
BAB 49
Charlotte merasa jika kepergiannya ini adalah keputusan yang tepat. Sementara itu dibelaham bumi yang berbeda bukan hanya Sean saja yang mencari Charlotte. Tapi Abraham juga, dia baru saja kembali pulang dari perjalanan dinas. Mencari Charlotte malah mendengar dia sudah pergi.
"Apa kau tahu dia dimana?" tanya Abraham.
Diana terdiam, lalu berkata, "Dia tidak ingin keberadaan nya diketahui."
"Bahkan oleh kau dan juga aku?" tanya Abraham.
"Iya," jawab Diana seraya melangkah menghindari Abraham. Lalu dia berkata lagi, "Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."
Abraham masih merasa tidak puas, lalu menghalangi langkah Diana, "Kau ini kenapa, apa marah kepada ku?" tanya Abraham.
Diana sudah merasa lelah dengan pekerjaan nya, ditambah juga merasa lelah karena selama ini menyukai Abraham dalam diam. Sungguh itu semua menguras tenaga Diana.
Diana pun menghela napas lalu menjawab asal, "Aku akan segera bertunangan jadi aku takut membuat dia nanti salah paham jika melihat kita seperti ini."
Abraham langsung saja melepaskan genganggaman tangannya seraya berkata, "Kau akan bertunangan?" tanya Abraham dengan nada sedikit tidak percaya.
"Iya," jawab Diana seraya melangkah pergi meninggalkan Abraham.
"Tapi dengan siapa?" tanya Abraham lagi seraya mengejar Diana lagi.
Diana tetap saja diam tidak menjawab Tapi, Abraham masih memaksa ingin tahu dengan siapa. Sedikit merass gugup, Diana menjawab, "Tunggu saja undangan pesta pertunangan kami."
Setelah mendengar jawaban Diana, barulah Abraham berhenti bertanya. Dia hanya bisa menatapi kepergian wanita itu sampai menghilang dari pandangannya.
Masing-masing orang tengah berurusan dengan urusan mereka yang pelik. Pengacara keluarga Crownly baru saja mengeluarkan Katie dengan jaminan. Sesampai nya di rumah, Katie langsung saja memecahkan barang-barang. Tuan Crownly tidak kembali ke rumah, semenjak perselingkuhannya diketahui.
Nyonya Crownly pun sama kacaunya seperti Katie, bahkan dia lebih terpukul lagi melihat jika putrinya yang selama ini sepertu malaikat, malah ternyata adalah seorang medusa. Dalam sekejap keluarga yang tadinya harmonis, hancur berantakan dibuat oleh Sean.
Sean semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan nya, Baginya jika tidak melakukan sesuatu maka pikiran dan hati nya akan terus mencandu kepada Charlotte. Membebani dirinya dengan pekerjaan yang setumpuk banyaknya, sedikit membantu Sean untuk tidak terus menerus memikirkan Charlotte.
Pencarian masih terus dilakukan, tapi masih saja nihil, Tuan Albert pun masih bersikukuh, Cerai menjadi kata multark untuk Sean, dan kata tidak menjahdi kata mutlak untuk Sean. Dia tidak mau bercerai dengan Charlotte Brown.
Sean menyandarkan diri dikursi kerjanya yang nyaman empuk itu, ponsel yang ada diatas meja kerja berdering, itu adalah pangggilan telepon masuk dari pengacara yang mengatakan jika Mansion Charlotte telah menjadi milik Sean.
“Aku akan segera ke sana,” ujar Sean.
Sean menutup berkas-berkas pekerjaannya, bergegas pergi menuju ke Mansion milik istrinya dulu. Dia menepikan mobilnya lalu melihat seorang tukang taman yang sedang bekerja mengurus rumput dan bunga.
Sean pun menghampiri dan menyapa, semenjak menikah dengan Charlotte sean belajar bagaimana dan apa arti menghargai. Sean bahkan memberi salam lebih dulu, kepada pria paruh baya itu, “Halo apa kabar?”
Pekerja taman itu pun, melepaskan topi nya dan membalas salam Sean, “Ya Tuan,” sapa nya dengan sopan.
“Apa sudah lama bekerja di sini?” tanya Sean membuka pembicaraan.
“Iya sudah lama, sangat lama,” jawab petugas taman itu.
“Sejak kapan?” tanya Sean lagi sembari duduk di kursi taman.
“Sebelum aku menikah, aku sudah bekerja di sini,” jawab petugas taman itu.
“Benarkah?” tanya Sean.
“Siapa nama mu?” tanya Sean lagi.
“Simon,” jawab si petugas taman.
“Apa kau pemilik baru Mansion ini?” tanya Tuan Simon.
“Iya,” jawab Sean singkat.
“Apa Tuan akan memecatku?” tanya Simon lagi.
“Mengapa harus aku memecatmu?” ujar Simon.
“Karena aku sudah tua,” imbuh tuan Simon.
“Iya,” jawab Tuan Simon.
Lalu Tuan simon pun bercerita, “Tanaman-tanaman ini memiliki kisah tersendiri.”
“Benarkah?” pikiri Sean, lalu dia berkata lagi, “Aku tidak akan memecatmu asalakan kau mau menceritakan kisah-kisah itu.”
“Tentu saja dengan senang hati,” jawab Tuan Simon.
“Jika begitu aku akan dengan senang hati mendegarkan sambil meminum teh dan memakan beberapa Snack,” ajak Sean.
Tuan Simon pun meletakan peralatannya lalu mengikuti langkah Sean Smith. Mereka berdua duduk di ruang tamu, pelayan datang mebawakan sncak dan teh. Tuan Simon pun mulai bercerita jika taman ini adalah kesukaan Nyonya dan putri pemilik awal.
“Benarkah?” tanya Sean semakin tertarik.
“Iya bunga-bunga yang aku tanam di luar sana, adalah bunga-bunga kesukaan Nyonya, dan ada beberapa kesukaan putrinya. Bahkan dulu mereka sering membantu ku merawat bunga kesayangan mereka,” lanjut cerita tuan Simon.
“Putri Nonya itu menyukai bunga apa?” tanya Sean penasaran.
“Dandelion,” jawab Tuan Simon.
“Nona kecil dulu miliki kengunggulan seperti bunga Dandelion,” cerita Tuan Simon lagi.
“Ap aitu?” jawab Sean.
“Bunga dandelion sering disebut sebagai simbol keberanian. Hal ini karena bunga dandelion merupakan salah satu jenis rumput liar, sehingga dapat menempel di batang tanaman lain dan tumbuh subur,” jawab Tuan Simon.
Hati Sean pun berdegup kencang, semakin yakin jika Charlotte adalah sahabat pena yang telah mengambil hatinya sedari dulu. Dalam surat yang dikirimkan ke dia dulu, istrinya itu pernah berkata, jika dia sangat menyukai bunga dandelion.
Melihat jika sekarang Charlotte menggungat cerai dan meninggalkannya maka dia paham maksud dari simbol keberanian itu. Tuan Simon pun melanjutkan lagi cerita-cerita si pemilik dulu Mansion ini.
“Beruntung pemilik setelah nya, tidak meroobohkan rumah pohon yang ada di belakang rumah ini,” ujar Tuan Simon.
“Rumah Pohon?” tanya Sean.
“Iya tempat Nona kecil dulu sering bermain,” jawab Tuan Simon.
“Apa aku boleh ke sana?” tanya Sean lagi.
“Tentu saja, kau adalah pemilik mansion ini, jadi mana mungkin aku melarang,” imbuh Tuan Sean.
“Apakah itu tida akan rubuh jika aku menaikinya?” tanya Sean penasaran.
“Tentu saja tidak, bahkan ketika Nona kecil beranjak remaja masih sering bermain ke sana,” jawab Tuan Simon.
Sean berpikir mungkin saja Tuan Simon ini tahu akan keberadaan Charlotte lalu dia pun langsung saja bertanya, “Apa kau tahu sekarang Nona kecil mu itu ada di mana?”
Tuan Simon menggelengkan kepalanya, lalu berkata “Aku tidak mengetahuinya, semenjak ibu tiri dan adik tirinya menjual Mansion ini, aku tidak pernah bertemu dengan nya lagi,”
Sean pun terdiam lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas cerita indahnya hari ini. Lalu Tuan Simon pun mengantar Sean menujur rumah pohon, “Nah, itu rumah pohonnya, ketika nona kecil bertumbuh dewasa, aku sudah memperkuat itu agar bisa menopang tubuh Nona kecil yang semakin dewasa,” jelas Tuan simon.
Sean pun tertawa lalu mulai memanjat tangga menuju rumah pohon tersebut. Bahkan Tuan Simon membuatkan sebuah jendela di rumah pohon ini. Sean masuk tingginya begitu pas dengan ukuran tubuhnya yang tinggi.
Sean duduk bersila lalu mulai melihat beberapa figura foto yang berisi wajah Charlotte kecil, mulai dari TK, Sekilah dasara, sekolah menengah pertama. Ada foto Charlotte berdua dengan anak laki-laki, Sean mencoba mengamati wajah pria itu, “Abraham,” ujarnya.
Di sana juga ada foto-foto Diana dan Abraham. Sean membuka satu persatu album foto yang baru saja dia lihat. Di foto-foto itu wajah Charlotte selalu tersenyum dengan indah dan cantik. Senyuman yang tidak pernah dia lihat ketika Charlotte sudah menikah dengannya.
Sean pun merasa iri kepada Abraham, bisa berfoto di sisi istrinya yang sedang tesenyum lepas, cantik seperti di foto itu, lalu Sean berkata, “Maafkan aku … maafkan aku,” ujarnya.
Sean pun mengambil beberapa foto Charlotte yang menurutnya paling cantik dan bagus. Lalu dia pun pergi meninggalkan rumah pohon itu. Dia pun tidak berlama-lama di Mansion itu, dia bergegas kembali ke Grup Smith.
Sesampainya di Grup Smith, dia langsung memanggil sekretarisnya, “Aku ingin soft copy foto-foto ini,” ujar sean seraya meletakan foto-foto yang baru saja dia ambil dari rumah pohon.
“Baik Tuan,” jawab Sektertaris itu seraya berlalu pergi dari ruang kerja tuannya itu.
Saat ini Enzo menjadi asisten utama, menggantikan Adam. Sean teringat ketika Charlotte mengadu bahwa dia di serang pria asing di hari pertama ketika dia pindah ke rumah mereka. Di tengah-tengah kejahatan mereka, Sean masih bersyukur karena malam itu, dia yang menjadi pria pertama Charlotte.
Sean tidak akan membiarkan Adam melewati hari-hari yang damai di penjara. Sementara untuk keluarga Crownly masih akan ada kejutan lagi untuk mereka. Kartu As terakhir yang masih Sean pegang.