
Hari ini Alexa ke sekolah diantar supir. Tara dan Sena sudah berangkat lebih dulu. Mereka naik mobil masing-masing. Motor mereka masih di Sita.
Alexa tahu, mereka akan menjemput gebetannya Masing-masing. Alexa tidak ingin lagi menganggu kedua kakaknya. Dia akan mulai mandiri sekarang.
Raja pun tidak pernah lagi menghubunginya. Ya sudahlah, Lexa tidak peduli. Dia tidak butuh siapa pun. Siapa yang dulu berkata aku mencintaimu? Namun, sekarang melupakannya.
Alexa berjalan sendiri menuju kelas. Para siswa semua berbisik sambil melihatnya. Alexa masa bodoh dengan itu semua. Dia tetap berjalan dengan wajah tegak dan angkuhnya.
"Cih, udah culun, sok cantik banget dekat-dekat most wanted, eh akhirnya di buang." Semua tertawa mendengar itu.
Lexa menutup telinganya dengan earphone, dan mendengarkan musik. jadi dia tidak mendengar bisikan-bisikan setan, yang membuat emosi jiwa.
Lexa duduk di kursinya. Dia lalu mengambil ponselnya dan membaca pesan yang saja masuk ke emailnya.
Sekretarisnya mengirim file untuk dia baca, terkait tender pembangunan hotel. Rupanya besok pagi tender di mulai. Dia melihat siapa saja yang ikut.
Bel masuk berbunyi. Lexa tidak menyadarinya karena dia sedang mendengarkan musik dan terlalu larut membaca file.
Begitu seseorang menabrak mejanya dia terkejut. Temannya berlari karena ada guru masuk kelas. Alexa segera melepaskan earphone pada telinganya, lalu menyimpan ponselnya.
Dia mengikuti pelajaran dengan baik. Bel istirahat berbunyi. Guru pun keluar kelas. Alexa tidak membawa bekal dan dia merasa haus. Alexa memutuskan untuk ke kantin sendiri.
Begitu sampai kantin Alexa disambut oleh keramaian. Dia menghela napas. Dia benci harus berdesakan untuk membeli sesuatu. Alexa terpaksa berjalan ke stand penjual yang dikerumuni pembeli.
Setelah apa yang diinginkannya sudah di tangan. Alexa berbalik badan hendak keluar dari kerumunan dan kembali ke kelas.
Tak sengaja saat berbalik dia menyenggol seorang kakak kelas cewek hingga makanan yang dibawa kakak kelas itu terkena pakaian kakak kelas.
"Lo, tuh! Bisa nggak jalan yang benar?" Suara gadis itu sedikit keras, sehingga mengundang perhatian sekitar.
"Maaf, Kak. Saya nggak sengaja. Lagian Kakak yang lewat tidak melihat jalan terus nabrak saya." Alexa merasa tidak salah.
"Lo tuh, udah salah, ngeles lagi!"
"Udah, Ver. Kasih hukuman aja buat si cupu ini."
Aurel memanasi Vera. Dia menarik rambut Alexa, lalu dilepaskannya lagi.
"Jangan Lo berani sentuh gue!" Alexa balik mengancam.
"Lo, berani sama Kakak kelas!"
"Terus, gue harus tunduk gitu sama lo? Sorry nggak sudi!"
"Hebat lo, penampilan doang yang cupu tapi nyali badas." Vera mencibir, dia melangkah mengelilingi Alexa.
Vera lalu mengambil minuman yang berada di atas meja di dekatnya. Dia lalu menumpahkan isi gelas itu.
"Begini baru impas." Vera tersenyum puas.
Semua yang ada di sana pun ikut tersenyum seolah mereka sangat terhibur dengan pembulian yang di alami oleh Alexa.
Alexa tetap tenang, dia justru tersenyum miring. "Wanita bodoh macam lo nggak akan bisa berpikir."
"Apa maksud lo, hah?!"
"Orang bodoh memang selalu tidak tahu di mana kesalahannya? Gue maklumi sikap kekanakan lo, karena lo itu bodoh!" Kata-kata Alexa yang menusuk memancing emosi Vera.
PLAK
PLAK
Kini suara tamparan itu berasal dari pipi Vera, tamparan balasan yang di berikan oleh Alexa. Bukan hanya pipinya yang merah, tetapi ujung bibirnya pun berdarah.
Aurel tidak terima melihat temannya diperlakukan seperti itu, dia lalu menarik rambut Alexa dan menamparnya. Cindy pun ikut menampar Alexa. Dua tamparan dia dapatkan dari mereka.
Alexa tersenyum, miring kelihatannya ini akan semakin seru. Tangan Aurel dan Cindy memang erat kedua tangan Alexa, dan Vera maju untuk memberi pelajaran padanya.
Tatapan Alexa yang tajam dan seringainya, membuat siapa yang melihatnya merasa ini bukan Alexa. Dia seperti berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan.
Vera menepis takutnya dia terus maju, karena dendamnya. Dia tidak terima ditampar oleh Alexa di depan umum.
Saat Vera akan menamparnya dengan kencang, tendangan Alexa mendahuluinya, tendangan itu telak mengenai perutnya hingga Vera terjatuh ke belakang. Lexa lalu dengan sekali hentakkan melepas tangan yang di pegang oleh Cindy.
Dia lalu berbalik badan dan memberikan hadiah tamparan pada Aurel yang masih memegang tangannya. Otomatis tangan yang dipegang oleh Aurel pun terlepas.
Dengan gerakan memutar telapak tangan yang dipegang Aurel kini mendarat di pipi Cindy dengan kencang.
"Siapa pun tidak akan bisa merendahkan gue. Berani mengusik gue, lo akan terima dua kali lipat."
Aurel tidak terima, dia tidak takut dengan Alexa. Dia mencoba untuk menjambak rambutnya. Namun, Alexa memelintir tangannya kebelakang dan mendorongnya ke depan hingga perutnya terantuk meja.
"Ada apa, Ini?" Suara Raja membuat hening suasana.
"Vera, kamu kenapa?" tanya Raja pada Vera, dua melihat Vera memegang perutnya, wajahnya merah bekas tamparan, ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Cindy, kamu kenapa?" tanya Tara seraya menghampiri Cindy.
"Aurel, apa yang terjadi sama kamu?" Sena mendekati Aurel.
"Siapa yang membuat kmu seperti ini Vera?" tanya Raja.
"Tuh, si cupu. Dia udah numpahin makanan ke aku, tapi dia yang marah. Aku tegur dia nggak terima terus nampar aku." Vera mengatakan kebohongan pada Raja.
"Lexa, kenapa kamu melakukan ini? Apa salah mereka sama kamu? Aku nggak nyangka kalau kamu bisa sebar-bar ini." Dengan bodohnya Raja percaya pada Vera tanpa bertanya kebenaran dan mencari bukti.
"Lexa, di sekolah ini dilarang ada pembulian, siapa pun pelakunya harus ditindak." Tara bahkan ikut menuduh adiknya sendiri yang sudah dia kenal seumur hidupnya. Harusnya dia tahu Alexa tidak akan mungkin melakukan itu tanpa ada sebab.
"Kami, kecewa padamu Alexa. Minta maaflah pada mereka." Sena menambah luka di hati Alexa. Mereka semua bagaikan orang asing dalam hidupnya.
"Minta maaf? Lucu sekali, mereka yang berbuat salah, kenapa aku yang harus minta maaf?" Alexa tidak akan Sudi meminta maaf pada siapa pun selama dia yakin dia benar.
"Kau melukai orang lain, dengan membabi buta, tapi kau tidak mau minta maaf? Tenyata kau tidak punya hati nurani Alexa!"
Perkataan Sena menusuk hatinya. Tidak lihatkah dia penampilan Alexa saat ini? Pipi dia pun pasti merah, bakunya basah.
Ternyata cinta membutakan hatinya, hubungan yang baru sesaat mengalahkan hubungan darah dari lahir.
Seseorang datang menyampaikan jaket Levis, pada tubuh Alexa. Menutupi bajunya yang basah mencetak pakaian dalamnya.
"Mata kalian semua buta!" Orang itu lalu menarik tangan Alexa pergi dari kantin.
"Gue nggak percaya bakal lihat hal seperti ini. Satu cewek di keroyok tiga cowok, gue malu jadi teman kalian!" lelaki itu pun pergi menyusul temannya dan Alexa.
...----------------...