Si Culun Kekasih Raja

Si Culun Kekasih Raja
Bab 8


Orang tua dari Cindy, Laura dan Mila sudah hadir.


"Lexa, mana orang tuamu?" tanya Arjuna. Dia sebenarnya sedang mengerjai anaknya, karena Lexa tidak mau orang lain tahu siapa orang tuanya.


"Orang tua saya sibuk, Pak!" Jawab Lexa malas.


"Apakah orang tuamu tidak bisa hadir sebentar, demi anaknya?" Arjuna menahan senyumnya.


"Assalamualaikum, permisi. Saya wali dari Alexa." Datang seorang wanita paruh baya. Arjuna melotot tidak percaya. Alexa menyuruh, pembantunya untuk menjadi walinya.


"Oh, silahkan masuk Bu." Kepala sekolah menyuruh Wanita itu untuk masuk.


"Terima kasih." Wanita itu lalu duduk di samping Alexa.


Dia kemudian mengedarkan pandangan dan tatapannya bertemu dengan mata Tuan Arjuna. Wanita itu tersenyum canggung. Dia baru menyadari keberadaan Tuan Arjuna.


Arjuna meneliti penampilan dari Sari, pembantunya yang sudah lama bekerja di rumah Keluarga Tirta. Penampilannya formal tapi sederhana.


"Ibu, ini siapanya Alexa?" tanya Arjuna.


"Oh, saya Tantenya."


"Baguslah kalau bilang Tantenya bukan Ibunya. aku coret dari KK si Alexa, kalau dia ngaku ibunya." Arjuna berbicara dalam hati.


"Karena semua sudah kumpul kita akan bahas sekarang mengenai pembullyan itu." Kepala sekolah membuka pembicaraan.


"Saya yakin anak saya tidak bersalah!" Ibu dari Cindy sudah lebih dulu melakukan pembelaan sebelum bukti dikeluarkan.


"Mari kita dengar lebih dulu kesaksian dari Alexa, selaku korban dalam kejadian ini." Kepala sekolah mempersilakan Alexa, untuk mulai berbicara mengenai kejadian yang sebenarnya.


"Saat itu, saya sedang ke toilet, setelah saya selesai dan ingin keluar tiba-tiba ada Cindy dan teman-temannya menghadang saya." Alexa, bersikap seolah dia ketakutan melihat Cindy.


"Lalu dia mengancam saya untuk menjauhi Raja, karena saya tidak mengerti maksudnya dan saya juga tidak merasa dekat dengan Raja. Saya hanya


diam saja, dan saat itulah Cindy menampar wajah saya lalu menjedotkan dahi saya ke dinding."


Sena dan Tara langsung menatap tajam Cindy. Tangan mereka mengepal, menahan emosi.


"Laura dan Mila yang juga berada di situ menjadi saksi, mereka membantu saya untuk lepas dari Cindy."


"Benar begitu Mila?" tanya Arjuna


"Iya, Pak." Mila menjawabnya dengan gugup.


"Cindy apa alasan kamu bertindak kasar pada anak ... didik saya?" Hampir saja dia mengatakan anak saya.


"Itu bohong, Pak. Justru Alexa yang memukul saya!" Cindy menyanggah apa yang dikatakan oleh Alexa.


"Lantas apakah Mila juga berbohong? Buktinya sudah ada, kamu tidak usah berkelit."


"Bapak jangan menuduh anak saya. Dia tidak bersalah. Cindy adalah anak yang baik. Dia bahkan tidak tega menyakiti seekor semut pun. Cindy justru korban di sini. Lihat saja wajahnya. Saya akan laporkan ini ke pihak berwajib. Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini!"


"Ibu sabar dulu, kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin." Kepala sekolah berusaha menenangkan Ibu dari Cindy.


"Saya juga akan laporkan ke polisi dan menuntut anak Ibu, Karena telah melukai keponakan saya." Sari spontan berkata seperti itu. Dia tidak suka majikannya dijelek-jelekkan.


Arjuna tersenyum miring melihat Sari. Akting yang bagus. Untung Sari tidak berakting sebagai orang yang lemah.


"Maaf Ibu-Ibu harap sabar, kalau bisa jangan sampai masalah ini keluar dari sekolah ini dan diketahui publik, itu akan merusak citra sekolah."


"Anda masih membicarakan citra di saat ada pembullyan di sekolah!" ucap Sari, pada kepala sekolah.


"Saya tidak suka ada pembullyan di sekolah. Si pelaku akan diberi sanksi, yaitu berupa dikeluarkan dari sekolah ini," celetuk Arjuna.


"Saya rasa itu keputusan terbaik, Pak." Kepala sekolah setuju dengan Arjuna.


"Tapi, bukan berarti pelaku bisa bebas, setengah menganiaya. Saya setuju jika si pelaku juga harus dilaporkan ke polisi." Arjuna menambahkan.


"Tapi, Pak bagaimana nanti dengan citra sekolah ini?"


Cindy mulai merasa gugup. Dia takut dilaporkan ke polisi dan dikeluarkan. Namun, dia enggan mengakui kesalahannya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa, semua akan baik-baik saja. Kejahatannya tidak akan terbongkar.


"Saya tidak bersalah, justru Alex lah yang telah menganiaya saya dan juga teman-teman saya." Cindy berkilah.


"Tapi, teman kamu mengatakan sebaliknya. d


Mila bilang justru kamulah, yang telah menganiaya Alexa."


"Mereka bohong karena mereka sudah di ancam oleh Alexa."


"Semua murid di sekolah juga tahu, kamu selaku berlaku kasar pada Alexa. Bahkan aku melihat sendiri, kau suka berniat kasar pada Alexa," ucap Raja.


"Nah, kamu dengar sendiri Cindy. Berkata jujurlah."


"Raja, pasti belain Alexa, dia kan pacarnya."


Mata Alexa melotot begitu Cindy bilang kalau Raja adalah pacarnya di depan Papahnya.


"Benar Raja, kamu pacar Alexa."


Raja diam, dia melihat Alexa. Kacamata besar, wajah berbintik merah. Dia lalu melihat ke arah ibunya, lalu ke arah Tantenya Alexa. Haruskah dia mengakui Alexa pacarnya, sedangkan itu hanya pura-pura saja."


"Aku bukan pacar Alexa, dia hanya teman bagiku."


Alexa tersenyum miring. Ternyata nyali Raja tidak cukup untuk mengakui apa yang selama ini dia katakan. Dia merasa malu untuk mengakui dirinya di depan para orang tua.


Cukup lama mereka membahas masalah ini. Akhirnya dari keterangan saksi, dan dari bukti yang terlihat, akhirnya diputuskan kalau Cindy bersalah.


"Maaf, tapi Cindy kamu akan dikeluarkan dari sekolah. Untuk Laura, Mila, dan Alexa kalian akan di skors dua hari."


"Apa, saya tidak terima. Ini fitnah. Anak saya tidak bersalah."


"Mi, sudah lah Mi. Kita pergi saja, Mi." Cindy mengajak ibunya pergi.


"Ayo sayang. Kamu tidak butuh sekolah yang tidak bisa berbuat adil. Masih banyak sekolah yang lebih bagus dari pada sekolah ini."


Cindy pergi bersama ibunya. Dia menatap Laura dan Mila sekilas. Dia kecewa pada temannya yang sudah berkata bohong. Cindy tersenyum miring dan berjanji di hatinya akan membalas perlakuan mereka.


Laura dan Mila pun keluar dari ruangan Kepala sekolah lalu langsung pulang karena mereka di skors.


"Saya permisi, Pak. Ayo Tante.


Alexa mengajak Sari pulang. Raja juga keluar bersama ibunya. Mereka berjalan di belakang Raja.


"Ja, kamu nggak pacaran kan sama dia." ibunya Raja menunjuk pada Alexa di depan mereka.


"Ya nggak lah Mah. Masa aku pacaran sama cewek kayak gitu."


Alexa mendengar ucapan Raja.


"Mamah, sih tidak masalah. Mamah cuma heran aja kok bisa?"


"Dia aja yang sering ngaku-ngaku pacar Raja."


Si kembar terkekeh di Balkan Raja. Mereka merasa lucu dengan perkataan Raja. Selama ini Rajalah yang sering mengaku kalau dia pacar Alexa.


Baru seperti ini dia sudah merasa malu pada orang tuanya. Raja memang bukan lelaki yang baik untuk Alexa, adik kesayangan mereka.


Raja memang sahabat mereka, tapi itu bukan berarti dia bisa menyakiti adiknya.


...----------------...


"


"