SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
MENENDANG PERUTNYA


BAB 51


"Wah, kau benar-benar sakit parah," ujar Enzo sekaligus meledek kawan baiknya itu.


Merasa sedikit lebih fit, sean mencabut selang infus nya, Enzo langsung saja berkata, "Mau kemana?"


"Pulang," jawab Sean.


Sean berjalan dengan masih terhuyung, dan masih memakai baju runah sakit. Melihat keadaannya yang begitu kasihan, Enzo pun tidak menghalangi. Dia pun mengantarkan Sean pulang.


Begitu masuk, alangkah terkejutnya. Enzo banyak melihat foto-foto Charlotte, "Apa dia benar-benar jatuh cinta kepada istrinya itu," pikir Enzo.


Di Finlandia, Tuan Hook baru saja membuka toko bunga, dan meminta Chalrotte yang mengurusnya. Melihat laporan keuangan yang Charlotte buat begitu rapi, maka Tuan Hook berpikir tempat yang pantas untuk Charlotte adalah bekerja dari balik meja. Dan, ini sangat pas untuk Charlotte yang sedang mengandung.


Charlotte sangat senang tinggal di sini, beberapa hari tiba di sini, dia langsung mengirimkam foto kepada Tuan Albert. Mengatakan betapa dia sangat senang bisa mwnghirup udara kebebasan.


Foto itulah yang dikirim oleh Tuan Albert kepada Sean. Alfred membantu Charlotte menjalankan toko bunga ini. Kecantikan Charlote selama kehamilan malah semakin terlihat.


Charlotte berjiniit, ingin mengambil vas kecil yang ada diatas lemari, "Hati-hati, perut Nona sudah semakin membesar lho," ujar Alfred mengingatkan.


"Biar aku saja," ujar Alfred.


Charlotte pun tersenyum seraya berkata, "Terima kasih Kakek Alfred," ujar Charlotte seraya mengusap perutnya.


"Oh astaga," ujar Charlotte.


"Ada apa, ada apa?" tanya Alfred kahwatir.


"Dia baru saja menendang perutku," jawab Charlotte.


Kehamilan Charlotte memasuki bulan terakhir trimester kedua. Kurang dari 3 bulan lagi, si kecil akan lahir ke dunia.


Alfred memapah Charlotte untuk duduk, "Belakangan ini dia sering sekali menendang-nendang," cerita Charlotte.


Charlotte pun tersenyum bahagia, dia teringat lagi dengan Sean, "Aww ..." ujarnya karena lagi-lagi bayinya menendang-nendang perutnya itu.


Alfred dan Charlotte saling memandang, tertawa. Kehidupan mereka benar-benar damai di sini, di kelilingi bunga-bunga yang indah. Sementara itu malam-malam Sean dilalui dengan tidak baik. Perasaan bersalah yang memuncak telah mendera otak dan hatinya. Bahkan hanya demi untuk bisa tidur, dia harus menelan pil tidur yang telah diresepkan oleh dokter.


Pagi ini Sean terbangun dengan perasaan tidak enak, dia mengambil ponselnya dan meminta salah satu petinggi IT di grup smith untuk menyadap ponsel Tuan Albert.


"Tapi Tuan, hal ini bertentangan dengan hukum, itu diperbolehkan hanya dengan alasan tertentu, dan alasan pribadi tidak diperbolehkan" jawab si petinggi IT itu.


"Lakukan saja, aku yang akan menanggung resikonya," jawab Sean.


Petinggi IT itu pun tidak bisa banyak mendebat lagi, ini adalah bos besar Grup smith yang bicar, meski tengah malam dia harus menjawab panggilan telepon itu, dan mematuhi perintahnya.


Sean pergi bekerja seperi biasanya, sambil harap-harap cemas menunggu kabar dari Petinggi IT grup Smith. Disore hari, data yang sean inginkan pun telah tersaji di atas meja.


Sean pun dengan hati tidak sabaran, membuka hasil penyelidikan itu. Tapi dia tidak melihat panggilan telepon keluar pada Charlotte.


Dia membaca satu persatu panggilan dan nama nama daerah yang tercatat di panggilan keluar dan masuk pada ponsel Tuan Albert itu.


"Alfred ... Alfred ..." nama yang Sean lihat tampak banyak dihubungi oleh Albert.


"Finlandia," gumam pelan Sean seraya menutup sambungan ponselnya.


Sean menelpon Enzo dari nomor ektension di ruanganya, "Kapan jadwal ke Finlandia?" tanya Sean.


"Minggu depan," jawan Enzo.


"Masukan aku di dalam daftar!" perintah Sean.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️