Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 49


Seraphina melihat Aldi masih tidak enak badan, jadi dia memutuskan untuk membeli beberapa makanan di toko sekitar rumah. Segera, Seraphina pergi ditemani oleh pelayan. Sementara mereka pergi, Ariel mendekati Aldi yang masih terbaring.


Aldi menatapnya, kemudian Ariel bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Baik,” jawab Aldi sambil tetap memandang wajah Ariel.


Ariel mengambil kursi yang ada di dekat ranjang. Dia terus memandang tajam ke arah mata Aldi. “Baguslah, tetaplah istirahat agar tidak menjadi lebih parah.”


Aldi merasa Ariel memperhatikannya secara serius. Dia mencoba bertanya lagi, “Kenapa tatapanmu padaku begitu serius?”


 Tidak ada jawaban


Mencoba sekali lagi, Aldi bertanya, “Ariel, katakan padaku. Apakah aku telah melakukan kesalahan? Jika tidak diberitahu, bagaimana aku dapat mengerti?”


Tiba-tiba Ariel menarik kerah baju Aldi sampai badannya terangkat.


“Jangan berpura-pura bodoh. Kamu sudah melihatnya, tapi masih tidak mau mengaku?” ucap Ariel dengan amarah.


Aldi merasa sulit bernapas karena tarikan baju itu, lalu Ariel melepaskannya.


“A-aku tidak tahu apapun mengenai pertanyaanmu itu,” ujarnya yang masih dalam keadaan tersedak.


“Aku bertanya tentang perasaanmu terhadap Seraphina. Apakah kamu benar-benar menyukainya? Sepertinya dia sudah menjawab perasaanmu, tapi sayangnya dirimu tidak layak. Meski begitu, perpindahan tubuhmu ke istana adalah kenyataan,” ujar Ariel dengan nada pelan.


Namun entah kenapa, Aldi tidak bisa menahan diri untuk menyampaikan semuanya. Maka, ia menceritakan semuanya. Mulai dari memasuki istana hingga bertemu wanita rambut ungu dengan mahkota kristal. Setelah mendengar semua penjelasan itu, Ariel menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di kursi, “Dan apakah wanita tersebut sudah memberimu tugas?”


“Iya, dia terlihat marah padaku. Yang kuingat, wanita itu berkata bahwa dia akan melindungi anak semata wayangnya dari kehancuran. Lalu sesaat sebelum dia melemparku pergi, ia berpesan agar aku harus melihat durinya. Jika tidak, penyakitku tidak akan sembuh kecuali aku melupakannya,” jawab Aldi.


“Kacau, kacau, kacau. Seorang pemuda yang tidak memiliki kekuatan apapun sudah diberikan kesempatan untuk menjalin hubungan resmi. Bodoh sekali Ratu itu. Ah, aku jadi pusing,” ucap Ariel sambil memegang keningnya.


Dengan spontan, Aldi bertanya, “Siapa sebenarnya kalian ini? Dari awal memang terlihat aneh. Saat aku terluka akibat tembakan, Phina menyembuhkanku menggunakan sihir. Lalu, perilaku Safy seperti pelayan abad pertengahan. Dan bentuk mata kalian berbeda dari manusia bumi, contohnya Phina memiliki mata ungu, dan kamu Ariel memiliki mata merah. Padahal mata merah dan ungu seharusnya tidak pernah ditemukan, tapi kalian berdua memilikinya.”


Ariel mendengarkan semuanya sampai akhir, kemudian menjawabnya, “Dengarkan perkataanku dengan baik. Aku tidak akan menjawabnya sekarang, tapi kamu akan mengetahuinya secara perlahan. Apa yang telah terjadi, pertemuanmu dengan Seraphina, semua itu adalah takdir. Sebuah hal wajar dari inti kehidupan. Namun, meski semuanya telah ditakdirkan, aku tidak akan pernah menyetujui pria pecundang berdampingan dengan sahabatku. Karena sekuat apapun wanita, mereka hanyalah debu tanpa perlindungan seorang pria…”


Aldi menyela, “Setidaknya aku bisa melindungi Phina.”


Di tengah percakapan, suara pintu depan terbuka. Ariel menarik Aldi lebih dekat, dan dengan nada rendah, ia membisikkan, “Jangan sampai kamu membocorkan mimpimu ini pada Seraphina, mengerti?”


Setelah itu, Ariel melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Aldi, lalu kembali ke posisi semula di dekat pintu. Tak lama kemudian, Seraphina tiba bersama pelayan, membawa makanan ringan dan minuman.


“Kuletakkan di sini ya, Aldi. Nanti dimakan camilannya. Kalau merasa haus, ada minuman juga. Semoga lekas sembuh,” ucap Seraphina.


“Terima kasih, Phina. Maaf telah memanggilmu kemari hanya untuk memberikan semua ini padaku.”


Lalu, Seraphina memegang tangan kanan Aldi, “Tidak perlu meminta maaf. Sudah selayaknya membantu ketika sedang sakit. Lagipula, sejak awal bekerja, kamu telah membantuku lebih banyak dari ini.”


Melihat Aldi sudah dalam keadaan baik, Seraphina berpamitan untuk pulang. Aldi juga mengucapkan banyak terima kasih padanya, tetapi tidak membicarakan apapun tentang mimpinya atau kejadian sebelumnya. Ariel juga ikut berpamitan. Sebelum pergi, Ariel memberikan kode kepada Aldi untuk bertemu dengannya ketika sudah sembuh. Dengan begitu, mereka pulang bersama, diantar oleh pelayan.


Di sisi lain, Aldi masih teringat perkataan Ariel yang sangat menusuk. Dia bahkan tidak bisa melupakan satu kalimat, pikirannya hanya terpaku pada kehancuran yang akan terjadi jika ia menjalin hubungan dengan Seraphina. Sempat ada perasaan tidak percaya padanya, namun sikap Ariel yang berbeda dari biasanya menunjukkan betapa seriusnya masalah tersebut. Karena sudah terlanjur terjadi, Aldi memutuskan untuk mencari tahu pesan dari wanita dalam mimpinya, atau seperti yang dikatakan Ariel bahwa wanita itu adalah ibu kandung Seraphina. Namun, sebelum memulai langkahnya, Aldi harus memulihkan kesehatannya terlebih dahulu. Maka, ia segera beristirahat agar keesokan harinya dapat menjadi lebih baik.


Sementara itu, Seraphina bersama Ariel diantar oleh pelayan Aldi menggunakan mobil menuju ke rumah. Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai. Pelayan itu kemudian berpamitan dan kembali ke rumah majikannya untuk bekerja.


Sebelum sampai ke dalam rumah, Ariel bertanya, “Seraphina, kenapa kamu sangat dekat dengan Aldi? Apakah kamu sebenarnya telah menerima perasaannya?”


“Apa maksudmu berbicara seperti itu?” Seraphina terkejut mendengar pertanyaan Ariel. “Dia bukan orang jahat, apalagi seperti Jacob. Seharusnya sebagai sahabatku sejak kecil, kamu pasti tahu jika aku memiliki kekuatan menganalisa sifat seseorang. Tetapi kenapa sekarang baru dipertanyakan? Apa yang salah denganmu, Ariel?”


“Aku hanya tidak mengerti saja, kukira Aldi hanya sebagai pasangan biasa. Tetapi kenapa sampai menerima perasaannya begitu. Ingatlah, Seraphina, kamu adalah seorang putri kerajaan sekaligus pemimpin aliansi. Tanggung jawabmu menopang seluruh benua sangatlah berat. Setidaknya pilihlah yang lebih kuat daripada dia,” ujar Ariel dengan tegas.


Tetapi Seraphina tidak sejalan dengan pemikiran Ariel. Sambil meninggalkan Ariel, ia berkata, “Dasar penggila perang, tidak ada gunanya berdebat denganmu.”


Ketika hendak masuk ke dalam rumah, tangan kanan Seraphina ditahan oleh Ariel, “Jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara.”


Seraphina semakin muak, maka dengan sihirnya dia menghempaskan Ariel hingga mendekati pagar rumah, “Jangan halangi aku, penggila perang.”


“Hah? Dari tadi, hanya kata ‘penggila perang’ yang ada di kepalamu. Niatku sudah baik untuk melindungimu sesuai pesan dari ayahmu kepadaku, tapi apa yang putrinya lakukan? Dia membangkang, maka aku tidak akan segan lagi,” tegaskan Ariel.


Saat itulah, Ariel mengeluarkan sihirnya, Pedang api dari roh Phoenix dikeluarkan dari penyimpanan sihirnya. Api dengan cepat menghanguskan rumput di halaman rumah serta pagar langsung lenyap dalam hitungan detik.