
Semua mata terbelalak melihat Arjuna datang. Dia tidak percaya apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menghina Alexa seperti itu.
"Tara, Sena kalian yang mengenalnya sejak kecil, apa menurut kalian Alexa akan melakukan hal seperti itu?" tanya Arjuna langsung pada kedua putranya yang hanya menunduk.
"Jawab Papah!" teriak Arjuna.
"Tidak, mungkin Pah." Tara yang menjawab.
"Kalau tidak mungkin, kenapa kau diam saja dan tidak membelanya saat gadis jelek ibu bicara begitu tentang Alexa.
Mata Aurel membola sempurna saat dibilang jelek oleh Papah dari orang yang dia sukai. Apa Pak Arjuna tidak menyukainya? Bagaimana jika nanti dia dilarang dekat-dekat dengan Sena.
Pak Arjuna justru membela Alexa yang bahkan jauh lebih jelek darinya. Matanya Pak Arjuna mungkin rabun, tidak bisa membedakan mana yang cantik dan mana yang jelek. Aurel begitu kesal pada Pak Arjuna.
Tara dan Sena hanya diam. Arjuna lalu menatap tajam Raja yang duduk berdampingan dengan seorang gadis, tangan gadis itu melingkar di lengannya Raja.
Raja merasa canggung ditatap seperti itu dia lalu berusaha menyingkirkan tangan Vera. Arjuna tersenyum miring. Dia lalu menatap kedua anak kembarnya hal yang sama dia lihat, tangan gadis-gadis itu melingkar di lengan mereka.
Kini dia mengerti satu hal, bahwa Raja bukan yang terbaik untuk Alexa dan dia juga akan menghukum kedua anaknya.
"Pak Arjuna silakan duduk, Pak."
"Vera, kenapa ada Pak Arjuna di sini? Apa dia yang menjadi wali Alexa?" bisik Cindy pada Vera.
"Iya, mungkin. Ada hubungan apa, sih, dia sama Pak Arjuna? Sampai Pak Arjuna membelanya. Kamu tahu Ja?"
Raja hanya menggeleng, dia sedang mumet, melihat sorot tajam Pak Arjuna, Satria merasa dirinya sudah jelek di mata Arjuna. Hubungannya sedang di ujung tanduk.
"Saya sudah sering tekankan pada Anda dan semua siswa disekolah ini tidak boleh ada pembulian, fan hukumannya adalah dikeluarkan, apa Anda, masih tidak mengerti Pak?" Arjuna bertanya pada kepala sekolah.
"Saya mengerti, saya pun sangat mendukungnya. Karena itu saya dan semuanya di sini ingin menyelesaikan kasus ini."
"Apa sudah diketahui salah siapa?"
"Menurut kesaksian semua siswa yang melihat, mereka bilang Alexa yang salah."
"Begitu, rupanya. Oke kumpulkan semua di lapangan. Biar semua clear."
"Baik, Pak."
Kepala sekolah pun mengumumkan pada semua siswa untuk ke lapangan melalui speaker.
"Pah, aku punya bukti CCTV tersembunyi semua terekam jelas," bisik Alexa pada Arjuna.
"Hm, oke. Akan Papah siapkan proyektor. Kamu memang pintar.' Arjuna mengusap puncak kepala Alexa sambil tersenyum.
Arjuna menyuruh pada kepala sekolah untuk menyiapkan proyektor.
"Pak, silakan semua sudah siap."
Arjuna pun keluar bersama Alexa. Doa berdiri di depan bersama semua tersangka dan korban.
"Saya kecewa, lagi-lagi saya ke sini gara-gara pembulian," ucap Arjuna setelah sambutan singkatnya.
"Dan pada orang yang sama. Segitu tidak sukanya kalian pada Alexa?"
"Oke, langsung saja. Vera apa ada saksi yang melihat kalau Alexa yang lebih dulu membully kamu?"
"Iya, Pak semua yang di kantin melihatnya, bahkan Raja, Sena dan Tara juga."
"Iya, Pak."
"Sekarang saya tanya pada kalian siapa yang melihat kejadian itu secara langsung?"
Tidak ada yang mengacung atau mengaku. "Ingat kalian diam berarti kalian berusaha menyembunyikan kebenaran, saya anggap kalian bekerja sama dengan pembuli."
Semua masih diam. Vera tunjuk orang yang kamu lihat ada di kantin. Vera menunjuk barisan paling depan, dia ingat gadis itu yang ikut tertawa saat Alexa di bully. Vera yakin dia akan membelanya.
Setelah interogasi panjang lebar banyak yang mengaku melihat Alexa yang pertama kali melakukan kekerasan. Dia lalu bertahta pada Tara dan Sena yang menurut Vera juga menjadi saksi.
"Tara, apa kamu juga melihat kalau Alexa yang melakukan pertama kali?"
"Saya memang berada di kantin, tapi tidak melihat awal mulanya saya hanya melihat saat Alexa memukul mereka."
"Begitu, jadi kamu menyimpulkan kalau Alexa yang salah?"
Tara terdiam. "Jawab Tara!" Arjuna berseru dengan nada tinggi.
"Iya, Pah."
"Oke. Kalian semua keterlaluan, mengakui yang tidak kalian lihat dan berbohong. Kalian tahu kenapa ada proyektor. Karena saya ada buktinya. Saya sudah memberi kesempatan pada kalian untuk berkata jujur, tapi kalian lebih memilih berbohong dan memfitnah Alexa. Sungguh tidak dapat di maafkan."
Arjuna pun menyuruh orang untuk menyalakan proyektor. Di sana terlihat jelas, siapa yang memulai. Tara dan Sena menatap adiknya tak enak hati. Raja pun menatap Alexa dengan gusar.
"Terbukti siapa yang bersalah. Kalian bertiga saya DO. Vera, Cindy dan Aurel. Sedangkan untuk Raja, Tara dan Sena kalian dilarang mengikuti ekskul apa pun itu."
Dan untuk mereka yang berbohong kalian semua diturunkan kelas menjadi kelas F dan kelas F akan naik jadi kelas E begitu selanjutnya.
Kelas di sekolah Tirta memang digolongkan berdasar prestasi. Kelas A adalah kelas unggulan, lekas F adalah kelas terendah.
Mereka semua terkejut, tak ada yang menyangka mereka akan mendapat hukuman itu.
"Pak, Anda tidak bisa mengeluarkan saya begitu saja. Saya adalah penyumbang piala untuk sekolah ini." Vera tidak terima.
"Apa bagusnya semua piala, kalau moral kamu tidak beradab!"
Arjuna pun meninggalkan lapangan, Alexa tersenyum pada Raja, dan kedua kakak kembarnya. Setelah itu dia pun pergi menyusul Arjuna.
***
Malam ini Arjuna dan keluarganya sedang berkumpul di meja makan. "Tara, Sena, kalian keterlaluan memilih membela gadis-gadis penjilat dari pada adik kandung kamu. Papah kecewa sama kalian. Sebagai hukumannya, semua fasilitas kalian papah tarik hanya uang bekal sekolah yang akan Papah berikan setiap hari. Tak ada mobil, motor atau ATM. hanya Uang untuk ongkos dan jajan. uang pulsa pun tidak akan Papah kasih."
"Pah, kok gitu? Masa cuma gara-gara masalah sepele hukumannya sampai seperti itu," ucap Sena.
"Sepele, kamu bilang! Nama baik adikmu tercemar dan dia juga dilukai kamu bilang sepele. Papah baru tahu kalau kamu menganggap remeh arti persaudaraan, kasih sayang dan pengorbanan. Yang paling penting ikatan darah ternyata tidak berarti buatmu." Arjuna sangat kecewa pada Sena.
"Pah, sudah Pah. Aku tidak apa-apa. Hubungan darah mungkin tidak berarti dibanding orang yang mereka cintai. Aku tidak masalah. Aku masih punya Papah dan Mamah yang mencintaiku dengan tulus."
"Oh, sayang maafkan Mamah. ini salah Mamah yang tidak bisa mendidik mereka. Mamah senang waktu tahu anak Mamah kembar lelaki. Mereka pasti nantinya akan menjaga adik mereka dengan baik."
"Tapi, ternyata mereka justru ...." Annisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya dia menangis.
"Mah, Pah ada yang ingin kubicarakan dengan kalian tapi tidak di sini."
Arjuna, Annisa fan Alexa pun pindah ke ruangan kerja Arjuna.
Tara dan Sena menatap sendu orang tua dan adik mereka.