
Victoria terdiam di mobil dengan linangan air mata karena ketakutan, sungguh tadi adalah hal yang menyakitkan tatkala Hans membentaknya.
"Apa yang terjadi tadi?!" tanya Hanson dengan dingin pada putrinya sambil menyetir.
Jujur ia amat malu dengan tingkah putrinya ini lantaran tidak bisa bersikap santun kepada koleganya.
Victoria dengan terbata-bata mengungkapkan semuanya tentang pemaksaan yang dilakukan putra keluarga Russell padanya, Hanson tersenyum lebar tatkala gayung bersambut.
"Bodoh! Kenapa je tolak?!" makinya pada sang putri.
"Karena aku tak mencintainya," ungkapnya kepada sang ayah.
"Tapi kenapa hidup je akan terjamin, je sangat bodoh."
"Papa bukannya sudah cukup kaya raya, untuk apa menikahkanku dengannya?!" tanya Victoria suaranya tak kalah tinggi.
"Untuk pengaruh ku!" bentaknya.
Cih, ternyata sama saja tidak Nathan dan Hanson semuanya sama-sama serakah kenapa dirinya harus terlahir dari para ayah yang serakah ini.
"Papa dengar aku masih muda dan aku belum siap untuk menikah," tegasnya.
"Apa salahnya jika je saling mengenal lebih dekat dengan Hans Russell."
Victoria kesal bukan main rasanya ia ingin sekali mencakar wajah ayahnya ini, sungguh gila dirinya harus menikah dengan seorang yang menjadi musuhnya yang benar saja.
...****************...
Victoria makan malam bertemu dengan Nadia yang tengah membaca koran dengan santainya, Hanson mulai percakapan soal Victoria dan Hans yang harus menikah.
"Aku membenci Hans Russell!" ungkapnya.
Ungkapan itu membuat kedua orangtuanya menoleh ke arah Victoria, Hanson menatap putrinya dengan kesal.
"Kenapa je membenci Hans?" tanyanya.
"Ya karena dia di kehidupanku pernah membullyku, bahkan menghinaku."
"Lupakan saja! Aku pikir kalian mengerti penderitaanku!" ungkapnya dengan derai air mata.
Victoria meninggalkan ruang makan begitu saja lalu pergi ke kamarnya dengan menangis, lalu menutup pintu. Nadia bersama Hanson menatap satu sama lain menandakan keduanya sangat lelah dengan kehidupan ini yang menurut keduanya begitu rumit.
"Je selalu memanjakannya!" umpat Hanson menatap Nadia.
"Kau yang selalu memberi kebebasan untuknya setiap mau aku didik, kau menghalangiku!" tunjuk Nadia yang tak mau kalah.
Mereka bertengkar satu sama lain dan tak menyadari jika seorang anak laki-laki memperhatikan keduanya dari ujung meja makan, yang mengunyah makanan dengan santai.
Jason Van Buthjer altar milik Satria, dirinya sudah menduga hal ini akan terjadi lantaran Dania membenci Louis sampai ke alam dimensi ini.
"Mama en Papa ik mau ke kamar Victoria," ucap Satria dalam wujud Jason.
Jason menyudahi makan malamnya lalu menuju kamar Victoria, ia menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu lalu mengetuk pintu.
Tok! Tok!
ketuknya dengan keras tapi terdengar sopan, "siapa?" tanya penunggu kamar.
"Ini gua! Jason!" ujarnya saat bicara seperti biasanya.
Victoria membuka kenop pintu lalu memeluk Satria dalam tubuh anak Belanda, "ayo masuk kita ngomong di dalam nanti mama sama papa denger." Satria langsung masuk sambil menarik tangan Dania.
Setelah menutup pintu Jason menghembuskan nafas lelah lalu menatap Victoria dengan wajah penuh tanya, "lu kok bisa bikin papa malu?" tanya Satria dalam wujud Jason.
"Gua udah ngomong sendari awal ama lu, ikutin alur mainnya kaya lu mainan monopoli." Satria melanjutkan kalimatnya dalam wujud Jason, melipat kedua tangannya lalu menatap Victoria yang sebagai kakak.
Satria yang sebagai Jason membulatkan matanya tatkala ia mendengar kenyataan jika Hanson berusaha menikahkan Victoria dan Hans, "wah gak bisa dibiarin kalo begini kapan ikatan setan ini bakal putus!" ucap Satria tak terima.
"Nah makannya bang! please lah bang bantu gua," pinta Dania dalam wujud Victoria.
Jason berjalan mendekat lalu memeluk Victoria yang sebagai kakaknya di dalam dimensi ini, "kita bakal sama-sama putusin ikatan setan ini." Satria berbisik sambil setia memeluk Dania.
"Bang gua lebih milih nikah ama Bang Amir, daripada nikah anak tuh Bule Depok." Dania bicara membuat Jason melepaskan pelukannya.
"Yaudah kita tidur sekarang kita balik ke dimensi manusia, ada hal yang harus lu tahu." Jason bicara lalu pergi menutup kamar Victoria.
'Ini gak mungkin jangan sampai Hans ama Victoria nikah bisa panjang urusannya, mestinya gua dan Dania kesini buat mutusin lingkaran altar ini bukannya sambung-menyambung kaya pipa gas. Kalo sampai Hans nikahin Victoria otomatis adek gua Dania juga harus kawin ama Louis," batin Jason.
Saat berjalan tiba-tiba dirinya bertabrakan dengan ibunya yakni Nadia, yang membuat kesalahan dengan menikahi hantu Belanda dan membuat anak-anaknya menjadi korban karena perbuatannya.
"Ma-mama," ucap Jason sambil menelan salivanya.
"Apa yang kau lakukan disini? kenapa belum tidur?" tanya Nadia sambil membawa lilin dengan wadah vintage, Jason menatap ibunya.
"Ik belum tidur tadi baru dari kamar Victoria," ujarnya.
"OK, masuk kamar sekarang!" perintah Nadia sambil menghembuskan nafas lelah.
Jason masuk kamar lalu menutup pintunya ia amat bingung harus apa sekarang dirinya juga harus mencaritahu mengenai siapa Louis atau Hans, apa dia bertujuan membuat dirinya dan sang adik terjebak atau benar Louis memang mencintai Dania.
Tubuhnya baru di baringkan ia mendengar suara kucing hitam mengeong dari arah jendela, suara yang khas tak seperti kucing pada umumnya. "The Black Robe," ucapnya dengan pelan lalu membuka jendela membiarkan kucing hitam itu masuk.
"Apa yang membawa anda kemari Tuan lorong waktu?" tanyanya.
Satria tak bisa mengambil kesimpulan atau menerawang karena sangat sulit dirinya dalam wujud Jason, lantaran ia tak bisa menerawang.
"Baiklah keluar dari kamarku kita bertemu di lorong waktu," katanya lalu membiarkan kucing hitam itu keluar.
Jason membersihkan diri dulu baru ia tidur, saat tertidur ia tentu melewati lorong waktu. Suara jam berdenting satu sama lain dan ada suara musik klasik dan berbagai musik yang membuat telinganya berdengung.
"Satria Arjuna Rejaya!" panggil si jubah hitam dengan tudung dan tangannya membawa tongkat yang atasnya adalah jam berbentuk huruf romawi.
"Apa maksudnya ini? saya minta ikatan setan ini diputuskan!" tegasnya.
"Tak semudah itu, jika manusia sudah mengikat perjanjian dengan setan maka akan sulit melepasnya." Si Jubah hitam menjelaskan lalu melihat jam saku seperti jaman dulu.
"Tapi ada satu jalan," ucapnya.
"Apa itu?" tanya Satria.
Jubah hitam menghilangkan tongkatnya lalu kedua tangannya mengeluarkan benda-benda seperti pedang, tali, dan pistol.
"Mana yang kamu mau pilih, Nak?" tanyanya.
"Apa maksud benda-benda itu?" tanya Satria yang tak mengerti.
"Pedang artinya kamu bisa memutuskan ikatan setan ini dengan bunuh diri di dimensi jaman penjajahan, Tali kamu bisa memutuskannya lewat jalur pernikahan dengan manusia dan manusia, dan pistol kamu dalam wujud manusia bisa bunuh diri dan kembali dalam pelukan keluarga Van Buthjer."
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar langsung terawangannya mulai berfungsi karena dirinya sudah mulai menjadi Satria, dirinya mengerti benar apa maksud dari penjelasan Si Jubah hitam.
"Saya memilih Tali, saya akan menikah...menikah dengan gadis yang eyang saya pilihkan." Pilihan Satria kepada si Jubah hitam.
"Pilihan yang bagus tapi bagaimana dengan Dania adikmu, mengingat perlakuan ayahmu. Kamu tahu mereka berdua selalu bertengkar berbeda jauh saat Hanson memperlakukan Victoria," tutur si Jubah hitam.
Mendengar penuturan itu Satria naik turun, wajahnya memerah menahan emosi bagaimana pun caranya drinya harus mempengaruhi Dania agar mau menikah di dunia manusia dan melupakan Hanson selamanya.
Karena dunia dimensi itu hanyalah ilusi semata, yang sebenarnya itu adalah dunia jin.
#BERSAMBUNG