SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
KUTUB UTARA


Bab 47


Acara telah dimulai, Nyonya Barbara juha telah hadir. Dia menengkan Katie yang mulai terlijar gusar. tepat ketika Sean datang Tuan Crownly telah berpidato mengucapkan terima kasih kepada semua tamu yang datang hadir.


"Benar kan, kata aku. Putra ku pasti datang," ujar Nyonya Barbara.


Melihat Sean datang, barulah Katie bisa tersenyum. Pada saat ini Ponsel Tuan Crownly menerima pesan masuk, dia pun sedikit tersenyum ketika membacanya. Dia Lalu mempercepat pidato nya dengan segera mengumumkan pertunangan putri nya dengan Sean Smith.


Katie langsung saja mengajak Sean maju ke depan, Tuan Crownly langsung menyerahkan mic yang dia pegang kepada Sean. Lalu dia berbisik kepada Nyonya Crownly, "Aku harus melakukan sesuatu sebentar, kau tetap di sini saja temani putri kita di hari bahagia nya ini."


"Aku tidak akan lama," ujar Tuan Crownly lagi segera bergegas pergi meninggalkan Ball Room.


Sean tersenyum sinis melihat kepergian Tuan Crownly. Sementara itu katie tengah memberikan kata sambutan nya dengan wajah sumringah.


Tuan Crownly semakin mempercepat langkah nya di koridor hotel tempat acara perayaan pernikahan yang tengah dirayakan. Lalu sampai lah di sebuah pintu kamar presidential suite.


Di kamar itu sugar baby Tuan Crownly tengah menunggu dengan pakaian s*ksi memukau, "Daddy," panggil sugar baby itu kepada Tuan Crownly.


"Sayang, kali ini aku tidak bisa menemani lama. Karena kau tahu ini hari apa?" ujar nya.


"Yes Daddy, aku mengerti," jawab si Sugar Baby itu.


Di Ball Room, nampak giliran sean bicara telah tiba. Dengan tersenyum Sean berkata. "Tuan-tuan dan nyonya, sepertinya ada sedikit hal yang harus aku konfirmasi di sini."


Para tamu pun mulai berbisik-bisik, sekiranya apa yang akan sean sampaikan, karena wajah nya terlihat sangat serius.


Sean pun mulai berkata lagi, "Aku telah menikah, jadi tidak mungkin akan bertunangan dengan wanita lain," ujar Sean seraya menunjukan cincin nikah yang melingkar di jari nya.


"Tentang pesta ini, Nona Crownly yang mengurus nya. Sementara aku tidak pernah mengurus tentang ini." Jelas Sean lagi.


Telinga dan hati Katie terasa mau meledak, ketika mendengar perkataan Sean, "Apa-apaan kau ini!" ujar marahnya.


"Apa kau sudah gila?" tanya Katie lagi.


"Tidak, bukan aku yang gila tapi kau," jawab Sean di depan semua orang.


"Aku memiliki hadiah untuk pernikahan perak Tuan dan nyonya Crownly," ujar Sean lagi.


TV layar LED berukuran besar yang ada di sana, tiba-tiba saja memutar gambar Tuan crownly yang sedang bercinta dengan sugar Baby nya. Tim IT dari Grup Smith tengah meremote komputer yang menyambung ke pusat kontrol sound dan video melalui any desk. Sehingga siaran langsung itu dapat terjadi.


Katie melihat ke belakang layar ketika lenguhan keduanya terdengar memekakan telinga. Sememtara iti, di samping gambar video itu ada foto-foto Katie ketika sedang bermesaraan dengan Adam, asisten Sean.


Semenjak mengendus tentang hal ini, sean pun meminta agar Enzo menjadi asisten bayangan sampai saat nya datang untuk mengungkap semuanya. Seketika saja, semua yang datang di sana langsung saja berbisik-bisik.


"Sungguh keluarga yang tercela."


Myonya Crownly mulai merasa frustasi seraya berteriak histeris, "Matikan layar itu ... matikan layar itu."


Katie mencoba menenangkan ibunya yang terlihat seperti mau gila itu. Sementara Sean, pergi meninggalkan Ball Room dengan senyum kemenangan. Dia mungkin tidak bisa menghancurkan perusahaan jasa keuangan Crownly. Tapi, bukan berarti tidak bisa mencoreng kehormatan keluarga Crownly dan setidaknya sedikit mengguncang harga saham perusahaan keluarga Crownly.


Sewaktu Sean pergi ke Finlandia, selain mengurus bisnis. Dia juga pergi mengurus hadiah untuk keluarga Crownly, hadiah berupa kartu As ini.


Sean menemui wanita yang menjadi simpanan Tuan Crownly dan menawarkan kesepakatan bisnis kepada sugar Baby Tuan Crownly.


Sean menawarkan sejumlah uang yang tidak bisa ditolak oleh Sugar Baby itu. Apalagi yang meminta adalah pria setampan Sean, sudah tentu Sugae Baby itu kesulitan untuk menolaknya.


Beberapa staff hotel pun langsung pontang-panting untuk segera mencabut kabel TV LED besar itu. Sementara Sean sudah melaju pergi pergi dengan tenang, menyetir dengan santai.


Pada saat ini ponsel Seab berdering, na Enzo tertera di layar ponselnya, "halo," jawab Sean.


"Wah kau benar-benar hebat," puji Kawan baik nya itu.


"Tidak usah banyak memuji, dan jangan banyak bermain. Temukan istri ku," ujar Sean.


"Kau yang kehilangan istri mengapa harus aku yang mengalami kesulitan," jawab Enzo dengan sedikit protes.


"Masih mau aku berinvestasi tidak?" ujar Sean dengan nada sedikit mengancam.


"Ok, ok," jawab Enzo dengan nada sedikit nyinyir.


Sean pun menutup sambungan ponselnya, Enzo melihat layar ponsel nya menggelap langsung saja menghela napas seraya berkata, "Ketika ada tidak kau lihat, ketika jauh malah ingin melihatnya."


Sean juga sudah mengirimkan pengacara terbaik nya untuk bernegosiasi dengan Tuan Albert agar mau memberi tahu dimana keberadaan Charlotte. Membujuknya untuk mau membatalkan gugatan cerai ini. Tapi jelas Tuan Albert menolaknya. Bagi orang yang perfeksionis seperti Tuan Albert sungguh pantang mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah, memulai tapi tidak menyelesaikan nya, sungguh tidak pernah ada di dalam kamus kehidupan nya.


Orang yang perfeksionis biasa nya punya ciri berupa ambisi tinggi terhadap kesempurnaan suatu hasil kerja. Saat melakukan sesuatu, tak boleh ada kesalahan sedikit pun. Bahkan, Tuan Albert sering kali memperhatikan sesuatu yang tak terlalu diperhatikan orang lain. Memiliki kepribadian yang seperti inilah malah membuat dia jarang sekali kalah di pengadilan, 99% selalu memenankan kasus yang di tangani oleh nya.


Pengacara Sean sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Tuan Albert. Sampai-sampai dia merasa sedang berbicara dengan angin, karena sangking tidak dianggap ada. Sementara di telinga Tuan Albert, pengacara yang saat ini sedang berbicara dengan nya itu hanya terdengar bagaikan bisikan angin ditelinga.


"aku berbicara dengan angin … tetapi angin tak mendengar … aku berbisik pada angin … tetapi suaraku hilang terbawa angin," pikir pengacara yang Sean sewa.


Sudah merasa seperti ini, maka dia pun pergi dengan tangan kosong, tidak membawa hasil apa-apa. Pengacara itu bergumam dalam hati, "Sungguh pria itu seperti es kutub utara. Sulit sekali mencairkan nya."


Dia pun segera memberi pesan kepada Sean, "Gagal."


Di apartemen Sean nampak dia sedang mencari-cari foto Charlotte, yang mungkin ada di ponselnya, hati nya sungguh kecewa karena tidak menemukan satu pun foto diri Charlotte.


Sebuah pesan masuk, dia membaca isi pesan itu dan malah membuat hatinya semakin merasa kecewa.


"Charlotte ... Charlotte ..." sebut Sean dengan berulang-ulang.