
Urusan perpindahan aset telah terselesaikan, dan akhirnya mereka bisa beristirahat. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, dengan mata yang telah terjaga seharian, rasa kantuk yang tak tertahankan pun akhirnya datang. Tanpa ragu, mereka berbaring dan segera tertidur. Malam itu, hujan turun dengan deras, suara gemuruh hujan dan petir mengiringi mereka sepanjang malam. Namun, saat subuh tiba, hujan reda dan suasana menjadi hening. Sesekali terdengar suara kendaraan lewat di kejauhan.
Seraphina terbangun dari tidurnya dan meregangkan kedua tangannya sebelum berjalan menuju kamar mandi. Saat memandang cermin di dekat wastafel, dia menyadari bahwa penampilannya masih berantakan. Dengan perlahan, dia mulai membasuh wajahnya. Seperti rutinitasnya di istana dulu, jari-jarinya menari dengan anggun memancarkan energi sihir, dan bintang-bintang muncul dengan gemerlap cahaya. Cahaya bintang-bintang itu merapikan penampilan Seraphina yang awalnya berantakan menjadi lebih baik. Selanjutnya, dia mengisi air di bathtub dan menuangkan sabun cair. Busa mulai muncul di permukaan air, dan dia merendamkan tubuhnya hingga setinggi leher. Setelah beberapa saat selesai mandi, Seraphina kembali menggunakan sihirnya. Bintang-bintang muncul lagi, merapikan penampilannya secara menyeluruh, sehingga dalam sekejap, dia tampak cantik seperti biasanya.
Seraphina menggunakan sihirnya sekali lagi untuk melihat keadaan Safy. Dalam penglihatannya, Safy masih tertidur pulas. Dia juga melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi. Seraphina pun menuju dapur dengan tekad untuk membuat sarapan pagi. Karena dia tidak pandai memasak, dia menggunakan sihirnya lagi dengan memanggil roh pembuat makanan, “Wahai roh pembuat makanan, atas namaku Seraphina Aurora, putri dari kerajaan Seraphinova. Memberi perintah kepadamu untuk datang kemari! Sekarang!”
Aura magis mulai berkumpul di dalam dapur, dan lampu-lampu berkedip tak beraturan. Suhu udara menurun, dan embun mulai membasahi lantai dan meja akibat kehadiran energi magis. Tidak lama kemudian, seorang koki muncul dengan seragam masaknya, berlutut di hadapan Seraphina. Dia adalah roh yang datang karena perintahnya sebagai putri kerajaan.
"Saya datang atas perintah Putri Agung, Seraphina Aurora. Mohon maaf Tuan Putri, apakah yang bisa saya bantu?" tanya roh koki dengan penuh hormat.
Seraphina memberikan instruksi dengan tegas, "Buatkan kami berdua sarapan pagi dengan beberapa hidangan, seperti hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup, serta jangan lupa untuk hidangan penutup. Semua bahan akan kusiapkan, jadi kerahkan kemampuanmu di sini."
"Dimengerti, Tuan Putri! Ketegasan Anda merupakan semangat bagi saya!"
Dengan sihirnya, Seraphina mempersiapkan semua bahan dari hutan dan persediaan istana. Semua bahan itu tiba-tiba muncul di meja dapur. Tanpa menunggu lama, koki roh dengan lihai memasaknya. Dia menggunakan empat tungku kompor sekaligus dan juga oven. Ketiga hidangan itu dimasak dengan penuh keahlian.
Sementara itu, Seraphina duduk di meja makan sambil membaca buku, sesekali menyantap camilan. Setelah 45 menit, ketiga hidangan itu telah selesai. Roh koki tersebut menyajikannya di meja makan dengan penuh kebanggaan.
"Tuan Putri, semua hidangan telah selesai. Pertama-tama izinkan saya menjelaskan secara singkat untuk menunya. Hidangan pembuka adalah sup labu kuning dengan porsi kecil yang cocok untuk mengawali sarapan pagi. Rasanya tidak terlalu kuat sehingga tidak mengganggu indera perasa ketika masuk ke hidangan berikutnya. Selanjutnya, hidangan utamanya adalah omelette dengan kentang, daging, paprika, dan telur sebagai bahan utamanya. Dan ini dia, hidangan penutupnya, salad buah. Perpaduan buah-buahan segar dari, semangka, melon, strawberry, kiwi, dan blueberry serta diberikan mayones. Untuk pencuci mulut sudah disatukan pada hidangan penutup. Tuan Putri Seraphina, semoga anda menyukainya," ujar roh koki dengan penuh kebanggaan.
Seraphina memberikan energi magis sebagai ungkapan terima kasih kepada roh koki tersebut, dan roh itu pamit undur diri dengan cahaya yang menyelimuti tubuhnya. Tiba-tiba...
"Tuan Putri! Apa yang terjadi? Apakah anda memasak sendiri? Seharusnya anda membangunkan saya tadi!" teriak Safy kaget melihat meja penuh hidangan.
Seraphina menenangkan Safy dengan tersenyum riang, "Sudahlah, yang penting sekarang kita makan dulu. Nanti akan ku jelaskan semuanya."
Mereka menyantap makanan dengan penuh selera. Safy kembali terkejut saat melihat hidangannya. Di hadapannya terdapat sup labu kuning dalam wadah kecil. Ketika mencicipinya, satu suapan sudah cukup untuk membuatnya terkesan. Rasa manisnya begitu lembut dan nyaman di perut. Setelah menikmati sup itu, giliran omelette telur yang siap untuk disantap. Gabungan rasa telur, paprika, potongan daging, dan kentang menyatu harmonis dalam satu sajian. Rasa kuatnya memenuhi mulut Safy dengan kelezatan yang memikat. Makanan pembuka yang tidak terlalu manis justru memberikan kesan yang semakin mendalam pada omelette. Safy merasa puas dengan makanan itu, dan perutnya kini terasa kenyang karena campuran antara sup dan omelette. Akhirnya, Safy menyudahi makan dengan memakan salad buahl sebagai pencuci mulutnya.
"Tuan Putri, apakah Anda menggunakan sihir untuk membuat semua ini?" tanya Safy.
"Iya, aku telah memanggil roh juru masak dari dunia ini. Tidak kusangka masakannya benar-benar enak," ujar Seraphina sambil membayangkan betapa lezatnya makanan lain yang bisa dibuat roh juru masak tersebut.
"Tuan... Putri... Seraphina! Tolong jangan gegabah. Anda sering kali berbuat tanpa sengaja, jika ini terjadi di luar, pasti akan menarik perhatian," tegur Safy dengan khawatir.
"Tuan... Putri!" teriak Safy dengan sedikit kesal.
Seraphina menatap Safy dengan tatapan merajuk, "Safy..."
"Huft, Iya, iya, saya mengerti. Tuan Putri harus hati-hati mulai sekarang, dan saya pun akan lebih waspada untuk tidak membuat kehebohan seperti memanggil gelar Anda," ucap Safy sambil memegang tangan Seraphina dengan penuh perhatian.
Lalu, keduanya kembali ke aktivitas masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Safy melanjutkan tugasnya sebagai pelayan dengan semangat. Dia membersihkan rumah dan halaman, mencuci pakaian, serta merapikan gudang. Sementara itu, Seraphina melanjutkan rutinitas harian yang ia nikmati. Tubuhnya merebah di tempat tidur dengan bantal dan guling yang ditumpuk cukup tinggi sebagai sandaran. Buku-buku menarik dikumpulkannya di kasur, dan dia membaca satu per satu sampai semua buku terbaca. Jika dia merasa lapar, kekuatan sihirnya membuat berbagai camilan favoritnya tanpa perlu repot masuk ke dapur.
Di halaman depan, Safy masih sibuk membersihkan daun-daun yang berjatuhan. Dia memperhatikan rumput yang mulai tumbuh tinggi dan segera merencanakan untuk memotongnya. Ketika Safy masih asyik menyapu, seorang wanita berjalan melewati rumah mereka. Wanita itu memperhatikan Safy dan dengan ramah mendekat.
"Halo, selamat pagi," sapa wanita itu.
Safy menghampiri wanita tersebut sambil membuka gerbang, "Selamat pagi juga, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu tertawa kecil, "Wah, dipanggil 'nyonya.' Panggil saja saya Bu Indah, tidak perlu berlebihan. Kamu pandai menyanjung, ya."
Safy meminta maaf, "Maaf, Bu Indah, atas kekeliruan saya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Enggak ada apa-apa. Saya hanya ingin menyapa tetangga baru. Sudah berapa hari kamu tinggal di sini?" tanya Bu Indah.
"Sudah beberapa hari yang lalu," jawab Safy dengan senyuman.
"Begitu ya, sudah beberapa hari. Berarti kamu tinggal di sini sendirian atau bersama siapa?" tanya Bu Indah lagi.
Safy berpikir cepat untuk menutupi statusnya, "Saya tinggal di sini bersama majikan saya, sekaligus teman juga." Dia menambahkan dengan basa-basi, "Sebagai pelayan, tugas saya seperti ini, membersihkan, mencuci, merapikan, dan sebagainya, hehe."
Bu Indah tersenyum ramah, "Memang begitu, ya, nak. Dulu saya juga pernah bekerja sebagai ART di dalam dan luar negeri, tugasnya memang seperti itu, membersihkan dan kadang juga mengasuh anak. Tapi kamu hebat, dari penampilan saja usiamu masih muda. Tapi dari cara kamu menyapu, terlihat bahwa pengalaman kerjamu sungguh menakjubkan."
"Ah, terima kasih banyak, Bu Indah, atas pujian anda. Saya sangat menghargai ketulusan anda," ucap Safy dengan rendah hati.