
Sena dan Tara mengetuk pintu kamar Alexa membuat pemilik kamar menjadi terganggu. Dia pun terpaksa membuka pintunya. "Ada apa?" tanya Alexa pada mereka.
"Kamu, baik-baik saja?" tanya Sena.
"Kenapa?" tanya Alexa. Dia bingung tiba-tiba kedua kakaknya datang mengetuk kamarnya hanya untuk menanyakan kabar.
"Kamu pulang makan malam dengan Kris, terlihat nggak enak mukanya, apa ada sesuatu terjadi? Apa Kris macam-macam sama kamu? Bilang sama Kakak!" Tara meminta Alexa untuk mengatakan yang sebenarnya.
Alexa menatap kedua kakaknya bergantian, andai mereka seperti ini saat dia masih SMA dulu. Saat Raja membuatnya terluka. Dia tak akan merasakan kekecewaan yang begitu mendalam pada mereka.
"Aku, tidak apa-apa. Semua baik-baik aja."Setelah mengatakan itu Alexa hendak menutup pintunya.
"Kamu ketemu Raja?" tanya Sena cepat sebelum Alexa menutup rapat pintu itu.
Alexa terdiam, pasti Kris yang sudah memberi tahu mereka. Dasar mulut ember! Alexa kembali membuka pintu sedikit lebar. "Emangnya kenapa aku bertemu Raja atau tidak?" tanya Alexa malas. Dia sudah lelah ingin segera istirahat.
"Tidak apa-apa, tapi dia tidak macam-macam 'kan? Dia tidak menyakiti kamu, 'kan?" Kini Tara yang bertanya pada Alexa.
Alexa menghela napas. "Apa peduli kalian, dia menyakiti aku atau tidak? Toh kalian dulu juga membiarkan dia menyakitiku. So please sekarang nggak usah sok peduli." Alexa lalu menutup pintu kamar.
Tara dan Sena merasa tertampar. Mereka diam terpaku, mereka malu dengan apa yang telah mereka lakukan dulu. Rasa penyesalan kini tak bisa mengubah masa lalu. Mereka hanya bisa mencoba memperbaiki hubungan yang telah mereka rusak, mengobati perasaan sang adik yang terluka, mengembalikan kepercayaan yang dikecewakan.
Alexa berdiri bersandar pada pintu. Dia sebenarnya merasa rindu kada kedua kakaknya. Ingin dekat seperti dulu, tetapi sulit melupakan semuanya. "Lexa, Kakak minta maaf. Kakak tahu ini sudah sangat terlambat dan mungkin tak ada guna sama sekali. Penyesalan ini selalu menghantui Kakak Lexa. Kakak rindu kamu, Kakak sayang kamu. Maaf Lexa, apakah tak ada kesempatan untuk Kakak memperbaiki semua?"
Tara berkata dengan suara parau, dia menahan tangisnya. Tara bersandar pada pintu. Sena berdiri di samping Tara. "Dek, Kakak juga minta maaf. Kakak bodoh banget karena perasaan Kakak pada seorang wanita, Kakak tidak peduli padamu. Maaf, Dek. Kakak janji nggak akan begitu lagi. Kamu adalah prioritas Kakak sekarang. Kakak tidak mau lagi pikirin cinta. Bagi Kakak kamu segalanya."
Sena pun ikut mengungkapkan isi hatinya. Mereka tidak tahu apakah Alexa mendengarkan atau tidak. Mereka hanya ingin mengatakan isi hati agar Alexa tahu apa yang mereka rasakan, jika menunggu Alexa mau bicara pada mereka sama saja seperti menunggu melihat bulan di siang hari.
Mereka tidak tahu, Alexa mendengarkan semua curahan isi hati mereka, penyesalan mereka, dengan tetesan air mata. Alexa menghapus air mata di pipinya. Dia tidak akan mudah luluh. Tidak semudah itu Alexa akan memaafkan.
"Kakak juga sama!" Sena pun mengikuti Tara.
Alexa berhenti melangkah, dia lalu tersenyum miring. Terserah mereka saja, Alexa tidak peduli. Dia melanjutkan langkahnya kembali ke peraduan.
Alexa berbaring menatap langit-langit kamar. Kepulangannya kali ini ke Indonesia akankah membawa perubahan dalam hidupnya. Dipertemukan dengan Raja dan juga kedua kakaknya mengingatkan kembali pada luka lama.
Tara dan Sena adalah kakak kandungnya, mereka sedarah. Hubungan itu tak akan pernah putus. Dia mau lari ke mana pun hubungan itu tetap ada. Haruskah dia menerima maaf mereka dan mencoba memperbaiki hubungan adik kakak ini.
"Loh, Sena, Tara sedang apa kalian di situ? Masuk ke kamar sana, sudah malam!" Arjuna dan Anisa sudah pulang dari acara makan malam bersama temannya.
di belakang mereka ada Kris mengikuti. Mereka akan ke kamarnya dan melihat Sena serta Tara sedang berjongkok di depan pintu kamar Alexa. "Kami sedang menunggu Alexa." Sena menjawab Arjuna.
"Memang Alexa kenapa?" tanya Anisa.
"Tidak apa-apa, dia baik-baik saja. Kami hanya ingin minta maaf sama dia." Tara menambahkan.
"Kalian ke kamar saja. Besok baru bicara lagi pada Alexa." Arjuna meminta anak-anaknya untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Dia tak ingin Alexa terganggu.
"Kami, di sini aja. Kami tidak akan pergi sampai Alexa keluar." Tara sudah bertekad.
"Terserahlah! Tapi ingat jangan sampai Alexa terganggu atau kalian papah hukum! Ayo, mah kita ke kamar aja." Anisa dan Arjuna melangkah ke kamar mereka.
Kris melewati si kembar untuk ke kamar tamu. Dia lalu geleng-geleng kepala melihat mereka. "Apa?" tanya Sena melotot pada Kris.
"Tidak apa-apa. Semoga berhasil!" Kris pun berlalu meninggalkan mereka.
...----------------...