
Satria tengah melatih anak buah di belantara hutan, ia mengajarkan tentara baru ini membaca kompas dan pelatihan fisik. Tapi perasaan terganggu saat mengingat adiknya yakni Dania, kalo soal Rendy.
Bocah itu sudah aman tapi tidak soal Dania, Satria belum yakin aman seratus persen.
Karena sama-sama memiliki Altar jadi tahu bagaimana nasibnya harus berkali-kali tertimpa kemalangan, Satria menepis semua itu ia harus fokus dengan tugas dinasnya dulu.
Di umur seperti Satria sebenarnya sudah waktunya untuk menikah, tapi pria itu mengatakan soal wanita hal yang mudah tapi soal karir adalah pengalaman seumur hidup.
Satria bersumpah akan menikah jika Dania adik perempuannya sudah menikah terlebih dulu, karena adik perempuan lebih di utamakan.
Di hujan yang deras Satria terus melatih tentara meski berlumpur dan banyak hewan buas juga berbisa, tapi Satria harus hati-hati karena hutan belantara ini pasti banyak mahkluk halus.
Saat beristirahat di tenda, mata pria itu menatap riuk pohon yang besar. Bukan sesosok yang ia lihat melainkan kehidupan lain, ada sebuah desa gaib disini.
Satria yang sudah hafal bagaimana tabiat mahkluk halus penghuni desa itu, berusaha menjaga anak buahnya agar tidak di ambil.
"Kalian jika saya tidak perintahkan keluar atau tak ada keperluan, jangan ada yang berjalan melebihi batas yang sudah saya sediakan! Kalian mengerti!" ujar Satria.
"Siap mengerti!" patuh para bawahan.
Satria segera memasang pembatas dengan di bacakan doa seolah ini adalah perisai, ia tahu bahwa mahkluk penghuni desa gaib mengambil manusia untuk di jadikan penduduk di alam mereka.
Seolah Satria memasang tabir pelindung, jarak desa gaib dalam penglihatan Satria hanya 5 meter dari mereka latihan.
"Ya Allah bantu hambamu ini dan lindungi anak buah hamba," batin Satria.
Pikiran Satria terus mengarah ke adik perempuannya, pria itu tahu jika ayah mereka yakni Mayor jenderal Nathan tidak memberikan kasih sayang yang merata kepada Dirinya dan Dania.
Karena Nathan merasa jika Dania dan Satria hanyalah anak Altar bukan darah dagingnya, tapi meskipun aliran darah mengalir di denyut nadi keduanya tetap saja Nathan menganggap beda dengan Rendy.
Terkadang perbedaan kasih sayang membuat Satria sedih. Di tambah hubungan adik perempuannya dan ayahnya semakin memburuk semenjak ibu mereka tiada, "Komandan!" panggil salah seorang serdadu berwajah Sumatra.
"Ya ada apa?" sahut Nathan, "kami mulai kekurangan makanan dan persediaan air. Apa kami harus mengambilnya di sungai yang di sana?" tunjuk serdadu itu, Satria langsung membulatkan mata tanda khawatir.
"Kita akan kesana tapi hanya beberapa orang bersama saya," ujarnya.
"Siap." Setelah mengatakan itu mereka langsung pergi dari hadapan Satria untuk mengambil air, pria itu merasa jika ia bertanggung jawab melindungi anak buahnya.
Setelah mengambil air mereka merebusnya dengan menggunakan api, dengan korek atau batu yang di gesekan. Di takutkan jika tak di rebus dulu akan sakit perut, Satria menelepon pusat untuk menyediakan makanan untuk di antar ke tempat latihannya.
"Seandainya ada Amir pasti gua bisa handle semuanya," batin Satria karena ia tahu jika ada Amir bisa sedikit membantu soal desa gaib di depannya yang jaraknya 5 meter itu.
Satria tak akan tidur sebelum anak buahnya tidur, mereka tidur dengan tenda dan peralatan seadanya. Tapi tidak semua anak buah tidur harus ada yang berjaga, takut jika ada hewan buas atau semacamnya.
Mereka berjaga bergantian tidur hanya 4 jam sekali lalu berjaga, saat Satria tertidur ia masuk ke Lucid Dream.
...****************...
Satria melihat di rumahnya sendiri. "Ini gua dimana? perasaan gua lagi dinas," batin Satria.
"Papa! Dania! Rendy! Dokter Amir!" panggil Satria, tak lama ia mendengar suara orang berteriak.
Satria terkaget, dia langsung mengikuti suara teriakan itu. Ternyata suara itu dari lantai atas rumahnya, Satria terkejut baru saja di lantai atas di kakinya terasa basah.
Melihat apa yang terjadi di bawah kakinya, Satria melompat dan terguling di tangga. Di lihatnya adalah darah yang membanjiri kakinya, samar-samar ia melihat ada yang menapaki tangga.
"Satria Arjuna Rejaya!" ujarnya, Satria hanya melihat kakinya dengan jubah suaranya tidak seperti laki-laki melainkan suara perempuan.
"Kowe kuwi putune Puspitasari, aku bakal njebak kowe." Setelah mengatakan itu Juminten menarik leher Satria dengan telekinesis, dengan menggerakkan tangan kanannya.
Lalu tubuhnya terhempas ke meja yang di atasnya ada guci porselen, telapak tangan Satria berdarah karena terkena pecahan guci.
Tubuh pria itu di sisi kolam renang, lalu tangannya merasa di cengkeram seperti cakar reptil.
Satria melihat ke kolam renang, ia melihat Nyai Sundari dengan setengah badan buaya. Satria di tarik ke dalam kolam air dan di tenggelamkan, pemuda ini yakin jika semuanya hanya ilusi yang di buat oleh dua siluman wanita ini.
"Ini pasti Lucid Dream," ujarnya.
Satria yang seorang Letnan Militer bisa menahan napas dalam air dalam pelatihannya di Akmil, "dasar siluman Asem."
Satria langsung memegang cakar Nyai Sundari dan membacakan doa, dan siluman itu menjerit kesakitan.
Kesempatan ini di gunakan oleh Satria untuk lari, Satria dengan tenaga tersisa memukul wajah Nyai Sundari lalu berenang ke tepi kolam.
Air di kolam sudah penuh dengan darahnya, Satria segera mengobati tangannya yang tertancap porselen.
"Siah!! kadieu budak sial!!!" umpat Nyai Sundari dalam bahasa Sunda, Satria segera masuk menaiki anak tangga.
Dan masuk ke kamarnya mengambil keris yang ia dapatkan dari atasannya di Jogjakarta, Satria langsung membuka lemari dengan susah payah.
"Sial," umpatnya.
Setelah ia mendapatkan kerisnya. "Ala bakal kalah karo becik, Shakuni, Duryudana lan Dursasana bakal mati. Ala bakal dikalahaké déning kabecikan lan katresnan," kata Satria mengucapkan mantra dalam bahasa Jawa.
"Bocah sial, uripmu lan mbakyumu tak gawe susah!!" maki Juminten dalam bahasa Jawa, berusaha mendekati Satria namun terhempas.
"Ala bakal kalah karo becik, Shakuni, Duryudana lan Dursasana bakal mati. Ala bakal dikalahaké déning kabecikan lan katresnan," ulang Satria mengucapkan mantra penangkal berulang kali.
Sampai Juminten menutup telinganya lalu pergi menghilang. "Alhamdulillah," ucap Satria yang merasa lega.
"Kula badhe males piwales dhateng panjenengan, turunipun Puspita Sari!!" sumpahnya.
Satria lupa jika ada satu lagi yang belum ia kalahkan, Nyai Sundari lalu menghempaskan tubuh Satria ke kasur.
"Anjeun tiasa ngusir Juminten tapi kuring bakal ngadamel itungan pikeun anjeun."
Nyai Sundari lalu memukul wajah Satria dan membuatnya lebam di bawah bibir, Satria lalu menusuk perut Nyai Sundari dengan kerisnya lalu berdarah.
Seketika angin kencang berhembus, jendela kamar terbuka dengan keras.
Brakkk
Terbukalah portal dari Jendela menyerap semuanya yang ada dalam kamar seperti pusaran air. Satria berpegangan kasur tetapi terhisap dan mencoba memegang pintu tapi hasilnya sia-sia, sampai Satria juga terhisap.
Satria tersadar dari Lucid Dreamnya dengan luka di pipi dan tangannya sama persis seperti yang di alaminya barusan, "Satria kau sudah sadar pula." Ucap salah satu teman Satria.
"Lah gua tadi ngapain," ujar Satria bingung.
"Eh ini ngapain meluk gua? Gua masih normal Sandi jangan di perkosa," kata Satria menyingkirkan Sandi.
"Ah gaya kali kau sudah di tolong, nyesal aku nolong kau!" makinya tak terima.
"Lah gua tadi ngapa, nih junior ngapa pada disini?" tanyanya kepada Sandi.
"Tadi kau kerasukan! Ya kami tolong lah! Sampai terbang-terbang pula kau!" ujar Sandi.
"Lah terus yang nolongin siapa?" tanya Satria.
"Ya Mayor Jenderal Nathan lah." Mendengar itu Satria membulatkan mata takut jika ayahnya memenggalnya, "sekarang dimana?" tanya Satria sambil menelan ludah kasar.
#Bersambung