
Langit sudah berubah menjadi gelap, dihiasi bintang-bintang dan disinari bulan. Lampu di teras rumah pun sudah dinyalakan.
Suasana di dalam rumah Tirta terasa sunyi. Padahal ada lima penghuni di rumah itu, beserta para pelayan. Sang kepala keluarga sedang berada di ruang kerja. Sang Ratu sedang berada di dalam kamarnya
Berbeda dengan dua penghuni yang lain yaitu Bimasena dan Bimantara. Mereka sedang berada di dalam kamar Sena. "Sen, kita nggak makan malam? Kok Mamah nggak manggil kita buat makan? Biasanya 'kan udah teriak-teriak nyuruh makan jam segini."
"Nggak tahu gue juga. Kita lihat aja ke bawah yuk!" Sena dan Tara pun keluar kamar dan turun ke ruang makan.
"Sepi," ucap Sena.
"Iya, nggak ada makanan juga di meja. Apa kita pesan Gofood lagi? tanya Tara.
"Gue kangen masakan nyokap," keluh Sena.
"Ya habis gimana nggak ada apa-apa." Tara pun sama tapi apa daya jika sang Ratu tidak memasak.
"Mamah kenapa, sih? Tumben banget nggak peduli sama anaknya. Biarin anaknya kelaparan!" Sena tak habis pikir, tidak biasanya Mamahnya seperti ini.
"Eh, gue kok nggak lihat Lexa, ya. Ke mana dia?" tanya Tara.
"Nggak tahu!" ketus Sena. Dia tidak memikirkan Lexa sekarang yang penting baginya perutnya yang lapar.
"Apa dia di kamarnya, ya? Dia masih marah sama kita ya?" tanya Tara.
"Biarin aja. Nanti juga baik lagi. Dia lagi ngambek aja gara-gara Raja," jawab Sena.
"Tapi kok aneh ya? Papah sama Mamah juga kok jadi nggak peduli sama kita ya?" Tara sudah merasa ada yang janggal dari sikap orang tuanya.
"Pikiran lo negatif, mereka sedang sibuk." Sena tidak percaya pada Tara, dia memang tidak terlalu peka pada keadaan sekitar.
"Nggak, gue ngerasa mereka sengaja cuekin kita. Coba yuk kita buktiin!" Tara pun melangkah menuju ruang kerja Papahnya.
Sena mengetuk pintu ruang kerja Arjuna.
"Masuk!" Terdengar suara Arjuna yang menyuruh masuk.
Sena pun membuka pintu lalu masuk ke dalam di susul oleh Tirta. "Ada apa?" tanya Arjuna tanpa melepaskan pandangannya dari laptop.
"Makan malam apa? orang nggak ada apa-apa di meja makan." Sena bicara di dalam hati.
"Kalian aja yang makan, Papah nggak lapar."
"Makan dulu Pah, nanti sakit." Tirta memaksa Arjuna untuk makan malam.
"Kalian aja yang makan." Arjuna tetap menolak. Dia sungguh tak nafsu makan. Anak gadisnya yang dia sayangi telah pergi meninggalkan dia. Padahal rencananya masih beberapa hari lagi, tetapi harus dipercepat. Semua gara-gara ulah Raja dan anak kembarnya.
Alexa tidak pernah menceritakan. apa pun. Arjuna tahu dari mata-mata yang dia suruh. Oleh karena itu dia menghindari Meraka agar tak marah dan meluapkan emosi pada mereka.
"Pah, Mamah juga belum makan. Coba bujuk Mamah, Pah," ucap Tara.
"Biarkan saja, Mamah kamu sedang sedih."
"Sedih kenapa?" tanya Sena.
"Sudahlah kalian cepat keluar Papah banyak kerjaan."
"Pah, Alexa dari tadi juga belum keluar dari kamarnya." Mendengar nama Alexa si sebut. kemarahan tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya.
Arjuna menggebrak meja hingga si kembar terkejut. Wajahnya merah menahan marah. "Papah bilang keluar!"
"Papah kenapa, sih? Kalian kenapa? Mamah dan Papah seperti menjauhi kami!" Akhirnya keluar juga apa yang Tara pendam. dalam hatinya.
Arjuna menatap ke layar laptopnya. Dia memandang sendu layar itu, lalu dia melihat ke arah Tara dengan sorot mata yang berubah menjadi tajam.
"Kau bilang, Alexa tak keluar kamar. Dia tidak akan pernah lagi keluar dari kamar itu, karena Alexa sudah tidak ada di kamar itu. Dia sudah pergi. Puas kalian buat putri Papah jauh, puas!"
"Apa maksud Papah. Alexa ke mana? Dan Papah kenapa menyalahkan kami atas kepergian Alexa? Kami tidak tahu apa-apa."
Tangan Arjuna mengepal. Jika saja yang di hadapannya ini bukan anak-anaknya, tinjunya pasti sudah melayang ke wajah mereka. Jika saja Alexa sedang tidak melakukan skype dengannya emosinya pasti tidak akan tertahan.
Di layar laptop. Alexa menggelengkan kepalanya tanda pada papahnya untuk tidak marah.
...----------------...