
Diana pun masuk ke kamarnya, melihat ranjang sudah bertabur dengan mawar merah segar, dia merasa sayang untuk menidurinya. Dia pun memutuskan untuk pindah kamar saja. Baru saja ingin melangkah, tapi bagian kepala Diana dipukul hingga dia pun pingsan.
Pria asing itu mengambil foto Diana yang dia ikat dikursi, lalu mengirimkannya kepada Katie, "Bagus," pujinya kepada orang bayaran itu.
Diana adalah sandera untuk mendapatkan Charlotte. Pria asing itu melakukan video call dari ponsel Diana, dan memperlihatkan keadaan Diana yang sedang tidak sadarkan diri, diikat di kursi. Kedua mata charlotte pun terbelalak melihatnya. Sambungan video Call pun terputus.
Baru saja ingin berdiri mencari Sean, Pada saat ini ponsel Charlotte berbunyi, itu adalah panggilan dari ponsel Diana.
"Siapa kau?" tanya Charlotte dengan nada berapi-api.
"Halo," ujar pria asing yang saat ini menguasai ponsel Diana.
"Jika ingin Diana selamat, maka datanglah ke kamar pengantin sekarang!" perintah pria itu.
"Jika kau menutup sambungan ponsel ini maka aku akan langsung menghabisi temanmu, sekarang berjalanlah keluar dan bicara tentang apa saja di sambungan ponsel ini!" Perintah pria itu lagi.
Pria asing itu sengaja meminta Charlotte terus berbicara di sambungan telpon itu, memastikan jika Charlotte tidak sempat mengadu dengan siapa-siapa. Khawatir dengan Diana, maka Charlotte pun mematuhi perintah pria asing itu. Dia pun berjalan menuju ke kamar pengantin sambil bicara sembarang di ponselnya.
Hati Charlotte galau tak terkira, jika terdeksi mengadu maka nyawa Diana dalam bahaya. Frezy berpapasan dengannya di koridor tapi Charlotte tidak menyapanya malah sibuk bicara di ponselnya.
Bahkan Charlotte tidak memandangnya, Frezy memperhatikan tangan Charlotte membentuk tanda internasional, memberitahu jika situasi dirinya dalam keadaan bahaya. Dalam hati dia berharap jika Frezy bisa mengerti tanda itu.
Mengenali tanda itu, maka Frezy langsung saja menyusul langkah Charlotte. Dia menarik lengan kawan baik tunangannya itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Charlotte menunjuk kepada ponselnya, tapi tidak bisa berkata jika pria yang sedang berbicara dengannya itu adalah penculik Diana, dan sedang menyandera Diana.
Frezy mengikuti Charlotte, melihat jika menuju ke kamar pengantin. Frezy mulai sedikit menyadari. Lalu dia berdiri menghalangi langkah Charlotte.
Frezy menunjuk ke kamar pengantin, lalu memberikan angka dua dengan jari tangannya. Charlotte mengangguk. Lalu Frezy merubah jari tangannya seperti simbol pistol. Charlotte mengangguk lagi.
Wajah Frezy pun menjadi muram, tatapa matanya berubah sepersekian detik menjadi tatapan dingin. Dia meletakan satu jari tangannya di bibir, memberi tanda agar Charlotte tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya yang sedang mengikuti dirinya.
Charlotte menggangguk paham, pada saat ini dia hanya bisa mengandalkan Frezy saja. Dia berharap Frezy memiliki rencana yang bisa menyelamatkan Diana.
Pada saat ini Frezy melihat ibu hamil lain yang sedang ingin memasuki kamarnya, lalu dia segera berlari ke ibu hamil itu. Menyapanya dan membisikan sesuatu. Wanita itu mengajak Frezy masuk ke dalam.
Frezy memberi tanda agar Charlotte tetap diam di tempat. Tidak butuh waktu lama, Frezy keluar dengan memakai baju hamil, dan rambut palsu. Charlotte meliht itu dan memgerti maksud Frezy.
Charlotte membaca kertas yang diberikan frezy ke tangannya, "Tetaplah bicara dan masuk ke kamar yang tadi aku masuki, aku akan membunyikan bel pintu, maka tutuplah sambungam ponselnya."
Charlotee berjalan menuju kamar wanita hamil yang tadi membantu Frezy. Melihat jika Frezy sudah membunyikan bel pintu maka, Charlotte memutuskan sambungan ponselnya.
Frezy memakai masker, untuk menyamarkan rupa wajahnya. Cahrlotte langsung saja menghubungi Sean. Suaminya itu langsung saja meninggalkan ruang rapat, ini adalah hari pertama dia secara resmi memiliki Quaint hotel. Jadi belum secara penuh menginspeksi keadaan hotel ini secara detail. Sementara itu Pintu terbuka, Frezy masuk sambil memegangi perut palsunya yang nampak besar itu.
Kaeadaan kamar nampak sedikit remang-remang, cahaya berwarna oranye dari lampu diatas nakas membantu menyamarkan penampilan Frezy. Melihat tubuh Diana terbebat tali, itu mematik kemarahan di hati Frezy.
Kamar pengantin mereka ini adalah sebuah kamar suite bertipe connecting room. Kamar jenis ini adalah dua kamar yang memiliki pintu 'spesial' di tengah ruangan yang bisa menghubungkan kamar kamar yang satu dengan kamar hotel lain yang ada di samping.
Pria asing itu tertawa senang karena Charlotte patuh mendengarkan perintahnya. Sementara Frezy perlahan mendekati conecting room, berpikir jika saat ini Charlotte pasti sudah menghubungi seseorang. Jadi dia harus bisa membuka pintu itu.
Frezy berhasil mendekat ke pintu conecting room itu, dan berhasil membukanya tanpa mengundang kecurigaan pria asing itu.
"Ayo, cepat kemari!" Perintah pria asing itu lagi.
Frezy menuruti perintah pria asing tersebut, lalu pria itu mengeluarkan senjata api yang sudah diberi peredam. Misinya sudah sangat jelas. Jika Charlotte harus dibunuh, lalu kesalahan semua dilimpahkan kepada Diana.
"Semoga kalian berdua tenang di akhirat," ujar si pembunuh bayaran kepada Frezy yang disangka Charlotte.
Frezy terpaku diam, dia berpikir, jika targetnya sedari awal bukanlah Diana, tapi Charlotte, "Katie," gumam pelan Frezy.
Mendengar suara yang keluar bukanlah suara wanita, melainkan suara laki-laki, si pria asing langsung menyalakan lampu, "Kau seorang pria?" ujarnya dengan bernada kesal.
Sekali lagi pria asing itu membidikkan senjata apinya, tapi kali ini bukan ke Frezy melainkan kepada Diana, "Bukankah sudah aku bilang jika tidak menuruti perintahku maka dia aka mati."
Pada saat ini Frezy bingung harus melakukan apa, peluru dan langkahnya tentu lebih cepat lesatan peluru itu, dia hanya bisa berteriak, "Tidak!"
Tiba-tiba pria asing itu ambruk, Frezy menoleh kepada pintu connecting room. Sean berdiri dengan masih mengacungkan senjata apinya kepada pria asing itu.
Sean menggunakan p*stol Glock yang sudah dilengkapi oleh peredam suara. Senjata api ini biasa digunakan oleh angkatan bersenjata dan lembaga penegak hukum di seluruh dunia, termasuk sebagian besar lembaga penegak hukum di Amerika Serikat.
Hati Frezy tadi terasa ingin lepas dari tempatnya, tapi Sean datang di detik terakhir dan meletakan kembali hatinya ke tempat semula. Frezy segera saja menghampiri Diana, "Bangun, ayo bangun."
Frezy terus membangunkan Diana seraya mengecup kecup wajah Diana dengan lembut. Sean menendang pria asing itu, memastikan jika dia sudah tidak bisa melawan.
"Bersihkan kekacauan ini, dengan senyap!"
Sean memegang bahu Frezy, lalu berkata kita perlu bicara serius."
Frezy pun berdiri begitu melihat sekretaris Sean membuka ikat tali yang mengikat tubuh Diana.
Sean membawa Frezy ke ruangan kerja Diana, lalu tanpa basa-basi dia berkata, "Jadi bagaimana, apakah sudah memutuskan berdiri dipihak mana."
Frezy menatap tajam kepada Sean, "Ya aku sudah mengetahui tentang kau dan Katie," ujar Sean.
Frezy adalah putra pertama dari Tuan Crownly, tapi ibu Katie memanipulatif semuanya, sehingga terjadilah tragedi rumah sakit jiwa bagi Nyonya Crownly yang sah.
Sean berkata lagi, "jika kau ingin merebut kerajaan bisnis Crownly, maka aku akan dengan senang hati membantumu," Sean memberikan penawarannya.
"Aku tahu kau keadaanmu ini spesial, tapi bukan berarti kau tidak bisa membedakan salah dan benar," ujar Sean.
"Wanita itu tidak pernah menempatkanmu sebagai keluarga, bahkan dia dengan tega menyewa pembunuh bayaran yang hampir saja merenggut belahan jiwamu," ujar Sean memprovokasi Frezy.
Untuk sesaat mereka terdiam, lalu Frezy memberikan jawabannya, "Jika aku membuat kekacauan, apakah kau mau membereskannya?"