SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP 2 : SHINOBI SYSTEM

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP 2 : SHINOBI SYSTEM
Chapter 214 Giriwa


"Senpo: Rasenraikoha!" Akira segera mengeluarkan putaran air yang sangat cepat dan kecil untuk mengoperasi wanita paruh baya tersebut.


Ujung jarinya di tusukan tepat ke ulu hati Hiza, akkira memejamkan mata menggunakan Tenseigan untuk mencari semua sel kitana yang menggerogoti tubuh Hiza.


7 lapar.


Akan tetapi, Akira tidak menyerah, ia terus meningkatkan chakra senjutusunya untuk menakn sel kitana yang kontradiktif dengan chakra senjutsu.


"Guhak!" Dalam keadaan pingsan Hiza memuntahkan banyak darah yang sudah berwarna hitam pekat.


"Masih belum berakir, aku akan menambahkannya lagi. Saibo no kaseijutsu!"


Akkira menyatukan chakra biaasa dengan chakra senjutsu untuk menekan seluruh sel Kitana yang sudah menjangkiti aliran darah di tubuh Hiza.


Ini adalah kasus sel Kitana yang sangat parah pada tubuh manusia, dan tidak bisa diselesaikan dengan hannya satu dua medikal ninjutsu.


Akira mecoba merubah struktur jaringan sel di dalam tubuh Hiza agar lebih kuat antibodi miliknya melawan sel Kitana.


Chakra senjutsu telah menyatu ke dalam tubuh Hiza dan menekan dengan cepat sel Kitan kedalam liver miliknya, "Fyuh, berhasil. Sedikit lagi, ayo!"


Akira berteriak menyemangati dirinya sendiri, sedangkan Mikha mennyeka keringat di dahhinya aggar tak mengganggu konsentrasinya. Bulir-bulir bening tersebut sanggat deras menetes di dah Akira.


Sel-sel Kitan di sluruh aliran darah Hiza dan yang bersarang di dalam beberapa bagian vital anggota tubuhnya digiring ke arah liver.


Kumpulan sel--sel Kitana trsebut berkumpul di dalam liver dan membenuk sebuah kristal prisma hhitam legam.


Kristal tersebut Akira uraiikan agar cair dan bisa dikkeluarkan dengan gelembung air dri jurus senpo: rasenraikoha.


"Huff ... huff ... huff ...." Dada Akira kembang kempis dan terduduk lemas dengan tangan kanan memegang kristal primsa Kitana.


Ketika memegang kristal tersebut, Akira dapat merasakan perasaan positif dari Hiza yang terkumpul di dalam kristal prisma Kitana tersebut.


"Pantas saja bertmbah kuat dan berevolusi. Sel-sel tersebut mempunyai kesadaran sendiri untuk menyerap energi positif dari korban," gumam Akira dan mencoba menormalkan ritme nafasnya yang tak beraturan dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Mikha, aku minta tolong minumkan il hiringu ini ke nyonya ini," kata Akira memberikan pil berwarna hijau ke Mikha yang ia keluarkan dari tas pinggan kecil di pinggang kirinya.


Mikha menelankan pil hijau tersebut ke dam mulut Hiza setelah menerima pil itu di tangannya, "Semoga nyonya baik-baik saja."


"Hiza keluarlah!" Suarra seorang lelaki berteriak dari luar ruko seperti suara marah.


"Tenanglah, aku akan melihatnya." Mikha yang akan melihat keluar ditahan oleh Akra.


Pemuda berambut putih tersebut keluar dengan berjalan perlahan dan langsung disambut oleh bogem mentah milik penagih hutang, "Mampus kau!"


Akira sengaja menerima pukulan itu dan tak terasa sakit sama sekali, "Maaf, tuan. Anda mencari nyonya HIza ya? Mohon maaf nyonya Hiza sedang pingsan. Ada yang bisa dibantu?" katanya dengan tersenyum ramah walaupun sudah menerima pukulan dari salah satu penagih hutang tersebut.


Kali ini Akira berperan menjadi dokter yang tak memiliki emosi sama sekali. Jadi ia harus benar-benar menjiwai, bahkan Akira dengan sengaja menyegel emosi dan perasaannya agar shinobi Konohagakure tak curiga dengannya.


"Tuan, kandung kemih anda sakit. Jika dilanjutkan maka anu tuan selamanya akan mati dan tak bisa berdiri," jelas Akira dan membuat penagih hutang tersebut melebarkan mata.


Pasalnya, penyakit tersebut tidak ada yang mengetahui bahkan sang istri, "Ka-kamu?! Bagaimana bisa tahu?!"


"Aku tahu tuan. Aku seorang dokter, namaku Onani Ino," kata Akira dengan senyum ramah dan melanjutkan, "Aku akan melunasi hutang nyonya Hiza. Bisa bawa aku ke Giriwa sama untuk menyelesaikan masalahnya?"


"Baik, tapi bisakah kau menyelesaikan penyakitku ini?" pinta Ozaru, salah satu penagih hutang.


"Bisa, tuan. Tapi ada harga yang cukup mahal yang harus anda bayarkan. Setelah ini hubungan anda dengan istri pasti sangat harmonis. Silahkan minum pil hiringu ini!"


Akira dengan tersenyum ramah memberikan pil tersebut, "Itu tidak masalah. Selama aku bisa sembuh berapapun aku bayar, tuan Giriwa pasti akan memberikannya berapapun," balas Ozaru segera mengambil pil tersebut dan menelannya.


Hanya dalam satu nafas, pil hijau tersebut langsung bereaksi, seluruh organ vitalnya dipulihkan dan ia merasa lebih awet muda, "Dok-dokter?! I-ini sangat luar biasa?!" ucapnya dengan mata melebar dan tersenyum puas.


Akira segera dibawa dan diapit oleh kedua shinobi bayaran yang disewa oleh Giriwa dan dihantarkan ke sebuah mansion di sebelah timur Konohagakure.


Mereka tiba setelah 20 menit berjalan kaki, dan langsung disambut oleh banyak shinobi serta bandit yang bekerja dibawah komando Giriwa.


Semua penjaga menatap sinis Akira, tidak bagi Ozaru. Dia sangat senang, surga yang selama ini ia rindukan akhirnya bisa dinikmati kembali.


"Dokter, berapa yang harus aku bayar?" bisik Ozaru ke telinga kiri Akira.


"20 juta ryo," jawab Akira lirih di telinga kanan Ozaru dan membuatnya melebarkan mata.


"Apa dokter ingin memerasku, hah?" bentak Ozaro dan bersiap melepaskan pukulan kuat, namun secepat kilat ditotok titik tenketsu bagian pinggul agar Ozaru tak bisa melangkahkan kaki.


"Tuan, aku sudah menyembuhan penyakitmu dan kau bilangbisa membayarku berapa saja. Tapi kau malau berlaku padaku seperti ini, apakah ini balasannya. Jika ini yang kau inginkan aku bisa membuat anumu lebih busuk lagi dan cepat mati," kata Akira dengan tersenyum licik.


"Kau jangan macam-macam atau ---"


"Atau apa?" potong Akira yang sudah melakukan hal yang sama pada kelima shinobi bayaran yang mengapit tubuhnya.


"Ka-kau?! Tolong lepaskan aku, hah ...!" Semua shinobi bayaran termasuk Ozaru menangis keras dan membuat Giriwa terusik, padahal iasedang santai meminum teh hijau.


Tubuh mereka total lumpuh dan tak bisa digerakan, membuat penjaga yang menjaga mansion Giriwa gemetar dengan raut muka seputih kertas.


"Siapa kamu?" teriak Giriwa membawa pedang besarnya dengan urat otot yang menonjol di dahinya, matanya nyalang dan muknya memera penuh amarah.


Akira mengeluarkan uang 10 juta ryo yang sudah dimasukan ke dalam gulungan dan melemparkannya kasar dengan tersenyum tipis ke arah Giriwa, "Itu uang muka atas hutan nyonya Hiza. Sisanya mintalah pada merek berenam, mereka berhutang padakku masing-masing 20 juta ryo."


"Jangan main-main denganku!" bentak Giriwa semakin keras teriakan suaranya dan berapi-api.


"Giriwa sama, janganmarah-marah. Jika anda terus marah-marah bukan tidak mungkin penyakit jantung anda akan kambuh," celetuk Akira danmeredakan emosi Giriwa.


"Kenapa dia bisa tahu tentang penyakit jantungku yang semakin parah? Siapa pemuda yang berada di depanku ini?" batin Giriwa menatap Akira dengan membulatkan mata.