SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
MENANTANG


Charlotte menghela napas, menoleh sebentar kepada Sean. Lalu dia pun melakukan hal yang sama, memunggungi suaminya itu.


Cahrlotte pun tertidur, tapi tidak dengan Sean. Merasakan jika Istrinya telah terpulas, Sean pun membalikan badannya. Lalu mendekatkan dirinya pada Charlotte.


"Sudah bertemu, mana bisa melepaskan. Beriringan bersama, menua bersama. Begini baru betul." Pikir Sean sambil memeluk Charlotte.


Keesokan paginya, Tuan Harold meminta Diana pergi ke apartemen Frezy untuk sarapan bersama dan mengantar kepulangan Tuan Vic.


Hari ini adalah hari akhir pekan, Diana tidak perlu datang ke hotel. Dia memakai pakaian santai. Kaos berwarna puih, celana selutut berwarna krem, sepatu dan tas senada dengan celana selututnya.


Tuan Vic meminta Frezy menjemput Diana dan Tuan Harold di lobi. Ketika sampai di lobi, Frezy hanya berdiri diam menatap kepada Tuan Harold dan Diana.


"Halo," sapa Diana ramah sekaligus bertanya, "Apa masih ingat aku?"


Frezy mengangguk, Diana berbisik pada Tuan Harold lalu berkata, "Pa, apa dia paham jika aku adalah calon istrinya?"


"Paham ... paham ... dia paham," jawab Tuan Harold seraya mendorong Diana agar berjalan mengikuti langkah Frezy.


Tuan Vic membukakan pintu, "Kalian sudah sampai, aku dan Frezy sudah memasakan masakan kesukaan Diana."


Mereka pun masuk, dan duduk bersama. Diana dan Frezy duduk saling berhadapan. Dia memperhatikan struktur wajah unik Frezy, tapi entah mengapa semakin dipandang semakin tampan, "Wah, dia ini sebenarnya bisa jadi model jika tidak phobia dengan keramaian," puji Diana.


Setelah sarapan bersama dan berbincang, saatnya Tuan Vic pulang. Mereka semua turun ke lobi untuk mengantar Tuan Vic. Lalu secara spontan kedua teman baik itu memiliki ide untuk mendekatkan Diana dan Frezy, "Papa yang akan mengantarkan Tuan Vic, kau bermain saja dengan Frezy. Ajak dia jalan-jalan,"


Tuan Vic ikut menyauti perkataan Tuan Harold, "Ya, ini adalah akhir pekan, kalian berkencan saja."


"Pa ..." ujar Diana terbata seraya menoleh kepada Frezy.


Dengan acuh tak acuh, Frezy meninggalkan Diana, berjalan ke arah lobi. Melihat jika mobil Papanya sudah melaju meninggalkannya di sini. Diana pun hanya bisa mengejar langkah Frezy.


"Hei!" penggilnya kepada tunangannya itu.


Diana mempercepat langkahnya, lalu menghadang Frezy dengan sambil melebarkan kedua tangannya, "Papa mu meminta kita berjalan-jalan, jadi ayo saling mengenal!"


Frezy menaikan satu alisnya, mendengar Diana menyebut kata Papa, pada akhirnya Frezy pun patuh dengan menganggukan kepalanya.


"Ayo, kita naik taksi saja," ujar Diana.


Frezy terdiam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya, dia memberikannya kepada Diana. Sedikit tertegun ketika dia memperhatikan jenis mobil yang Frezy miliki, "Wah kau pandai sekali mencari uang," puji Diana.


"Ayo, aku akan membawamu bersenang-senang."


Diana pun menyalakan mesin mobil, dan melajukannya. Melihat ini adalah mobil tipe atap mobil bisa dilipat, maka dia pun menekan tombol. Dan atap mobil pun terlipat dengan begitu mudahnya.


"Yuhuuu, bukankah ini menyenangkan," ujar Diana yang merasa pasti Frezy tidak pernah merasakan senasi seperti ini.


Frezzy berpegangan pada sabuk pengamannya, dengan wajah panik tapi tidak bisa berkata protes. Mereka berhenti di lampu merah. Disampingnya berhenti mobil yang serupa.


Diana menoleh, dan melihat jika pria itu sedang mengejek tunangannya dengan mengeluarkan jari tengahnya dan menunjukannya kepada Frezy.


Tepat ketika lampu hijau, Diana pun menekan pedal gas mobil dengan kekuatan penuh. Dan mengajak pria yang tadi mengejek Frezy untuk berduel aspal.


Merasa di tantang oleh wanita dan pria yang terlihat ketakutan seperti bocah maka tingkat kemarahan pria itu semakin memuncak. Dia pun menyambut tantangan dari Diana.


Frezy hampir-hampir saja menangis, Diana pun menepuk bahu Frezy dengan satu tangan, dan satunya lagi tetap memegang kendali setir mobil.


"Jangan takut, ada aku di sini," ujarnya kepada Frezy.


Tunangannya itu pun seketika menjadi tenang, di tiap kali Diana mengeluarkan kalimat itu. Dengan cekatan diana bermanuver menghindari mobil di depan, menyalip dengan mulus tanpa membuat mobil ini tergores sedikit pun.