang Terungkap


Dania di ajak ke lorong yang gelap sudah sampai ruangan UGD, dirinya melihat persis sesuai penerawangannya. Seorang pria berjas membayar seorang Dokter kandungan untuk membunuh ibu dan anak tersebut.


Dania ingin bicara tapi mulutnya di bungkam oleh ilusi sosok itu.


Dokter itu duduk di ujung ruangan sambil menyaksikan seorang wanita yang merintih dan meminta tolong, karena tak ingin ada orang yang tahu dokter itu menoleh ke samping kanan lalu mengambil lakban juga gunting untuk membekap mulut wanita malang itu.


Lalu dokter itu mengikat kedua tangan dan kaki wanita itu, alhasil wanita itu hanya melihat ke langit-langit kamar dengan derai air mata yang menetes.


Setelah itu Dokter menekan perut wanita itu dengan keras sampai akhirnya wanita itu meninggal dunia, dengan bayi yang juga meninggal tapi masih menggantung tali pusar dengan rahimnya.


Dania yang melihat itu hanya diam membeku. Sungguh biadab seharusnya dokter menyelamatkan nyawa manusia, seharusnya dokter selayaknya malaikat yang menyelamatkan orang sakit.


Tapi sungguh diluar dugaan Dokter tega melakukan hal itu, Dania ingin mendekat tapi dirinya malah di tarik oleh wanita itu menuju lorong ke arah kamarnya.


Kakinya seketika berhenti tatkala melihat banyak orang yang ramai juga garis lintang polisi yang terpasang di taman rumah sakit, hal itu terlihat ada amir dan juga kakaknya yang tengah dimintai keterangan mengenai temuan mayat tersebut.


Tapi hal aneh tiba-tiba muncul tatkala dirinya dipaksa masuk ke dalam tubuhnya, ternyata di pojok ruangan Nathan tengah menyalakan lilin dengan kaki menyila dan tangan di pahanya.


Rohnya Dania kembali ke raganya lalu gadis itu bangun dengan terbatuk-batuk, memegang dadanya. "Dania!" ucap Nathan mendekati putrinya.


"Ini minum dulu," kata Nathan sembari menyerahkan botol air mineral kepada putrinya.


"Tadi kamu kemana aja?" tanya Nathan.


"Tadi aku---" belum sempat Dania bicara tiba-tiba Amir masuk lalu membisikan sesuatu pada Nathan, Dania tak tahu sebenarnya apa yang dibicarakan keduanya.


"Apa?!" teriak Nathan dengan mata membulat, "sekarang dimana Satria?" tanyanya.


"Di kantor polisi," kata Amir.


"Oh ****!" keluh Nathan membelakangi rambutnya, sudah berapa kali dibilang lebih baik tidak perlu ikut campur tapi tetap saja jiwa penolong dalam diri Satria tak bisa membiarkan ketidakadilan seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satria di keluar dari kantor polisi menaiki mobilnya, lalu ia menelepon seseorang dengan menggunakan headset bluetooth dipasangkan di telinganya hanya untuk mengabari beberapa hal.


"Hallo," kata Satria membuka pembicaraan.


"Iya, Hallo."


"Denger saya akan ke kantor sekarang!" ujarnya.


"Apa bukankah besok kita laksanakan tugasnya," ujar bawahan Satria.


"Saya kesana hanya untuk menaruh berkas dan tugas apa saja besok untuk latihan anggota baru," katanya menelepon dan tangannya masih dengan menyetir.


"Siap Komandan!" ucap anak buahnya.


"Di kantor ada siapa saja?" tanya Satria.


"Siap ada saya dan Sersan Galih,"  ujarnya.


"Baik saya kesana sekarang, sebelum itu----" ucapan Satria terhenti tatkala ia mengerem mendadak mobilnya, hal yang tak di duga terjadi.


BRAK!


"Halo! Halo! Komandan apa baik-baik saja?" tanya bawahan Satria.


"I-iya Hallo," ucap Satria membenarkan Headsetnya.


"Tadi saya hanya tak sengaja menabrak sesuatu sebentar saya periksa dulu," gumam Satria lalu mematikan panggilan telepon dan memeriksa untuk keluar mobil.


Saat memeriksa hal yang paling mengejutkan ia melihat Dokter di dalam penerawangannya, beruntung tak terluka tapi hal aneh yang terjadi.


"Tolong saya dia mengejarku," ucapnya seperti orang kepanikan.


"Siapa yang bapak maksud?" tanya Satria berusaha menenangkan orang itu.


"Dia-dia yang sudah saya bunuh," tuturnya.


"Aku membunuh wanita hamil! aku membunuh wanita hamil!" akunya membuat Satria merasa takut untuk menghadapi orang tak waras, hal yang pertama Satria yang tak mau berurusan lagi dengan pihak kepolisian memilih mundur.


Orang itu melompat-lompat selayaknya kera sambil mengatakan jika ia membunuh orang hamil antara ketakutan dan senang, "apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Satria dalam hati.


Satria langsung masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan klakson agar orang gila itu mau menyingkir dari jalan.


Bim! Bim!


Orang gila itu langsung minggir, "woy dasar lu ya orang gila." Kata orang itu, Satria langsung berteriak.


"LU YANG GILA!" makinya lalu lanjut menyetir menuju tempat kesatuannya bertugas hari ini ia amat tak menyangka banyak hal yang terjadi, saat ingin sampai di tempat kesatuannya bertugas.


Satria menyerahkan laporannya lalu menjelaskan apa saja yang harus dilakukan untuk besok, lalu dirinya ingat akan satu hal.


"Astagfirullah Rendy! adek gua! malah gua tinggal sendirian di rumah!" teriaknya saat selesai lalu kembali ke rumah dengan mengendarai mobilnya.


Saat baru masuk mobil ada panggilan masuk, "apa lagi ini! Tuhan bantu aku!" ucapnya.


Dilihat panggilan ponselnya ternyata itu dari Mia, "lah temen Dania?" tanyanya dengan mengerutkan keningnya ketakutan.


"Hallo," ujar Satria.


"Hallo bang! Rendy ama gua, dirumah gua bang."


"Ya allah malah ngeropotin," ujarnya.


"Gak kok, yaudah lu ke rumah gua sekarang. Atau besok aja sekarang udah malem, Rendy Juga udah tidur," ucapnya.


"Oh yaudah gua besok abis subuh ke rumah lu," ujarnya.


Satria langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit dirinya amat tak menyangka mulai menyukai Mia, tapi permasalahannya apa boleh gadis syarifah menikahi pria pribumi.


Ah sudahlah hal ini tak penting yang terpenting adalah karirnya dan masa depan kedua adiknya, dia sudah berjanji kepada mendiang ibunya sebelum meninggal agar selalu mengawasi adik-adiknya.


Saat nanti Dania dan ayahnya pindah ke Bandung dirinya akan tetap disini sampai Rendy lulus sekolah dasar, setelah itu dirinya akan menyekolahkan Rendy di taruna.


Tiba-tiba hal yang tak mengenakan terjadi mobil Satria berhenti di tengah jalan yang sepi.


"OH ****!" marahnya.


Kenapa hari ini adalah hari sial baginya, saat keluar mengecek mobilnya, matanya melihat kesana dan kesini tak ada satu pun orang jalanan nampak sepi jadi dirinya putuskan untuk menelepon Rizki rekan kerjanya.


"Hallo Rizki, kau ada dimana?" Tanya Satria.


"Masih disinilah aku, kerjakan sesuatu untuk besok."


"Minta tolong akulah," ucapnya sambil setia menempatkan teleponnya di daun telinganya.


"Minta tolong apa kau?" tanyanya di sebrang sana.


"Mobil aku mogok nanti aku sharelock alamatnya, tolonglah bantu aku."


"Iyalah aku kesana, tunggu aku."


Satria ingin masuk mobil tapi tiba-tiba ia melihat di ujung jalan ada anak sekolah memakai seragam SMA, "dek kenapa kamu disana?" sapanya kepada anak itu.


Hal yang membuat Satria membulatkan mata anak sekolah itu berjalan ke arahnya sempoyongan seperti zombie, "tolong aku...," pintanya.


Wajahnya di penuhi darah dan seragam sekolahnya sudah tak berwarna putih lagi tapi sudah di penuhi oleh darah. Semakin mendekat dan mendekat Satria tak sadarkan diri dengan pintu mobil terbuka.


Satria dibuatkan ilusi kejadian di tempat ini, hal yang membuatnya terkejut sepasang anak sekolah tengah berboncengan tak lama ada truck yang oleng dan tak tahu arahnya melindas keduanya.


bentuk motornya tak berbentuk dan semuanya sudah hancur satunya lagi anak sekolah itu tubuhnya sudah gepeng, dan baju juga wajahnya sudah berlumuran darah.


Hal yang sangat ironi dan menakutkan, orang orang berkumpul untuk menolong dan sungguh salah satunya ada yang hidup hanya saja wajahnya sudah tak berbentuk lagi. "To-Tol-Tolong Sa-sa-say-saya," ucapnya dalam rintihan dan kesakitan lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


#BERSAMBUNG