Si Culun Kekasih Raja

Si Culun Kekasih Raja
Bab 6. Dikira Cupu Ternyata Suhu


Alexa, memaksa untuk masuk hari ini. Kakinya sudah tidak apa-apa. Dia juga menerima syarat yang diberikan oleh Mamahnya, kalau dia sampai terluka lagi, maka mamahnya akan mengungkap jati dirinya dan menghukum orang-orang yang membullynya.


Alexa sudah merencanakan sesuatu. Lihat saja dia akan membuat mereka menyesal.


Alexa berangkat sekolah naik mobil dengan Tara. Kali ini dia turun di parkiran sekolahnya.


"Tumben Dek, kamu turun di sini."


"Iya, kakiku kan sakit. aku nggak kuat jalan jauh." Alexa sedang membuat Alibi.


Alexa, lalu membuka pintu dan keluar. Semua siswa terkejut melihat si culun keluar dari mobil Tara.


Tara pun keluar dan mengunci pintu mobilnya. Dia menghampiri Alexa. "Kamu mau dianterin ke kelas?"


"Nggak kak, makasih." Alexa menunduk malu. Dia lalu berjalan dengan terpincang.


Tara, terkekeh melihatnya. Tadi di rumah, adiknya berjalan biasa saja. Apa yang direncanakan adiknya ini?


"Kenapa lo ketawa-tawa ngelihatin si culun? Kok dia bisa berangkat sama lo?" tiba-tiba datang Raja entah dari mana. Tara menoleh pada Raja.


Dia kesal mendengar Raja mengatai adiknya culun. Tara tidak menjawab Raja, dia justru pergi meninggalkan Raja.


"Eh, gue ditinggal. Bukan di jawab malah dia malah pergi. Gue curiga, si Tara juga suka sama si culun. Ternyata saingan gue banyak, si Sena juga Tara. Selera si kembar kok bisa sama, sih. Kalau gue deketin culun kan karena taruhan. Kalua mereka karena apa? Apa mereka sengaja mau gagalin pendekatan gue, terus gue kalah? Wah licik banget kalau gitu." Raja bergumam sendiri seraya bertolak pinggang.


"Kenapa lo, ngomong sendiri?" Datang Sena.


"Nggak apa-apa." Raja kemudian pergi.


"Eh, gue ditinggal. Raja, raja. Awas lo, niatnya mau ngerjain adek gue. malah lo yang terperangkap sama dia." Sena geleng-geleng kepala, sambil tersenyum.


"Sen, kenapa dah, lo senyum-senyum sendiri?" Aldi datang bersama Alvin.


"Eh, ngagetin aja lo!" Sena menoleh pada Aldi. Dia lalu melangkah pergi.


Aldi dan Alvin saling pandang, lalu mereka mengedikkan bahu dan pergi menyusul Sena. Mereka bersama pergi ke kelas.


Alexa, baru saja masuk ke dalam kelas, dia lalu duduk di depan.


Brak


Seorang gadis memukul meja dengan keras, pasti terasa sakit telapak tangannya, karena dia langsung meniup-niup telapak tangannya yang merah.


"Eh, culun. Nggak usah genit lo ya, sama Kakak kelas, ngaca dong!"


"Maaf, tapi aku nggak genit," ucap Alexa dengan suara bergetar. Dia menunduk seolah tidak berani menatap temannya. Selintas terlihat Lexa sedang tersenyum miring. Namun, tidak ada yang menyadarinya.


"Masih berani lo menjawab. Lo kira kita buta, kemarin lo pura-pura sakit kan biar digendong sama Kakak kelas?!"


"Aku beneran sakit, aku juga nggak tahu bakal digendong."


Temannya yang kemarin menyengkat Alexa, menjenggut rambut Alexa.


"Nggak usah, banyak bacot lo ya. Gue peringatkan Lo sekali lagi. Jangan caper sama Kakak kelas. Muka lo nggak cocok! Kayak cantik aja, muka buluk juga!"


"Ampun, lepasin sakit." Alexa merintih.


"Ada apa ini?" tanya seseorang.


Semua menoleh ke arah suara. Ternyata Raja. Dia melihat si culun yang sedang dijenggut oleh cewek yang kemarin menyengkat Alexa.


"Lepasin tangan lo, dari rambut pacar gue!" Raja merasa marah melihat si culun di bully. Tidak ada yang boleh membullynya kecuali dia seorang.


"Pacar? Nggak salah, Kak?" gadis itu justru membuat Raja tambah marah.


"Lepasin sekarang juga, atau lo tahu akibatnya!" teriak Raja.


Gadis bernama Cindy itu melepaskan tangannya yang menarik rambut Alexa.


"Raja menghampiri Alexa, dia mengusap rambut Alexa. Raja baru menyadari kalau Alexa kini tidak mengepang rambutnya. Dia hanya menguncinya ke belakang.


"Sakit?" tanya Raja lembut.


Alexa, menepis tangan Raja. "Kak, tolong jangan dekat-dekat dan jangan bilang aku pacar Kakak, karena kita memang tidak pacaran. Aku nanti pasti di bully lagi, Kak." Alexa saat ini sedang berperan sebagai kaum yang lemah.


"Kalau ada yang bully kamu, bilang aku! Biar aku yang balas."


Kelas semakin ramai, lalu terdengar suara bel masuk


"Aku ke kelas dulu, ya. Nanti, istirahat tunggu aku, kita ke kantin bareng."


Raja pun keluar dari kelas Alexa. "Cih, berlagak sok baik. memangnya aku tidak tahu taruhan itu." Alexa berbicara dalam hati.


***


Raja segera bangkit dan melangkah ke pintu. "Ja, mau ke mana?" tanya Aldi. Raja berbalik dan melihat Aldi.


"Ke kelas si culun. Gue mau ajak dia ke kantin."


"Tumben?" tanya Aldi.


"Ya 'kan mau pendekatan. Siap-siap aja lo beliin gue mobil."


Raja kembali melanjutkan langkahnya keluar kelas.


Sena dan Tara juga bangkit dan melangkah keluar. Mereka ingin menyusul Raja. Memastikan adek mereka tetap aman.


Aldi dan Alvin pun tidak ketinggalan. Mereka berlari mengejar si kembar.


***


Alexa segera keluar dari kelasnya, sebelum Raja datang menjemputnya ke kantin. Dia pergi ke toilet.


Alexa merasa ada yang mengikutinya. Dia tersenyum miring. Alexa sengaja berjalan dengan sedikit pincang.


Begitu sampai di kamar mandi, Alexa langsung masuk ke dalam bilik. Dia menyalakan keran. Suara air pun terdengar. Alexa, merapikan rambutnya.


Dia membuka ikatannya dan merapikan rambut lalu mengikatnya kembali. Dia mengirim pesan pada seseorang.


Alexa lalu mematikan keran, dan membuka pintu. Dia lalu keluar dari kamar mandi.


Terlihat ada empat gadis menghadangnya. "Jadi lo, beneran pacar Raja?" tanya Cindy angkuh.


"Bukan," jawab Alexa.


"Dia yang bilang sendiri. Heran, apa sih yang dia lihat dari lo? Padahal cantik juga nggak, seksi juga nggak." Cindy berkata dengan sedikit menghina.


"Lo pacaran sama Raja, tapi berani deketin Sena dan Tara. Merasa cantik, ha!" Teman Cindy mendorong bahu Alexa dengan tangannya.


Alexa melihat tangan yang berani mendorong bahunya dengan wajah dingin. Matanya menatap tajam pada gadis itu.


Plak


Cindy menamparnya dengan kencang, hingga wajah Alexa menoleh ke kiri. Dia tidak suka dengan tatapan Alexa. Pipi Alexa pun menjadi merah. Terlihat bekas cap lima jari di pipi Alexa.


Alexa, mengusap pipinya. Dia pun tersenyum miring. Dia harus bersabar belum waktunya dia membalas semuanya.


Cindy menjenggut rambut Alexa dengan kencang. Dia menarik Alexa ke pinggir hingga berhadapan dengan dinding, lalu Cindy membenturkan dahi Alexa.


Tidak sekali, tapi dua kali, dan itu sangat kencang. Rasanya cukup membuat Alexa pusing. Dahinya terlihat benjol dan sedikit biru.


Saat Cindy akan membenturkan dahinya lagi ke dinding. Alexa menahan kepalanya.


Cindy mencoba lagi mendorong kepala Alexa tetapi sulit. Alexa menyeringai dan berbalik.


Dia lalu menarik rambut Cindy dengan kuat dan membenturkannya ke dinding.


Semua terjadi begitu cepat, yang Cindy rasakan adalah kepalanya pusing dan cenat-cenut.


Teman-teman Cindy tidak menduga kejadian tersebut, memang tidak ada yang menduganya.


Alexa mengambil tangan Cindy dan menampar temannya dengan tangan Cindy.


Cindy yang masih merasa pusing tidak bisa mengelak. Bekas tamparan terlihat di pipi temennya yang bernama Laura.


Alexa kemudian menendang Laura di perutnya tidak terlalu kuat tetapi cukup membuat Laura sakit.


Dia ingin menonjok teman Cindy yang satu lagi, bernama Mila. Wajah Mila terlihat shock, dia menahan nafas dan melotot.


Tangan Alexa berhenti tepat di depan wajahnya. Alexa menyeringai dan kembali menarik tangannya yang hanya meninju angin.


"Katakan, pada semuanya kalau Cindy membullyku. Kalian ingin menolongku tetapi Cindy justru balik menyerang Laura dan mereka pun berkelahi. Katakan seperti itu atau kau akan bernasib seperti mereka atau bahkan lebih." Alexa berkata sambil berbisik pada Mila.


Wajah Mila pucat dia ketakutan, ternyata si gadis culun ini sangat mengerikan. Dia tidak menyangka orang yang dia sangka cupu ternyata suhu.


Mila mengangguk. Alexa kemudian mengirim pesan pada seseorang. Dia lalu berjongkok di pojok dan menunduk.


Pintu kamar mandi di dobrak oleh Raja. Dia mencari Alexa ke kelas tapi tidak ada. Ada yang melihat kalau Alexa pergi ke toilet. Dia pun segera ke toilet.


...----------------...