SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
BERAPI-API


# Bab 56


Sean tersenyum lalu menciun kening Charlotte seraya berkata, “Aku akan menyiapkan camilan untukmu.”


Charlotte ternganga melihat perubahan sikap Sean kepadanya, “Apa kepalanya baru saja tersepak keledai?” pikirnya.


Sean menuju ke dapur, menggulung lengan kemejanya dan menghampiri koki di dapur. Koki kepercayaan Sean selama ini. Melihat Tuannya itu ada di dapur. Koki itu pun langsung menjatuhkan buah melon yang sedang dia pegang.


Sean mengambil melon itu lalu berkata, “Ajari aku memasak camilan untuk ibu hamil!”


“Hah! Apa?” ujar Koki itu merasa jika pendengarannya baru saja salah dengar.


“Iya, ajari aku memasak camilan untuk ibu hamil,” ujar Sean.


“Ah iya, iya,” jawab si koki mengangguk.


Koki memberikan celemek masak kepada Sean, lalu si koki mulai mengajari Sean dengan sedikit gugup. Di kamar, Charlotte masih limbung, dia duduk menenangkan hatinya. Lalu dia sedikit tercengang ketika melihat fotonya bersama Sean, mengenakan baju pengantin tengah terpampang di dinding kamar utama itu.


“Apa-apaan ini,” gumam pelannya.


Charlotte menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, itu adalah pelayan dan Tuan Alfred. Melihat yang masuk adalah salah satu pelayan setianya dia pun segera berlari dan memeluk Alfred, “Apa kau baik-baik saja?” tanya Charlotte.


“Jangan berlari! Kalau tersandung bagaimana?” nasihat Alfred.


“Apa kau sudah bertemu dengan Sean?” tanya Charlotte dengan sedikit panik.


“Sudah,” jawab Alfred dengan tenang.


“Tidak terjadi apa-apa, dia hanya memintaku membantunya untuk menjagamu,” jawab Alfred yang mulai menjalani kesepakatannya dengan Sean.


“Dia meminta itu?” tanya Charlotte dengan sedikit tidak percaya.


“Iya, dan bahkan saat ini dia sedang di dapur. Sedang memasak masakan kesukaanmu,” imbuh Alfred lagi.


“Nyonya, aku akan membantumu mandi,” ujar salah satu pelayan yang ditugaskan untuk membantu keperluan Charlotte.


Charlotte terdiam sesaat. Lalu berkata, “Tidak perlu, aku bisa mandi sendiri.”


Setelah selesai membersihkan diri, lalu Charlotte meminta Alfred mengantarnya ke dapur. Dia ingin melihat sendiri apakah yang dikatakan oleh Alfred adalah benar. Begitu sampai dapur, dia malah melihat kehebohan tengah terjadi, wajan yang sedang memasak masakan tiba-tiba berapi-api. Sean merasa panik, dan ini jadi menambah seisi dapur ikut panik.


Alfred dengan cepat mengambil kain lap, dan membasahinya lalu melemparkan tepat pada sumber api, “Astaga, hampir saja kau membakar rumah Nona Brown,” ujar Alfred dengan nada sedikit galak.


Sean pun terbatuk-batuk, keringat tengah mengucur di dahinya, Charlotte mendekat, “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya pada suaminya itu.


“A-aku sedang memasak,” jawab Sean tersenyum dengan polos.


Charlotte memandang sekeliling lalu berkata lagi, “Kau ingin memasak, atau menghancurkan dapur rumah ini?” ujar Charlotte seraya menarik tangan Sean untuk keluar dari dapur.


Melihat tangan mungil tengah menarikya, maka Sean pun patuh ikut kemana Charlotte membawanya pergi. Nyonya Smith membawa suaminya itu ke ruang keluarga dan mulai memarahinya, “Tidak usah memasak lagi, aku juga tidak memintamu untuk memasak. Jadi jangan pernah dekati dapur lagi!”


“Apa kau ingin membakar rumah ini, hah!” ujar Charlotte memarahi Sean lagi.


Sean yang sedang di marahi, malah duduk dengan tenang di sofa mendengarkan ocehan Charlotte dengan tenang dan damai. Seakaan sedang dinyanyikan lagu nina bobo yang terdengar indah di telinganya seperti sebuah lagu balada cinta.