
Alexa, Tara dan Sena pergi sekolah bersama dengan menaiki mobil. Sampai di sekolah Raja sudah menunggu mereka di parkiran. Dia juga baru tiba.
Tara dan Alexa berjalan berdampingan, Sena dan Raja di belakang mereka. Semua orang memperhatikan mereka.
"Raja!" Seorang gadis memanggil Raja. Di sampingnya ada dua orang gadis cantik.
"Vera!" ucap Raja. Mata Alexa memicing, mencoba mengingat siapa ketiga gadis ini. Namun, dia tidak ingat sama sekali.
"Hai, apa kabar kalian semua?" tanya Vera sambil tersenyum manis.
"Kami baik. Kamu sekolah di sini lagi?" tanya Raja.
Alexa menangkap suara yang lembut, dan apa dia tidak salah dengar 'kamu' lembut sekali Raja pada gadis ini. Sebenarnya siapa dia?
"Iya, sekarang kami bertiga sekolah di sini lagi. Kami tidak bisa jauh dari kalian."
Alexa mengamati mereka, sepertinya mereka bertiga dekat dengan Raja dan kakak kembarnya.
"Bagus, deh. kita bisa sama-sama lagi kayak dulu." Sena pun ikut tersenyum, dan berkata lembut pada satu di antara mereka.
Vera melihat Alexa, matanya memicing memperhatikan Alexa dari atas ke bawah. "Siapa dia?" tanya Vera pada Raja.
"Oh, dia adik kelas, dia adalah pa ...."
"Dia mau ke kelas tadi kami papasan." perkataan Raja dipotong oleh Tara. Dia tidak mau Raja mengatakan kalau Alexa adalah pacarnya, karena satu diantara gadis itu adalah gadis yang Tara sukai.
"Oh, aku pikir siapa."
"Cindy ayo, aku antar ke kelas kamu." Tara menarik tangan Cindy.
"Ayo." Cindy berjalan bersama Tara, di belakang mereka ada Raja dan Vera, lalu di belakangnya lagi ada Sena dan Aurel.
Mereka meninggalkan Alexa sendirian. Mereka melupakannya. Terdengar bisik-bisik siswa di sekitar Alexa.
"Kasihan amat, ditinggalin pacar."
"Iya, lah. Kak Tara lebih pilih Kak Cindy. Cantikan juga Cindy."
Alexa tersenyum miring. Dia lalu mengedikkan bahunya. Alexa berjalan ke kelas sendirian. Tidak masalah baginya. Toh biasanya juga dia sendiri.
Alexa sampai dikelasnya. Dia lalu duduk. Alexa mengambil ponselnya yang bergetar. Dia mengangkat telepon yang masuk.
"Halo, selamat Nona, Bisakah Anda datang pada pertemuan jam sembilan. CEO perusahaan ini tidak mau diwakilkan. Dia ingin Nina sendiri yang hadir. Saya sudah berusaha untuk bernegosiasi tetapi tetap saja dia ingin Nina hadir atau kerja sama batal."
"Oke, jemput."
"Siap, Nona. Selamat pagi."
Sambungan telepon lalu terputus. Dia masih ada waktu dua jam untuk bersiap. Alexa mengambil tasnya dan keluar dari kelas. Alexa pergi ke gudang. Dia melihat sekitar apakah ada yang mengawasinya atau tidak? Setelah yakin aman. Alexa lalu masuk ke dalam gudang.
Dia membuka pintu lemari yang terkunci gembok, dengan sebuah kartu. Pintu itu pun terbuka. Sebenarnya gembok itu hanya kamuflase. Tempat memasukkan kunci itu sesungguhnya adalah sensor untuk sebuah kartu yang di pegang Alexa.
Alexa membuat sendiri kunci itu. Setelah kunci terbuka dia membuka lemari yang lagi-lagi hanya tipuan, karena lemari itu sebenarnya adalah pintu masuk ke ruangan rahasia Alexa.
Berbeda dengan ruangan rahasia keluarga yang Sena dan Tara juga tahu. Ruangan ini adalah rancangannya sendiri. Tidak ada yang tahu, kecuali orang kepercayaannya yang ikut membangun tempat ini.
Di dalam lemari Alexa membuka pintu lain. Terlihat tangga menuju ke bawah, dia menuruni anak tangga itu. Alexa sampai di lorong yang bila terus berjalan akan sampai ke jalan keluar parkiran mobil khusus.
Alexa berada di depan sebuah pintu kamar. Dia membukanya dengan sidik jari. Begitu pintu terbuka semua lampu dalam ruangan menyala. Ruangan ini begitu elegan dan mewah juga modern.
Banyak barang canggih di kamar ini. "Selamat datang Nona." Terdengar suara seorang perempuan. Namun, tak ada siapa pun di ruangan itu selain Alexa.
Dari sini Alexa bisa melihat semua keadaan sekolah. Dia menaruh berbagai kamera tersembunyi tanpa seorang pun tahu.
Komputer itu hanya akan menyala saat Alexa suruh, atau saat Alexa masuk seorang diri. Dia menggunakan sensor, jadi ketika yang masuk bukan Alexa, maka komputer tidak akan menyala.
"Kitty, coba kamu perlihatkan kelas Kak Tara!"
"Baik Nona."
Alexa menamai komputer pintar itu Kitty. Layar komputer yang besar menampilkan gambar di kelas Tara. Mereka bertiga sedang bersama ketiga gadis itu.
"Kitty, aku minta data ketiga gadis itu yang duduk bersama Raja, Sena dan Tara."
"Baik, Nona. Gadis yang bersama Raja adalah Vera Roudin dia pernah sekolah di sini lalu mengikuti pertukaran pelajar, sekarang dia sudah selesai dan kembali sekolah di Tirta School," ucap Kitty bersamaan dengan layar yang menampilkan foto-foto Vera.
"Oh, begitu. Apa dulu mereka dekat?" tanya Alexa pada Kitty.
"Raja dan Vera sangat dekat, tetapi tidak menjalin hubungan." Kini layar berganti Foto-foto kedekatan Raja dan Vera.
Kitty menyimpan memori dari mulai dia di buat saat Alexa duduk di bangku SMP kelas dua sampai sekarang.
Kitty pun menjelaskan tentang gadis bernama Cindy yang dekat dengan Tara juga Aurel yang dekat dengan Sena. kitty juga menampilkan foto-foto mereka.
"Oke, cukup Kitty, aku sudah jelas. Teriak kasih."
"Sama-sama Nona."
Alexa lalu menelepon asistennya untuk mengirim file yang akan dibahas dalam rapat. Dia akan mempelajarinya sebentar.
Alexa memasang bluetooth pada ponselnya. "Kitty coba bacakan isi file yang baru saya terima."
"Baik, Nona."
Alexa mendengarkan Kitty membaca isi file itu.
"Sepertinya ada yang janggal apa ya?" Alexa berpikir dia melihat ponselnya, dan membaca file itu.
Tak terasa waktu berlalu, Lexa di ingatkan Kitty kalau sekarang waktunya untuk pergi.
Alexa mengganti bajunya yang ada di lemari, di ruangan itu juga terdapat kamar mandi dan kamar tidur. Alexa merubah penampilannya menjadi cantik kini dia sudah siap menghadiri rapat.
Alexa berjalan di lorong dan ketika dia mentok berhadapan dengan dinding, Alexa menempelkan sidik jarinya pada titik tertentu. Dinding itu terbuka.
Alexa keluar, dinding tertutup kembali. Alexa berada di belakang sebuah pohon besar. Jadi jika dilihat Alexa seperti baru saja keluar dari balik pohon besar.
Terlihat mobil sudah menunggu di parkiran khusus. Alexa lalu masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun melaju kelaut dari kawasan sekolah.
Bel istirahat berbunyi. Raja, Tara dan Sena ke kantin bersama ketiga gadis itu. Mereka tidak ke kelas Alexa seperti biasanya.
Melihat mereka di kantin, bisik-bisik negatif pun terdengar. Mereka membicarakan Alexa yang kini tidak lagi bersama mereka.
"Si culun, pasti patah hati sampai cabut sekolah." Salah satu siswa mengeluarkan pendapatnya.
"Pasti dia malu, sekarang dia udah dibuang sama mereka."
Sedangkan Raja dia mengamati sekitar kantin. Dia baru menyadari tidak melihat Alexa, di mana dia? Kenapa Alexa tidak ke kantin, apa dia tidak akan makan? Pertanyaan itu terbersit di hati Raja.
"Oh
"