
Bab 40
Sean menutup ponsel nya, dan segera berbalik arah untuk menemui Enzo yamg baru saja tiba. Di rumah sakit, sedikit-sedikit Katie melirik ke pintu. Menunggu kedatangan Sean.
Nyonya Barbara berkali-kali menghubungi ponsel sean namun tidak terjawa, "Mengapa jadi lama sekali," pikir Nyonya Barbara.
Sean menekan bel pintu rumah Enzo dengan tidak sabaran, kawan nya itu membukakan pintu sembari meyesap minuman cola lalu dia berkata, "Apa kau ini sedang di kejar-kejar hantu?"
"Jadi apa yang kau temukan?" tanya langsung Sean tanpa basa-basi.
"Jadi ini alasan mu mengirim ku untuk menyelidiki, karena kau tahu ada orang mu yang terlibat dengan kematian Tuan Brown?"
Sean duduk, sambil bersandar. Terkadang dia merasa lelah menjadi ahli waris dari keluarga Smith. Terkadang juga dia harus berpura-pura tidak tahu apa-apa agar lebih leluasa untuk mencari tahu. Tak sedikit kerabat keluarga sendiri malah ingin menghancurkan diri nya.
"Apa kau tahu, tujuan orang itu menemui Tuan Brown?" tanya Sean.
"Memindahkan semua saham kepemilikan atas nama Charlotte Brown," jawab Enzo.
Sean menaikan alis nya, Seraya berpikir ayah macam apa, yang mewariskan bisnis dalam keadaan hancur dan hutang di mana-mana.
Enzo sedikit tertawa dan berkata, "Bukankah ini sangat kejam?" ujar Enzo sedikit mengasihani Charlotte.
"Apa kau tahu siapa orang nya?" tanya Sean lagi.
"Tidak pasti, yang aku tahu hanyalah informasi dari salah satu wanita yang aku temui di klub malam. Karena dia berhasil mengambil Pin identitas Grup Smith kalian.
Pin identitas ini terbuat dari emas 24 karat. Pin ini hanya diberikan untuk pejabat level tinggi di Grup Smith. Enzo pun berkata, "lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja mengadakan pertemuan," jawab Sean.
Di Grup Smith jika ada pertemuan manajerial, maka wajib memakai Pin identitas itu. Jika perusahaan lain memberikan seragam sebagai identitas kantor, maka Grup Smith memberikan Pin Emas 24 karat dengan design yang berbeda-beda untuk setiap level jabatan.
Pin identitas ini wajib di pakai ketika ada acara pertemuan-pertemuan penting. Dan, Grup Smith akan tahu jika ada yang menjual PIN itu dari jejaring bisnis perhiasan yang ada di bawah Grup Smith pasti akan mengetahui nya.
Enzo mengetahui tentang ini, karena wanita itu menjual nya di toko emas. Lalu dia menemui wanita itu di klub malam. Wanita itu pun bercerita tentang hal yang dia tahu itu.
Sean mengadakan perjamuan penting atas nama perusahaan, karena ingin melihat siapa yang tidak memakai PIN identitas grup Smith itu.
"Segera atur?" ujar Sean.
Sean pun berdiri, lalu Enzo berkata, "Mau ke mana?"
"Ke Rumah sakit," jawab sean.
"Katie atau Charlotte?" tanya Enzo lagi.
Sean diam saja tidak menjawab dan langsung pergi dari rumah kawan baik nya itu. Enzo pun tertawa, hati nya menebak itu pasti Katie.
Sean pun tiba di rumah sakit, begitu masuk sudah di sambut oleh suara sendu Katie setengah menangis.
"Dari mana saja, mengapa lama sekali baru datang?" ujar Katie.
Sean duduk di ranjang Katie, mengambil tangan wanita itu lalu menggengam nya seraya berkata, "Ada sedikit pekerjaan yang harus aku kerjakan."
"Apakah pekerjaanmu lebih penting daripada aku?" tanya Katie lagi.
"Kau sedang sakit, sebaik nya jangan terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh ok!" Nasihat Sean.
"Aku akan bicara dengan dokter," ujar Sean.
Sean pun keluar dari kamar rawat inap, bertemu dengan dokter, "Jangan memicu sumber stress bagi nya. Jauhi hal-hal yang bisa membuat emosi nya terganggu," ujar dokter itu.
"Ssst ... dia baru saja tertidur," ujar Nyonya Barbara.
Sean memandangi Katie seraya bepikir jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin Katie tidak akan sering keluar masuk rumah sakit. Katie mengetahui jika jauh di dalam hati Sean, meyimpan sedikit keraguan kepada nya. Karena itu dia berusaha mengontrol, memanipulasi semua orang yang ada di sekeliling Sean agar mau membantu nya berbohong di depan Sean.
Sean melihat kepada Nyonya Barbara, lalu dia berkata, "Aku akan menjaga nya di sini."
"Jika begitu aku akan pulang," ujar Nyonya Barbara.
Di Quaint hotel, nampak Charlotte sedang mengantar Nyonya Grifin pergi, "Terima kasih karena sudah memberikan pergelaran busana yang indah."
"Aku yang seharus nya berterima kasih," ujar Charlotte.
"Quaint hotel terpesan penuh," bisik senang charlotte.
"Semoga kita bisa bekerja sama lagi," ujar Willy menyalami Charlotte lagi.
Mobil yang membawa tamu agung bagi Charlotte pun melaju pergi. Baru saja dia memasuki lobi hotel, tiba-tiba seorang wanita gendut dengan muka merah meradang melempari Charlotte dengan telur dan juga menjambak rambut nya.
"Dasar wanita penggoda," ujar wanita gendut itu.
Papa beruang yang melihat Charlotte di jambak rambut nya sampai terjatuh. Langsung saja melerai dan melindungi Charlotte.
Petugas keamaan memegangi wanita gendut yang masih meronta-ronta itu. Papa beruang membantu Charlotte berdiri, lalu mengeluarkan sapu tangan nya untuk membersihkan telur yang menempel di rambut charlotte.
"Nyonya apa kau sudah gila?" Hardik Papa beruang.
"Dia yang sudah gila!" Hardik si wanita gendut sambil menunjuk-tunjuk kepada Charlotte.
"Bawa dia keluar dari sini, dan tuntut dia karena sudah membuar keributan!" perintah tegas Papa Beruang.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Papa Beruang.
Charlotte mengangguk, lalu segera membawa Charlotte menjauhi kerumunan orang yang sedang merekam nya. Petugas keamanan turun lebih banyak untuk membubarkan kerumunan itu.
Di ruang kerja Papa Beruang, "Apa kau kenal dengan wanita itu?"
"Tidak kenal," jawab Charlotte.
"Jika begitu apa tujuan nya memakimu seperti itu?" tanya Papa Beruang.
"Entahlah," jawab Charlotte.
Salah satu staff memasuki ruang kerja Papa Beruang seraya berkata, "Sebaiknya lihat ini!"
Charlotte mengambil ponsel itu, lalu melihat jika di media sosial tesebar video dirinya yang berseragam sedang di jambak sampai terjatuh.
Hati Charlotte menahan sedih sekaligus marah, baru saja Quaint hotel mendapatkan kesan baik. Tapi dalam waktu tidak sampai lima menit, kesan itu seperti menguap pergi menghilang.
Petugas kemanan juga saat ini datang, lalu membawakan kartu tanda pengenal wanita gendut itu.
"Nonya horison," gumam pelan Charlotte, lalu dia berkata lagi, 'Apakah menurutmu dia adalah istri Tuan Horison. Investor yang aku tempo hari aku tampar karena mau melecehkan aku?"
"Sebentar, biarkan aku mengecek nya lebih dulu," jawan Papa Beruang.
Charlotte menganggukan kepala nya, lalu melanjutkan mengkompres pipi nya yang tadi tertampar.
"Apakah ditampar orang menjadi salah satu spesialis yang aku miliki," pikir Charlotte yang belakangam ini berpikir lucu karena selalu tertampar.