SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
INI BAYI-KU


BAB 52


"Ok," jawab Enzo dengan semangat karena merasa jika Sean sudah setengah pulih.


Sean tidak hanya menyadap ponsel Albert. Tapi, dia juga menyadap ponsel Diana. Dan, nama Alfred di Findlandia ada di sejarah percakapan telpon keluar dan masuk yang ada di ponsel kedua orang itu.


Hari pergi dinas ke Finlandia pun tiba. Sean mengamati langit dari balik pesawat jet pribadinya. Seperti sedang menghitung jarak senti ke senti, sedang menghitung tiap jengkal langit. Berharap lebih cepat sampai ke Finlandia.


Enzo mwnyerahkan berkas pekerjaan, "Cek lebih dulu, apa setuju dengan anggarannya?" tanya Enzo.


Sean mengambil berkas itu dan mwngeceknya, sedikit merivisinya, lalu membubuhkan tanda tangannya, Enzo memperhatikan catatan revisi yang Sean tulis, "Bunga Dandelion," baca Enzo.


Sean melihat kepada Enzo yang sedang menatapinya, lalu berkata, "Jika harus tambah biaya, tambah saja."


Enzo bukannya memikirkan tentang tambahan biaya, tapi memikirkan tentang bunga dandelion. Berpikir sejak kapan Sean menyukai bunga dandelion. Tidak ingin bercakap lebih panjang lagi, dia pun hanya mengatakan, "Ok."


Sesampainya di Finlandia, mereka segera ke hotel baru grup Smith yang akan di resmikan dalam beberapa hari ke depan. Sean meyempatakan diri untuk bertemu dengan para staff di sana. Menyapa mereka, dan memberikan motivasi.


Setelahnya, Sean pergi ke kamar sementara Enzo meminta asistennya untuk segera memesan bunga dandelion dalam jumlah banyak, karena sean ingin di setiap rangkaian bunga yang ada di setiap lantai dan kamar hotel ada bunga dandelion.


Beberapa staff pun mulai menyebar menghubungi dan mencari persediaan bunga dandelion. Salah satu dari mereka mendatangi toko tuan Hook. Mengetahui jika toko bunga ini bisa mensuply bunga dandelion dalam jumlah banyak, maka staff itu pun langsung saja memberikan tanda jadi sebesar 50%.


"Terima kasih atas kepercayaannya," jawab Chaerlotte.


Tuan Hook sangat senang mendengar kabar ini, dia merasa jika Charlotte ini benar-benar dewi keberuntungannya. Sebagai tanda terima kasih, dia pun memberikan bonus kepada Charlotte karena telah bekerja dengan baik di beberapa bulan terakhir ini.


Siapa sangka Charlotte malah memberikan semua bonusnya untuk Alfred, "Terima kasih karena sudah setia denganku selama ini," ujarnya kepada pelayan setianya itu.


Alfred meneteskan air mata, lalu malah berkata, "Aku menerima hadiah ini, dan aku memberikannya kepada bayimu sebagai hadiah kelahiran dia nanti."


Charlotte dan Tuan Hook pun saling tertawa. Uang bonus itu pun kembali kepada Charlotte lagi.


Sean juga larut dalam kesibukan, Lusa adalah hari persemian, toko bunga Hook pun bersiap untuk mengantarkan lebih dari 100 rangkaian vas bunga untuk hotel Smith yang baru.


Dia bersama Alfred datang untuk mengantarkan bunga bunga pesanan dan mengambil sisa pembayaran. Hari ini Charlotte memakai gaun selutut berwarna putih dengan sulaman bunga warna warni di sisi bawah gaun.


Charlotte mengepang rambutnya, yang dia juntaikan di sisi kanannya. Terlihat manis dan indah. Sontak saja ini menjadi pemandangan di sana. Meski hamil tapi Charlotte malah terlihat jauh lebih muda.


"Halo Tuan Wintson," sapa Tuan Alfred.


"Apakah semua sudah datang?" tanya Tuan Wisnton.


"Sudah ... sudah semua," jawab Charlotte.


Tuan Winston melihat kepada Charlotte, dan langsung menggagumi kecantikan Charlotte. Dia juga memandangi perut besar Charlotte.


"Aku dengar jika orang hamil itu akan sering merasa lapar," ujar Tuan Winston.


"Iya, kau benar sekali," jawab Charlotte sembari tertawa.


"Jika begitu, silahkan ikuti aku," ujar Tuan Winston.


"Aku akan membawamu ke surga makanan yang ada di sini," ujar Tuan Winston.


Charlotte pun mengangguk, lalu ikut pergi dengan tuan Winston ke restoran hotel Smith ini. Charlotte diberi menu makanan terbaik, dia pun melahap semua makanan yang disediakan sampai habis.


Merasa sudah kenyang, dia duduk sebentar, lalu pergi ke lobi hotel untuk menunggu Tuan Alfred. Charlotte melihat rangakaian bunga di vas besar yang ada di meja bundar yang terletak di tengah lobi hotel.


Dia melangkah mendekati bunga tersebut. Lalu mulai memperbaiki beberapa posisi bunga yang terangkai itu. Pada saat ini sean tengah memeriksa ruang teknisi CCTV hotel.


Layar-layar datar menempel di dinding, dia memperhatikan satu persatu layar tersebut. Hatinya berdegup kencang ketika melihat wajah yang dia kenal dari balik rangkaian bunga yang ada di lobi hotel.


"Semua layar, jadikan gambar kamera yang ada di lobi hotel!" perintah Sean.


Semua layar CCTV pun berubah menjadi gambar Charlotte yang sedang merangkai bunga di lobi. Sean pun langsung berkata, "kunci semua pintu masuk dan pintu keluar hotel.


Sean segera berlari menuju lobi, "Dia di Finlandia, dia di sini," ujar Sean dalam hati dengan hati yang menderu menggebu. Dengan cepat Sean membuka pintu koridor yang memisahkan ruang kontrol CCTV dengan lobi.


Langkah larinya terhenti ketika melihat Charlotte tengah berdiri sembari bertelak pinggang memandangi bunga yang baru saja dia rangkai.


"Nah, begini baru bagus," ujar puas Charlotte.


Tidak ingin kehilangan istrinya itu lagi, maka Sean langsung saja melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Charlotte.


Dengan cepat Sean memeluk istrinya itu dari belakang,"Akhirnya aku menemukanmu," ujar lirih Sean setengah menangis."


Dipeluk dengan tiba-tiba, terang saja membuat Charlotte merasa terkejut dan berontak ingin melepaskan diri. Sean merasa ada yang aneh, "Dia sedang hamil?" pikirnya seraya mengusap-usap perut Charlotte yang tengah membesar itu.


Sean langsung saja membalikan tubuh Charlotte, dan berkata dengan nada suara yang sedikit gemetaran,"K-kau sedang hamil?"


"Sean," gumam pelan Charlotte dengan nada limbung.


Pemandangan ini sontak saja menjadi perhatian semua orang, lalu Charlotte berkata, "Tuan Smith, apa lupa jika kita sudah bercerai."


Sean pun menunduk seraya berbisik, "Aku tidak pernah menandatangani surat cerai itu."


"Lepaskan aku, apa kau tidak malu. Lihatlah banyak sekali orang memandangi kita. Apa tidak takut jika aku akan berteriak dan memancing keributan," ancam Charltotte.


"Tidak takut, jika aku merusak persemian ini?" ujar Charlotte.


"Tidak, silakan saja buat keributan sesukamu. Hotel ... Emmm aku bisa membuat yang lain lagi nanti," jawab Sean dengan tetap sambil memegang tangan Charlotte.


Sean melihat ke perut besar Charlotte lalu berkata lagi, "Ini pasti bayiku kan?" ujarnya dengan penuh percaya diri.


"Tidak, siapa bilang!" jawab Marah Charlotte.


"Berbohonglah sesuka hatimu, tapi anak ini pasti anakku," jawab yakin Sean lagi.


Alfred yang melihat jika tiba-tiba Charlotte berada dalam pelukan seorang pria segera saja ingin meninju Sean, "Lepaskan Nona Brown," ujar Alfred.


Enzo menahan tangan Alfred, dan berkata, "Tuan-tuan sebaiknya kita pindah tempat saja, ok!"


Untung saja, hotel ini masih dalam proses peresmian, jadi hanya pekerja hotel saja yang saat ini menyaksikan jika direktur mereka hampir saja kena pukul.