Si Culun Kekasih Raja

Si Culun Kekasih Raja
Bab 44


Seorang wanita cantik berjalan menuju tempat penjemputan. Dia baru saja landing di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Netra di balik kacamata hitamnya berkeliling mencari jemputan yang katanya sudah menunggu.


Dia melihat seseorang mengangkat karton bertuliskan namanya. Wanita itu berjalan menghampiri seorang pria yang dia perkirakan berumur sekitar 35 tahun. Wajahnya asing, mungkin pria itu adalah sopir baru keluarganya.


"Anda utusan Tuan Tirta?" tanya wanita itu.


Pria yang ditanya tidak langsung menjawab. Dia mengamati wanita tersebut dari atas hingga bawah. Rambut model bob pendek, wajah yang dibingkai kacamata hitam, tinggi badan melebihi dirinya padahal dia memiliki tinggi 170cm.


"Nona ... Alexa?" tanya pria itu.


"Iya, saya."


"Saya sopir yang di utus untuk menjemput Anda. Mari Nona kita ke mobil. Biar saya yang bawa kopernya Nona." Pria itu segera mengambil alih memegang koper Alexa.


Alexa melepaskan pegangannya, dia membiarkan sopir itu menarik koper. Dia berjalan di belakang sang sopir menuju mobil.


Mereka berhenti di depan sebuah mobil sedan. Sang sopir membuka kunci mobil dengan remote. Dia lalu membuka pintu untuk anak majikannya.


Alexa masuk dan duduk dibelakang. Dia membuka kacamata yang membingkai wajah cantiknya. Sang sopir masuk dan duduk di belakang kemudi setelah menaruh barang-barang Nona Alexa di bagasi.


Dia melihat wanita itu dari spion dan terpesona melihat mata indah yang semula disembunyikan di balik kacamata. Sang sopir lalu menyalakan mobilnya, perlahan mobil itu kemudian melaju.


Alexa menatap pemandangan yang dilaluinya dari balik jendela kaca mobil. Tiga tahun dia pergi meninggalkan kota ini. Apakah semua masih sama? Apa kabarnya mereka saat ini?


Sebenarnya dia segan untuk kembali ke kota ini. Namun, orang tuanya selalu menyuruhnya pulang, ditambah lagi Mamahnya sedang sakit.


Begitu melewati bekas sekolah SMA nya Alexa menghela napas. Memorinya berputar ke masa dulu di mana dia awal masuk sekolah, didekati pria, pacaran dan putus.


Masa SMA masa dia mengenal perasaan cinta dan sakit hati. Dia sudah memaafkan mereka semua tetapi tidak bisa kembali seperti dulu. Dia tidak benci atau dendam.


Sampailah mereka di rumah yang sudah lama dia tinggalkan. Rumahnya masih sama hanya ada beberapa perubahan di taman yang Alexa lihat. Banyak tanaman baru.


Alexa turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu. Dia lalu berdiri sejenak melihat rumah yang berada di depannya. Perasaannya kini campur aduk.


Alexa lalu melangkah pelan menuju pintu depan. Baru saja dia hendak membuka pintu, seseorang sudah mendahuluinya. Orang itu nampak terkejut dengan kehadiran wanita yang sudah lama tidak dilihatnya.


Pria itu terpaku memandang Alexa. Walau sudah lama dia dapat mengenali Alexa. Banyak yang berubah dari wanita itu, dia bertambah cantik dan terlihat dewasa. Namun, ada hal yang masih sama, mata itu dan sorot matanya yang tajam, juga Wajahnya yang dingin dan tegas.


Alexa berdehem menyadarkan pria itu. "Boleh saya masuk?" ucap Alexa.


Pria itu lalu merasa salah tingkah dan canggung. "Ah iya, silakan. Senang melihatmu lagi Alexa." Dia pun menggeser tubuhnya agar Alexa bisa masuk.


"Kau betambah cantik tapi juga betambah dingin." Pria itu mengamati Alexa yang semakin jauh masuk ke dalam. Dia menutup pintu mengurungkan niatnya untuk pergi lalu menyusul Alexa ke dalam.


Suara deringan ponsel dia abaikan, lalu dia mematikan ponselnya. Agar tidak ada yang mengganggunya. Bagi dia kini yang terpenting adalah bertemu Alexa. Wanita yang sudah sangat dia rindukan.


Alexa menuju ruang keluarga. Di sana ada mamah dan papahnya sedang duduk menonton TV bersama dengan kakaknya, Sena. Walaupun sudah lama tidak bertemu dia masih bisa mengenali si kembar, mereka punya gaya yang berbeda yang sudah


Alexa hapal.


"Assalamualaikum." Alexa mengucap salam mengalihkan perhatian mereka dari TV.


"Lexa, Sayang." Mamah Alexa langsung berdiri dan menghampiri anak perempuan satu-satunya. Dia langsung memeluknya melepas rasa rindu. Padahal mereka baru bertemu satu bulan yang lalu.


Alexa melepaskan pelukan sang mamah matanya memicing menelisik penampilan mamah dari atas ke bawah. "Katanya Mamah sakit?" Alexa mendapat kabar kalau mamahnya sakit dan minta Alexa pulang, tapi nyatanya wanita itu sedang berdiri di hadapannya dalam keadaan sehat wal'afiat, dengan senyum manis yang tak lepas dari wajahnya.


"Mamah sudah sehat begitu mendengar kamu mau pulang. Mamah tidak mau menyambut kamu dalam keadaan sakit." Senyumnya semakin lebar. Harusnya Alexa tahu kalau Mamahnya ini hanya membuat alasan agar dia pulang.


"Alexa senang Mamah sudah sehat dan baik-baik saja." Alexa memeluk mamahnya. Dia tidak bisa marah kepada orang yang sudah mengorbankan hidup untuknya. Mungkin hanya orang tuanya lah yang tulus mencintai dan menyayangi dia.


"Kamu tidak rindu Papah." Alexa melepaskan pelukannya pada sang Mamah begitu mendengar suara Pria yang begitu dia cintai, papahnya.


Mereka berpelukan, Alexa melepaskan rindu pada mereka tetapi begitu berhadapan dengan Kakak-kakaknya dia hanya menjabat tangan mereka. Dia bahkan tidak membalas pelukan Sena dan Tara. Senyum pun sekilas lalu berbincang kembali dengan orang tuanya.


Alexa pun pamit ingin beristirahat, dia segera ke kamarnya. Kedua kakak Alexa menatap kepergiannya dengan sedih. Alexanya tetap tidak memaafkan mereka. Sikapnya masih dingin mereka pikir setelah tiga tahun berlalu Alexa akan berubah dan kembali dekat dengan mereka.


"Mamah tidak bilang kalau Alexa akan pulang." Sena protes pada mamahnya yang merahasiakan kepulangan Alexa.


"Kenapa harus bilang? Nanti juga kalian tahu sendiri."


"Ya kalau aku tahu, aku kan bisa jemput di bandara."


"Alexanya nggak mau. Udah ah, Mamah mau masak buat Alexa. Dia pasti lapar dan rindu masakan Mamah."


"Sudah lah, yang penting adik kamu sudah kembali. Gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan kalian." Papahnya lalu pergi naik ke lantai dua.


Sena dan Tara saling tatap mereka lalu menghela napas dan duduk di sofa secara bersamaan. Mereka bingung bagaimana cara agar adiknya mau memaafkan mereka dan kembali bersikap hangat.


...----------------...