
# Bab 59
Katie merapikan bahan makanan yang tadi dia beli, ada beberapa yang dia masukan ke dalam kulkas, dan ada juga yang dia masukan ke dalam lemari kabinet dapur. Setelahnya dia pergi meninggalkan gedung apartemen itu. Sementara itu, di Mansion Brown, Sean ikut duduk di ruang tamu bersama Diana dan Charlotte.
Ketika masuk Sean mendengar pertanyaan Diana, “Apa kau akan rujuk dengan Sean?”
Belum juga Charlotte menjawab, Sean sudah berkata, “Rujuk apanya. Kami tidak pernah bercerai, lihatlah bahkan aku masih memakai cincin pernikahan kami”
Diana menatap sinis kepada Sean seraya berkata, “Tuan Smith, bukankah itu hanya aksesori untuk pemotretan saja!” sindir Diana.
Sean pun terbatuk, lalu menjawab, “Aku tidak pernah bercerai dengan Charlotte, itu fakta yang tidak perlu diperdebatkan lagi!” ujar Sean dengan nada yang sedikit tidak enak.
Dian pun berkata lagi, “Apa kau ingin menginap di rumahku?” tanya Diana.
Charlotte berpikir sejenak lalu berkata, “Aku ingin menginap di Quaint hotel.”
“Jika begitu satu kamar presidential suite khusus untukmu sudah tersedia,” ujar Diana.
“Ayo, kita pergi!” ajak Diana seraya menarik Charlotte berdiri.
Sean sedikit menghalangi lalu Diana berkata, “Apa Tuan Smith begitu pelit sehingga tidak mengizinkan kami teman baik untuk reuni?”
Sean melihat kepada Charlotte, dan akhirnya menepi, memberi jalan kepada Diana untuk membawa pergi Charlotte ke hotel yang dulu menjadi miliknya. Abraham pun ikut dengan kedua kawan baiknya itu. Sean tidak punya pilihan lain, akhirnya juga ikut pergi ke sana.
Begitu sampai, Charlotte datang papa Beruang langsung saja berlari ingin memeluknya oleh Papa ketika melihatnya masuk ke lobi hotel, baru saja ingin memeluk tapi gerakannya terhenti seraya berkata, “Kau hamil?”
Charlotte mengangguk, Papa beruang pun berkata lagi. “Oh ya ampun gadis kecilku akan segera menjadi ibu.”
Papa Beruang segera membawa Charlotte ke café outdoor yang ada di hotel mereka, “Nah ibu hamil tidak boleh terlalu lelah, apa kau akan menginap di sini?” tanya Papa Beruang.
“Iya dia akan menginap di sini untuk beberapa hari ke depan,” jawab Diana.
Alis Sean menukik ketika mendengar jawaban Diana, keberadaannya di sana seperti angin, ada tapi tidak terlihat. Abraham dan Sean melirik kepada satu kursi yang sama, kursi yang berada di sebelah Charlotte.
Mereka berdua langsung berebut kursi itu, sama-sama memegang kursi tersebut, Mereka menatap saling tidak mau mengalah berebut kursi. Diana semakin jengkel melihat kelakuan mereka berdua, Diana pun berkata, “Ayo, kita lihat kamarmu,” ujar Diana.
Selama Charlotte pergi, Diana sedikit mengubah fasiltas hotel Quaint ini. Presidential Suite yang menawarkan ruangan seluas 336m² dengan ruang tamu dan ruang makan terpisah, juga media teknologi seperti televisi pintar dan juga wifi berkecepatan tinggi. menempati lantai teratas gedung hotel ini, yang menjanjikan pemandangan khas Ibu Kota.
Selain mengedepankan elemen desain klasik, hotel ini menawarkan teknologi tinggi dengan sensor motorik, misalnya untuk hidup nyala dan menentukan temperatur AC. Saat memasuki lobi, tamu akan disambut oleh lampu gantung besar, dengan 3.000 kristal menyerupai kupu-kupu yang seakan beterbangan. kupu-kupu menandakan kedatangan tamu istimewa.
memiliki fasilitas mumpuni, interior memikat, serta langit-langit tinggi. dilengkapi dengan mini-bar, tempat tidur King, serta bathub berbentuk bulat dengan pemandangan kota, dan ruang rias, dapur, balkon, bar, area gym di dalam suite, Writer’s Corner, dan akses lift eksklusif untuk privasi maksimal.
Ketika masuk ke kamar Presidential suite itu, Charlotte nampak gemetaran, lalu dia menangis. Sean yang sedari tadi membuntuti istrinya itu pun langsung merasa panik. “Kenapa … ada apa, mengapa menangis?”
Charlotte pun memeluk Diana, mereka pun menangis bersama. Karena sama-sama terharu. Diana pun berkata, “Terima kasih karena telah membuat ku jadi dewasa,” ujar Diana.
Jika Charlotte tidak memutuskan menjual hotel nya maka dia tidak akan pernah terjun ke dunia bisnis yang sesungguhnya. Sean dan Abaraham mengamati sekeliling sudut kamar presidential suite itu.
Sean merasa jika ibu mertua yang tidak pernah dia jumpai itu sangat keren, bisa berimajinasi tentang kamar yang se keren ini. Pada saat ini ponsel Diana berbunyi. Itu adalah panggilan dari Papanya. Karena terlalu senang dia pun menyalakan mode speaker ponselnya, “Pa, Charlotte saat ini sedang bersamaku,” ujarnya.
“Benarkah?” tanya Papa-nya Diana.
“Jika begitu kau sudah bisa bertunangan bukan, tidak ada lagi alasan untuk menundanya, Charlotte sudah kembali. Jadi kau segera atur pesta pertunangannya,” ujar Tuan Harold.
“Tunangan?” tanya Charlotte penasaran.
“Aku akan menghubungi Papa lagi nanti,” ujar Diana seraya menutup sambungan ponselnya dengan canggung.
Charlotte langsung menarik Diana dan bertanya, “Kau akan bertunangan? Dengan siapa?”
Diana menaikan bahunya, Charlotte pun semakin ter heran, “Apa! kau tidak tahu dengan siapa kau akan bertunangan?”
“Sudahlah itu tidak penting,” jawab Diana.
Untuk mengalihkan perhatian Diana pun mengajak Charlotte melihat-lihat isi ruang kamar itu, Sean menatapi Abraham sembari berkata, “Apa kau tidak merasa penasaran?”
Abraham menarik pandangannya lalu mengikuti langkah Diana untuk ikut tur kamar presidential suite ini. Kamar ini dibuat hanya satu saja, karena itu dikatakan kamar khusus. Karena tidak semua yang menginap bisa mendapatkan kesempatan tidur di sini karena hanya ada satu saja.
Tur kamar pun selesai, Diana pun berkata, “Mohon maaf kalian jika ingin menginap di sini, maka silakan memesan kamar yang lain saja, Ok!”
“Karena malam ini kami akan tidur di sini,” jelas Diana lagi.
Sean mengirimkan pesan kepada sekretarisnya agar mengatur pemesanan kamar di lantai yang sama degan kamar Charlotte. Tapi, Abraham tidak ikut menginap, dia melihat jam di tangannya lalu berkata, “Aku masih ada janji dengan pasien, aku pamit dulu.”
Abraham mengerti pengusiran Diana meski dengan perkataan halus, karena itu dia langsung saja pergi. Sementara Sean meski mengerti tapi, dia tidak mau pergi dari sana. Pada saat ini Charlotte berkata, “Nanti aku akan pergi mengunjungi klinikmu ya!”
“Ok, aku tunggu,” imbuh Abraham dengan tersenyum seraya berlalu pergi meninggalkan kamar suite itu.
Diana bersedekap tangan di depan Sean Smith seraya berkata, “Apa aku perlu menunjukkan pintu keluarnya?”
Sean pun menghela napas seraya berkata, “Baiklah aku akan meninggalkan kalian berdua, kita akan bertemu di jam makan malam ya,” ujar Sean lagi.
Setelah kedua pria itu pergi, Charlotte mengajak Diana untuk berbicara serius, “Apa kau gila akan bertunangan dengan seseorang yang kau tidak kenal?” ujar Chrlotte dengan nada sedikit memarahi Diana.