
"Alexa, tunggu!" Tara memanggil Alexa yang sedang berjalan ke kelas setelah sholat Dzuhur mesjid sekolah.
"Ada apa Kak?" Alexa melihat ke sekitarnya yang kini sedang memperhatikan mereka.
"Bisa kita bicara berdua?" ucap Tara.
Sena berdiri di belakang Tara. Raja Aldi dan Alvin baru saja datang, setelah mereka melaksanakan sholat.
"Maaf, Kak tapi aku buru-buru." Alexa hendak pergi, dia tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
Tara menarik tangan Alexa. "Tunggu, sebentar saja. Ada yang ingin aku katakan." Mata Tara melirik ke arah Raja.
"Katakan apa?" tanya Alexa.
"Yakin, aku mengatakannya di sini?" tanya Tara.
"Mau ngomong apa, sih? Ngomong aja di sini!" Raja mengatakannya dengan ketus.
"Ini nggak ada hubungannya sama lo, Ja. Jadi gue harap lo nggak usah ikut campur," ucap Tara tegas, Raja pun terdiam."
"Emang Kakak mau bilang apa?" tanya Alexa.
"Oke, aku akan katakan di sini." Tara menegang tangan Alexa. "Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi ...."
"Apa-apaan ini?" tanya Raja sedikit menyentak. Dia tidak terima jika Tara menembak Alexa. Si culun adalah miliknya, mainannya. Tidak boleh seorang pun mengambil Alexa dari dia.
Raja mendekati Alexa dan melepaskan tangan Tara yang memegang Alexa.
"Nggak usah pegang-pegang!" ucap Raja kesal.
"Kenapa, lo? Gue mau nembak Alexa, kenapa lo nggak suka? Dia masih single, bebas, dia juga nggak ada hubungan sama lo?"
"Kata siapa? Alexa itu cewek gue! Lo nggak usah rebut dia!"
Bisik-bisik di sekitar mulai terdengar. Alexa sudah duga pasti akan seperti ini. Ini semua gara-gara rencana kakaknya.
"Cewek lo? Kapan lo nembak, Ja?" tanya Sena.
"Apa dia cowok kamu?" Alexa menggeleng.
"Bukan, kami tidak pernah jadian!"
"Oh, jadi lo pengen gue tembak terus jadian? Jangan ngarep!" ketus Raja. Tara, geram melihat Raja yang justru mempermalukan adiknya.
"Alexa, aku cinta sama kamu. Mau jadi pacar aku?" Tara mengatakannya dengan lantang.
Alexa diam tidak menjawab. Da melihat pada Sena yang mengangguk, lalu menatap sekitarnya yang berbisik dan memandang dia sinis.
Alexa tersenyum, dia lalu menatap ke arah mata Tara. "Aku mau Kak." ucap Alexa yakin.
Tara tersenyum senang, dia lalu memeluk adiknya. Sedangkan Raja mengepalkan tangannya. "Gue nggak nyangka ternyata lo, nusuk gue dari belakang." Raja pergi setelah mengatakan itu pada Tara.
"Dia bukan milikmu, bagaimana bisa aku menusukmu dari belakang?"
Raja berhenti sesaat mendengar apa yang di katakan oleh Tara. Dia tahu Tara benar, tapi sungguh hatinya tidak rela. Raja lalu melanjutkan langkahnya.
Tara mengangkat tangan dan menyodorkannya pada Alexa, meminta Alexa untuk menggenggamnya.
Alexa meyambut uluran tangan Tara, dia menggandeng tangan Tara. Mereka lalu berjalan bersama menuju kantin untuk makan siang.
Sena mengikuti mereka. Aldi dan Alvin saling tatap dan mengedikkan bahu lalu melangkah pergi mencari Raja.
"Ke mana si Raja? Pake menghilang segala!" gerutu Aldi
Alvin terkekeh. "Dia lagi patah hati, gebetannya di ambil sama sahabatnya sendiri," ucapnya kemudian.
"Bukan patah hati, tapi dia kesal karena kalah."
"Nah, itu dia! Sekarang dia malah kabut takut kita tagih." Mereka pun tergelak.
Sementara orang yang mereka cari kini sedang menenangkan diri di rooftop gedung sekolah.
"Brengsek, si Tara! Ngambil Si culun dari gue! Ngajak perang dia." Raja berbicara sendiri. Melampiaskan kekesalannya.
"Terus kenapa gue nggak suka lihat mereka jadian? Harusnya biasa aja dong! gue 'kan nggak suka sama dia."
"Argh!" Raja mengacak rambutnya frustasi. Dia berdebat dengan dirinya sendiri. Merasa bingung dengan perasaannya.
"Nah, di sini rupanya, lo sembunyi!" Datang Aldi dan Alvin.
Raja melihat ke arah mereka sebentar lalu kembali memperhatikan gedung gedung di sekitar sekolah.
"Gue nggak bersembunyi!" Raja menyanggah ucapan Aldi.
"Iya, nggak ngumpet tapi sedang menenangkan diri karena patah hati," ucap Alvin. Aldi dan Alvin tertawa lalu mereka tos bersama.
"Ck, kalian kalau mau berisik jangan di sini. Aku butuh ketenangan."
"Bro, jangan galau. Cewek masih banyak. Apalagi yang model kaya Alexa banyak, Bro!" Aldi menepuk bahu Raja.
"Apa, sih?"
"Lo, boleh patah hati, tapi jangan lupa janji lo!"
"Gue, nggak lupa! Gue bakal kasih yang kalian mau."
"Gitu dong, sportif!" Aldi menggerakkan kedua alisnya.
"Ja, gue mau nanya sama lo, sebenarnya perasaan lo sama Alexa itu bagaimana? Sebelum jawab, gue mau lo jujur sama hati lo sendiri, tanpa mikirin ego, atau pandangan orang lain."
Raja terdiam dia pun meraba hatinya, sebenarnya apa yang dia rasakan pada Alexa? gadis yang berpenampilan culun. Namun, menarik perhatiannya. Dia menonjol karena sikapnya yang angkuh dan berani, sikapnya bertolak belakang dengan penampilannya.
Itulah yang membuat Raja tertarik untuk mengerjainya. Benarkah hanya untuk mengerjainya? Atau itu hanya alasan dia karena ingin lebih dekat dan lebih tahu mengenai Alexa.
Dia rindu ketika tidak bertemu, dia tak rela jika Alexa dekat dengan lelaki lain.
"Gue nggak tahu perasaan gue sendiri," ucap Raja.
"Gini deh, apa yang lo rasain kalo lihat dia?" tanya Alvin.
"Senang aja, gue bisa gangguin dia lagi. Gue suka muka dia yang jutek." Alvin manggut-manggut.
"Terus, apa yang lo rasain saat kemarin lo nggak bisa ketemu dia?"
"Nggak semangat, kayaknya sepi. Hambar aja."
"Terakhir, apa yang lo rasain saat lihat Tara jadian sama Alexa?"
"Kesal, marah, kenapa Alexa nerima dia? Gue, jadi nggak bisa dekat-dekat dia lagi buat gangguin dia."
"Lo harus akui perasaan lo Bro, lo suka sama si culun. Lo cemburu melihat dia sama Tara. Lo cinta sama dia."
Raja tergelak, perkataan Alvin terdengar lucu di telinganya.
"Ngadi-ngadi lo, gue cinta sama si culun? Hahaha, impossible. Walau dia cewek terakhir di muka bumi ini, gue nggak akan jatuh cinta sama dia!"
"Bagus deh, karena dia cewek gue sekarang. Siapa pun nggak berhak untuk mencintai dia kecuali gue!" Tara datang bersama Sena.
"Ya, selamat buat lo, gue nggak nyangka aja selera lo ternyata model si culun." Raja tersenyum sinis meledek Tara.
Wajah Tara terlihat marah, "Bisa nggak lo jangan panggil dia si culun. Dia punya nama, hargai dia karena dia sekarang cewek gue."
Raja terkekeh, "Oke, Alexa yang culun."
Tara menarik kerah baju Raja, hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi saja.
"Walaupun lo sahabat gue, gue pastiin lo nggak akan pernah lagi bisa dekat-dekat dan ganggu Alexa. Lo berhadapan sama gue kalau ganggu dia!" Tara menekankan pada Raja untuk menjauhi Alexa, dengan tatapan mata yang menusuk tajam.
"Gue juga akan melindungi Alexa, Karena sekarang dia pacar kembaran gue!"
"Udah, Bro. kita ini sahabat, jangan hanya gara-gara cewek kita jadi bertengkar." Aldi berusaha melepaskan cengkeraman tangan Tara pada kerah baju Raja.
Tara melepaskan cengkeraman nya pada kerah baju Raja, lalu memasukkan tangannya pada kantong celana.
Tara kemudian pergi bersama Sena.