
Di kelas, Raja memandang kesal pada Alvin dan Aldi. Mereka sengaja memamerkan hadiah dari Alexa berupa jam tangan mewah. Sena dan Tara pun merasa jengah memandang mereka berdua.
Tara teringat isi surat Alexa.
Halo Kakak
Apa kabar? Sudah lama kita tidak bicara walau kita serumah tapi serasa jauh.
Mungkin posisiku sebagai adikmu sudah tergantikan di hati Kakak. Aku bukan lagi kesayanganmu. Aku tak apa.
Yang aku tidak mengerti kenapa kalian tega membiarkan orang lain menyakiti dan menghina ku. Hatiku sakit bukan karena hinaan mereka. Namun, karena Kakakku diam saja dan tak peduli lagi padaku.
Tapi kau tahu, aku ini gadis yang kuat. Aku tak akan menangis hanya karena hal ini. Aku tak akan terpuruk. Aku minta satu hal jaga Mamah dan Papah selama aku pergi, itu saja.
Terima kasih karena sudah mengajarkan padaku, tak selamanya saudara itu saling menyayangi. Tapi aku yakin kasih sayangmu pada Mamah dan Papah tidak akan tergantikan bukan? Jangan membuatku kecewa dua kali dengan mementingkan gadis itu dari pada orang tuamu sendiri.
Jangan berharap semua Kembali membaik ketika aku pulang, karena semua tidak akan pernah sama lagi. Setidaknya aku tidak membencimu dan masih menganggap kau anak orang tuaku.
Tara merasa tertampar dengan isi surat itu. Dia menyesal telah melukai adiknya begitu dalam, sampai Alexa tidak lagi menganggapnya Kakak.
Semoga saja ketika Alexa kembali semua akan kembali seperti semula. Walau Alexa bilang jangan berharap, tapi harapan akan selalu ada selama kita mau berusaha.
Tara akan berubah, dan membuktikan kalau adiknya lebih penting dari apa pun.
Tara mengambil ponselnya dan memblokir nomor telepon Vera, Cindy dan Aurel, lalu menghapusnya. Dia tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Dia tak peduli lagi tentang cintanya.
Bagi Tara saat ini yang penting adalah adiknya. Cinta akan datang di saat yang tepat dengan orang yang tepat.
Sena melihat semuanya, ketika Tara menghapus nomer Vera dan kawan-kawannya.
Sena menghela napas panjang, dia pun merasa dilema. Namun, jika Tara saja sudah memutuskan seperti itu maka dia akan mengikutinya, karena mereka adalah kembar. Alasan konyol Sena, bilang saja Sena pun merasa bersalah dan menyayangi adiknya.
Sena pun mengambil ponselnya dan memblokir nomor Vera, Cindy dan Aurel, lalu menghapusnya. Setelah itu Sena kembali fokus mendengarkan penjelasan guru.
***
"Tumben!" Raja heran mendengar Tara malas ke kantin.
"Yuk, Sen kita pergi."
"Lo aja, Ja. Gue ada urusan." Sena pun menolak.
"Ya udah deh. Gue ke kantin sendiri." Raja pun akhirnya pergi ke kantin seorang diri. Saat dia melewati meja Alvin dan Aldi mereka saling lirik dan tatapan mereka bertemu.
Raja memutuskan pandangannya dan melewati mereka begitu saja. Tidak bertanya atau mengajak mereka ke kantin. Pikirnya buat apa bertanya atau di ajak, bila nanti ada penolakan lagi? Selain itu hubungan mereka juga sedang tidak baik-baik saja.
Selepas Raja pergi, datang Vera dan Cindy. Mereka langsung menghampiri Tara dan Sena.
"Tara, ayo kita ke kantin. Raja udah duluan ke sana sama Vera." Cindy mengajak Tara.
"Sorry Cin, aku lagi malas!"
"Kamu kenapa, sih?" tanya Cindy.
"Aku nggak apa-apa, lagi malas aja."
"Aku nggak percaya, kamu berusaha menghindar dari aku ya? Buktinya aku telepon kamu nggak bisa! Kamu blokir telepon aku?" Cindy mempertanyakan sikap Tara yang tiba-tiba memblokir kontaknya
Di sisi lain, Aurel pun sama. Dia bertanya pada Sena, kenapa nomor kontaknya diblokir? Padahal setahu dia semua baik-baik saja.
Alvin dan Aldi memperhatikan sikap si kembar. "Mereka kenapa?" tanya Aldi.
"Mereka sepertinya mulai menyesal dan ingin berubah agar Alexa bisa memaafkannya, dengan cara tidak lagi berhubungan dengan Cindy dan Aurel juga Vera."
"Iya, tadi aja Raja ngajak ke kantin ditolak! Tapi sayang, semua sudah terlambat."
...----------------...