Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 48


Tidak sampai 10 menit, pemeriksaan selesai. Kemudian dokter itu berkata, “Bapak Aldi, status kesehatan anda normal. Kemungkinan apa yang anda keluhkan itu karena kelelahan, jadi istirahat saja. Jika besok masih terus berlanjut, langsung hubungi saya.”


Lalu dokter itu memberikan obat, kemudian berpamitan pergi. Sehabis mengantarkan dokter ke depan, pelayannya kembali ke kamar membawa gelas berisi air putih, dan Aldi minum obat yang diberikan oleh dokter. Setelah meminumnya, pelayan itu hendak meninggalkan ruangan. Namun Aldi memanggilnya, memberikan pesan jika keadaannya semakin memburuk, agar pada saat itu juga pelayan tersebut segera menghubungi Seraphina, nomornya sudah berada di buku telepon. Dengan begitu, pelayan itu mengikuti perintah dan meninggalkan ruangan.


Di dalam kamar, Aldi sendirian terbaring di ranjang. Perasaannya di dalam hati masih belum stabil, kepalanya juga masih terasa pusing. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan penyakit ini, bahkan pemeriksaan modern dokter ternama tidak bisa mendeteksi. Padahal di tubuhnya terasa seperti sakit demam, tapi aneh jika hanya kelelahan biasa.


"Bagaimana bisa aku seperti ini?" gumam Aldi.


Dia memikirkan semua ini, secara perlahan rasa kantuk mulai muncul. Matanya sudah berat untuk tetap terbuka, akhirnya Aldi tertidur lelap karena pengaruh obat. Dalam mimpinya, berubah-ubah, tidak menentu. Hingga suatu ketika, sebuah mimpi datang dengan warna ungu, yang perlahan berubah menjadi jelas. Apa yang dilihatnya mirip dengan saat berada di istana, di tempat dia duduk sekarang, sebuah taman yang ada di luar. Kebingungan akan dejavu membuatnya semakin khawatir, namun Aldi ingat bahwa sebelumnya ia meminum obat kemudian tertidur.


Sadar ini hanyalah mimpi, Aldi mencoba mencubit pipinya dengan pelan. Tapi bukannya bangun dari tidur, malahan rasa sentuhan begitu nyata.


"Lah, kok begini? Aku dimana sekarang?" ucap Aldi sambil terus memandangi sekitar.


Tiba-tiba, wanita dengan suara lembut membalas ucapan Aldi, "Sekarang kamu berada di istanaku, anak muda."


Sontak saja, Aldi langsung menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita tinggi mengenakan gaun indah berwarna ungu, mahkota kristal di kepalanya. Bersama para pengawal, wanita itu menuju ke arah Aldi, lalu duduk di depannya.


"Sepertinya ini bukan kali pertamamu datang kemari, bukankah begitu, anak muda?" kata wanita tersebut.


Aldi tidak habis pikir bahwa yang wanita itu katakan memang benar, tapi secara spontan ia bertanya, "Bagaimana Anda tahu bahwa saya pernah datang kemari?"


"Mungkin kamu tidak tahu, tapi seluruh wilayah di sini adalah kekuasaanku. Pasti aku mengerti apapun yang datang kemari, bahkan dalam wujud tidak terlihat sekalipun. Bukankah begitu, anak muda, atau bisa kusebut dengan tuan Aldi?" jawab wanita itu sambil tersenyum.


Aldi terkejut untuk kedua kalinya, mendengar namanya dipanggil oleh orang yang tidak dikenal. Maka Aldi bertanya lagi, "Dari mana Anda tahu nama saya? Siapa Anda sebenarnya?"


Setelah Aldi bertanya, tatapan wanita itu berubah menjadi serius, "Belum saatnya kamu mengetahui siapa diriku, tapi perlu kamu tahu. Tidak ada obat di tempatmu berasal yang dapat menyembuhkan penyakitmu. Jika tidak percaya, silahkan buktikan saja sendiri."


Karena Aldi panik, dia tidak sengaja berteriak, "Tunggu, apa maksudmu penyakitku tidak ada obatnya?"


Seketika, para penjaga di sekitarnya merespons dengan cepat, menarik pedang dari sarung mereka, dan prajurit wanita sudah siap untuk menyerang.


Wanita itu berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah bunga di dekatnya, dan mengambil sebuah daun, “Ikatan yang kumaksud di sini bukanlah tentang perasaan duniawi yang monoton seperti berpacaran, bertunangan, menikah, memiliki anak, membesarkan anak sampai dewasa, dan memberikan hak waris kepada anak. Semuanya itu merupakan perasaan duniawi, tapi ikatan di sini lebih besar dari itu. Pengetahuan, cinta, kekuatan, menyatu dalam hidup.”


Kemudian wanita itu melirik tajam ke arah Aldi, “ Apa yang bisa kamu lakukan bagi dunia?,


Berapa banyak orang yang telah kamu selamatkan?,


Bagaimana caramu mengatasi masalah yang berada di luar kemampuanmu?,


Dan pernahkah kamu berjuang sampai hampir merenggut nyawamu sendiri hanya untuk menyelamatkan satu orang?,


Jika satupun belum pernah kamu alami, maka perasaanmu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Seperti halnya sebuah bunga mawar, mereka semua memang indah. Dan apa yang pertama kali orang lihat dari bunga itu? Semua orang pasti akan melihat keindahan bunga mawar, warnanya yang cantik serta aroma semerbak wangi memberikan kesan mempesona. Tapi banyak orang lupa, bahwa seharusnya mereka melihat durinya terlebih dahulu sebelum menikmati keindahan.”


Aldi masih tidak paham akan perkataan wanita itu, terlalu banyak hal yang tidak diketahuinya. Di sanalah Aldi diam, tidak berkata sepatah katapun, mengingat dirinya sendiri belum memahami apa yang dibicarakan.


Tiba-tiba, tubuhnya terasa kaku. Dia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Namun, Aldi masih dapat melihat dengan jelas. Wanita itu benar-benar diselimuti oleh banyak bintang, dan tangan wanita tersebut menunjuk ke arah Aldi, sehingga tubuhnya semakin sesak.


“Karena kamu hanya melihat dari sisi keindahan, duri dari mawar akan membuatmu tersakiti. Perasaanmu memang sudah dijawab, tapi kau tidak layak menerimanya. Perasaan duniawimu terlalu kuat, jika kalian terus melanjutkan hubungan ini, maka yang terjadi hanyalah kehancuran,” ucap wanita itu dengan tatapan marah.


Kemudian lantai berubah menjadi lubang hitam, menyerap Aldi ke dalamnya. Dengan suara keras, wanita itu berkata lagi, “Sebagai seorang ibu, aku akan melindungi anak semata wayangku dari kehancuran. Ingatlah, sampai kamu bisa melihat durinya, penyakitmu tidak akan bisa disembuhkan.”


“KECUALI JIKA KAU MELUPAKANNYA!“ 


Lalu Aldi masuk ke dalam lubang hitam tersebut. Dan seketika dia terbangun dari tidurnya. Kepalanya penuh dengan keringat, bajunya basah karena keringat mengucur deras. Namun, tangannya terasa disentuh oleh kelembutan. Dan ketika dia menoleh, Seraphina sudah berada di sampingnya, memegang tangannya.


“Kamu tidak apa-apa, Aldi?” tanya Seraphina khawatir.


Aldi merasakan lega karena telah keluar dari mimpi anehnya tersebut. Lalu Seraphina berkata lagi, “Tadi aku dihubungi oleh seorang perempuan. Dia meminta tolong padaku untuk datang kemari karena majikannya mengigau keras. Dan saat itulah aku bersama Ariel datang kemari, sesuai alamat yang diberikan.”


Ariel berdiri di dekat pintu, sambil melihat Aldi. Namun, matanya lebih tajam daripada sebelumnya. Aldi merasa bahwa Ariel mengetahui sesuatu dari apa yang telah terjadi.