
Alexa pulang ke rumahnya dengan Kris. Dia bertemu dengan Bimasena dan Bimantara yang sedang menonton TV di ruang tengah. Mereka sengaja menunggu Alexa.
Alexa tersenyum sekilas pada mereka, lalu langsung pergi ke kamarnya. Sena dan Tara menatap sendu kepergian Alexa. Niat mereka ingin mengobrol dengan Alexa kembali gagal.
Kris melihat kesedihan mereka, dia pun duduk di samping Sena. "Kalian tenang saja dia sebenarnya juga rindu pada kalian, cuma dia bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan kalian. Dia masih butuh sedikit waktu."
Sena menatap Kris. Dia tidak kenal dengan sosok Kris. Alexa tidak pernah cerita apa pun, yang mereka tahu Kris itu adalah teman Alexa, itupun menurut ucapan mamahnya.
"Apa dia pernah cerita padamu?" tanya Sena.
"Ya, kami sering bicara." Padahal sebenarnya sangat jarang, yang ada Kris yang sering bicara dan mengganggu Alexa.
"Apa hubunganmu dengan Alexa?" tanya Tara.
"Kami dekat, bisa dibilang kami ini sahabat." Hanya Kris yang menganggap demikian.
"Dia cerita apa tentang kami?" tanya Sena lagi.
Kris berpikir apa yang harus dia katakan? Alexa jarang membicarakan keluarganya, apalagi mengenai si kembar. Kris bahkan tak bisa membedakan mana Sena dan mana Tara. Lebih baik dia mengarang saja demi kebaikan semua.
"Alexa bilang kalau dia sebenarnya sangat sayang pada kedua kakaknya. Bukankah setiap adik begitu? cuma mungkin cara dia menyayangi berbeda dengan orang lain."
"Dia benar bilang begitu?" tanya Tara terlintas senang.
"Ya, tinggal kalian saja yang terus dekati dia. Jangan menjauh meski dia minta, jangan sakit hati dan terus beri perhatian meski dia mengatakan hal-hal yang menyakitkan, jangan percaya jika dia bilang tak lagi menyayangi Kalian."
"Dia hanya ingin mengungkapkan lukanya biar saja dia keluarkan sampai puas. dia hanya butuh bukti kalau kalian benar-benar mencintainya. Jangan menyerah, kalian tahu kekecewaan yang dalam butuh perjuangan yang keras agar kembali percaya." Kris menambahkan rangkaian kata-katanya.
Sena dan Tara merenungkan perkataan Kris. Benar yang Kris ucapkan. Mereka merasa bodoh karena hanya diam menanti maaf dari Alexa, sedangkan usaha mereka meminta maaf sangat kurang.
"Terima kasih, Kris. Sekarang aku tahu apa yang akan aku lakukan. aku akan buktikan pada Alexa, kalau aku menyayangi dia." Tara bertekad akan mulai mendekati Alexa.
"Ya, aku juga. Thanks Bro." Sena menepuk punggung Kris.
"Apa kalian kenal seseorang bernama Raja?"
Sena dan Tara langsung melihat ke arah Kris. "Raja? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Tara.
"Tadi saat kami sedang makan malam, dia datang dan bicara pada Alexa."
"Jadi dia berani menemui Alexa? Mereka membicarakan apa?" tanya Tara.
"Raja meminta maaf pada Alexa dan juga meminta kesempatan kedua pada Alexa."
"Terus Alexa bilang apa?" tanya mereka berdua kompak. Sena dan Tara saling lirik lalu kembali menatap Kris.
"Ya intinya dia bilang sudah memaafkan tetapi tidak bisa memberikan kesempatan kedua. Dia lalu memperkenalkan aku sebagai ... tunangannya." Kris berkata pelan di ujung kalimatnya.
"Apa?" teriak mereka terkejut tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Ya, Alexa mengenalkan aku pada Raja sebagai pacarnya dan akan bertunangan. Sudah tidak ada cinta lagi pada Raja sehingga dia tidak bisa memberi kesempatan kedua."
"Dia gila, kenapa harus mengaku berpacaran denganmu, dan akan bertunangan? Apa Raja percaya?" tanya Sena.
"Memang kenapa kalau kami berpacaran dan bertunangan, apa aku tidak pantas dengannya?" Kris sedikit tersinggung dengan ucapan Sena.
"Maaf bukan begitu maksud aku. Alexa bukan tipe wanita sepeti itu. Dia tidak akan mau menjalin hubungan pura-pura. Kenapa dia mengulangi kesalahan yang sama?"
"Maksudnya?" tanya Kris bingung.
"Sudahlah, aku mau menemui Alexa dulu." Sena pun beranjak bangun dan melangkah menaiki anak tangga satu per satu menuju ke kamar Alexa.
Tara menyusul Sena, sedangkan Kris terdiam memperhatikan kepergian mereka. "Apakah aku tidak pantas untuk Alexa?" tanya Kris pada dirinya sendiri.
...----------------...