
Nathan yang sedang menyetir dirinya melihat sekitar sudah mulai sepi karena menunjukan pukul 10.00 malam, dan dirinya juga melihat jalanan ramai bukan manusia tapi hantu. Nathan tak peduli dirinya hanya ingin cepat pulang, dengan kopi yang diminumnya membuatnya kuat menyetir mobil.
"Dania anak itu membuatku khawatir saja!" batinnya sambil memegang erat setir mobil dinasnya, Nathan rela menyetir dimalam hari hanya untuk bertemu anak-anaknya.
Tak lama Nathan melihat dari kaca mobil depan terlihat sosok Noni Belanda hal itu membuat Nathan rem mendadak dan beruntung jalanan sepi, di perhatikan secara seksama ternyata itu adalah Qorin yang menyerupai mendiang istrinya.
"Nadia!" ujarnya membeo, dirinya melihat mendiang istrinya berpakaian seperti wanita Eropa abad ke 20.
"Mas jangan marahi Dania," katanya lalu menghilang.
Melihat itu Nathan syok parah karena mungkin dirinya ngantuk, tapi dirinya sudah minum dua cangkir kopi bagaimana mungkin dirinya bisa mengantuk.
Tanpa mau memikirkan yang sudah-sudah Nathan segera melanjutkan menyetir lewat jalan tol agar cepat sampai, karena sampai dalam waktu satu jam.
Sungguh secara diam-diam Nathan amat menyayangi Satria dan Dania, tapi itu tak ditunjukan secara langsung tetap saja hal itu tak baik apalagi untuk anak gadis seperti Dania.
Nathan melajukan mobilnya di tengah tol jagorawi untuk menuju Depok, dirinya akan segera dipindah tugas sementara waktu rumahnya itu jadi tempat tinggal mertuanya bersama Rendy juga adik iparnya Defani.
*************
Malam ini Satria bersama teman-temannya sedang BBQ di kolam renang dekat dengan dapur, sedangkan Rendy, Dania juga neneknya tengah makan malam di ruang makan.
Satria mengira ayahnya akan pulang besok pagi karena istirahat dulu, tapi dirinya salah prediksi seperti peramal cuaca.
Teman Satria yang dari Ambon terlihat dengan senang ria menyanyikan lagu kampung halamannya sembari memakan daging steak, di tambah Satria yang menari sambil bernyanyi.
Tapi beruntung mereka dilarang meminum bir, cocktail, atau semacam minuman yang memabukkan karena berhasil di cegah oleh nenek atau mendiang ibu dari Nadia Sabrina.
Nathan mempercayakan rumah sepenuhnya kepada mertuanya, karena selama bertugas tapi jika hal dilanggar seperti membuat kebisingan di atas pukul 10.00 malam maka Nathan berhak menghentikannya.
Sialnya mobil Mayor Jendral Nathan Aditya Rejaya sudah di pekarangan rumah membuat para perwira berpangkat Letnan itu tak sadar, mereka masih asik berpesta dan dengan suka ria membakar BBQ. Nathan turun dari mobil dan merasa ada suara ramai dari dalam rumahnya.
"Mang Asep!" panggil Nathan, pria itu mendekat dengan tergopoh-gopoh.
"Iya Tuan," ujar Mang Asep.
"Tolong suruh Nani sama lainnya bawakan barang-barang saya ke kamar saya dan oleh-olehnya ke dapur," kata Nathan.
"Baik Tuan," patuh Mang Asep.
"ASTAGFIRULLAHALADZIM YAALLAH!! SUARA BERISIK APA INI MALAM-MALAM!" marah Nathan lalu bergegas masuk, dirinya hanya disambut Rendy.
"Papa!" panggil Rendy lalu mendekat ke Nathan yang baru pulang masih mengenakan seragam dinasnya, lalu dibarengi mertua dan putrinya dari arah dapur yang baru membereskan semuanya sekaligus mencuci piring.
"Papa udah pulang?" tanya Dania berjalan mendekat untuk menyalami ayahnya, disusul mertuanya dari belakang.
"Kamu udah pulang Nak," ujar mertuanya datang sambil mengelap tangannya karena baru saja mencuci piring.
"Ibu," ujar Nathan mendekat lalu menyalami mertuanya.
"Ada apa sih Bu? Kok berisik darimana suaranya," ujar Nathan yang penasaran mengikuti bunyi suara itu.
Nathan yang masih mengenakan seragam dinasnya langsung menuju dapur yang mengarah ke kolam renang, "Astagfirullah Yaalllah!!" maki Nathan mendekati putranya yang asyik berpesta bersama teman-teman dan juniornya.
Nathan membawa rotan kayu pertama mencoba rotan itu memukul ke dirinya lalu dia akan langsung eksperimen ke putranya yang rada-rada, yang benar saja waktu sudah menunjukan pukul tengah malam dan hampir jam satu malam para perwira muda itu malah menyetel musik dengan keras.
Tapi seolah mereka tak tahu waktu Nathan yang sudah mencoba rotan itu dan memastikan tak berbahaya langsung menyabet tubuh Satria, membuat pria yang berusia beranjak 25 tahun itu terdiam lalu bertingkah selayaknya kera saat sabetan itu mulai mengenai bokongnya.
"Aduh pah ampun sakit," keluh Satria yang minum.
Setelah menyabet Satria putranya, dirinya juga menyabet rekan Satria mereka disabet dengan rotan kayu. Dalam kemiliteran mereka sudah dilatih fisik dan mental, akhirnya para perwira muda itu menyelesaikan pestanya.
Setelah semuanya yang terjadi Nathan mengintrogasi putranya, "untung papa pulangnya cepet tugasnya juga cepet! coba kalo hari ini papa masih tugas! bisa-bisa rumah ini jadi arena club malam!" cerewet Nathan menceramahi putranya.
Satria sebenernya sudah seharusnya menikah tapi karena ambisinya jadi menunda pernikahan, "papa gak mau hal kaya gini ke ulang lagi! dan__itu di rapikan jangan ada yang minta bantuan pembantu! biar hukuman untuk kalian!" ujar Nathan menyuruh anak dan anak buahnya untuk merapikan sisa pesta.
Setelah menceramahi Satria dirinya ke kamar untuk membersihkan diri, "rapiin lagi!" ujar Satria mengejek dengan mulutnya.
****
Dania dan Rendy di kamar bersama neneknya sambil istirahat sedangkan Dania masih sibuk berkutik dengan ponselnya bicara dengan Mia dan Niken. Tapi tak lama ada seseorang di luar jendela Dania masih enggan membuka dirinya melakukan telepati siapa sebenarnya itu.
Ternyata itu adalah teman hantunya namanya Irene, dirinya bertemu saat Irene berjanji melindunginya dari Louis dan ambisi Louis untuk memilikinya.
"Irene ngapain disini?" ucap Dania, matanya melihat Rendy dan neneknya sudah tidur.
Dania menuju ke arah balkon melihat Irene memakai gaun klasik dengan rompi khas tahun 1900, Dania menuju ke arah balkon kamarnya dengan pintu geser ala Jepang.
Dania menatap temannya di masa lampau lalu dirinya secara perlahan menutup pintu geser agar neneknya tak terbangun, "Irene ngapain kesini? kalo papa Nathan tahu bisa bermasalah!" ujar Dania menarik sahabatnya ke samping agar neneknya tak melihat.
"Victoria ik kesini membawa kabar untuk je," katanya hantu gadis Belanda itu menunduk menyisakan kekecewaan.
"Apa ada kabar buruk dari papa ik?" tanya Dania.
"Nee, kabar buruknya je dan Hans Russell akan bertunangan." Sontak kabar ini membuat Dania membulatkan mulutnya lalu menutupnya dengan tangan, "Apa!" ujar Dania.
"Jaa, sebaiknya ik sarankan je jangan ke Batavia sementara waktu." Irene ingin menyelamatkan temannya dari malapetaka.
"Tapi bagaimana caranya ik bisa bebas?" ujarnya.
"Ik punya cara," ujar Irene lalu membisikan sesuatu entah apa yang Irene bisikan kepada sahabatnya membuat Dania semakin pucat.
"Apa je sudah gila!" ujar Dania.
"Victoria tidak ada pilihan lain, je harus ke sana sementara waktu dalam wujud Victoria." Jeda "ik harus pergi sebelum seseorang melihat ik kesini je jaga diri je dari altar Hans Russell termasuknya karena ambisinya sangat sadis."
Setelah itu Irene menghilang Dania langsung termenung di kesunyian malam, menatap bintang di langit dirinya ingin segera terbebas dari hal gaib seperti ini termasuk dari Louis.
Tak ingin neneknya curiga dan bangun Dania segera menggeser pintu secara perlahan lalu masuk dan tidur di sebelah neneknya, posisi neneknya di tengah jadi Dania di pinggir masih memikirkan yang dikatakan Irene haruskah dirinya ke tempat itu.
Dania khawatir ini hanya jebakan, tapi dirinya bimbang apa yang harus dilakukan.
#Bersambung