
Tiba-tiba, Ariel terkejut mendengarnya. "Apa?! Seraphina bekerja sebagai pelayan? Apa yang sedang dia pikirkan? Bagaimana mungkin seorang putri terkuat harus bekerja keras seperti itu? Padahal dia memiliki kekuatan sihir yang mampu menciptakan sesuatu atau meminta makhluk magis untuk bekerja padanya."
Safy menutup pintu dengan lembut, lalu menuju ruang makan sambil merapikan piring-piring kotor. "Tidaklah demikian, Putri Ariel. Cara dunia ini bekerja berbeda dari dunia kita. Jarang ada monster, sihir, atau makhluk magis di sini."
Ariel merasa bingung dan sedikit ragu dengan kata-kata Safy. Ia memutuskan untuk membuktikan sendiri dengan menggunakan kekuatan sihirnya. Matanya terpejam, membiarkan sihir api merambat cepat, mencakup jarak hingga 100 kilometer. Namun, hasilnya tidak seperti yang diharapkannya. Ia hanya melihat makhluk magis, tanpa tanda-tanda keberadaan manusia yang memiliki kekuatan sihir. Namun, ketika ia merambah lebih jauh, ia melihat adanya kerjasama di antara makhluk magis dan manusia. Namun, satu orang dari ribuan manusia itu sepertinya mengetahui adanya sihir deteksinya. Salah satu dari orang tersebut adalah seorang pria tua yang tengah bertapa dalam gua batu di dalam hutan, pria tua itu juga dilindungi oleh makhluk magis kuat. Tatkala Ariel mencoba untuk lebih mendalami lebih jauh lagi, pria tua itu menatapnya tajam. Dalam sekejap, sihir deteksinya dihentikan oleh pedang yang diayunkan oleh pria tua itu.
“Bagus, benar begitu. Seharusnya masih ada orang kuat di sekitar sini, jadi masih ada yang bisa di hanguskan.“
Ariel semakin bersemangat untuk segera bertarung, dia mencoba kembali mendeteksi lokasi pria tua itu. Tapi saat sihirnya mulai dikeluarkan, dari kejauhan Seraphina membatalkan semua sihir sehingga menyebabkan sihir itu kembali kepada pemiliknya. Ariel langsung pusing setelah kekuatannya dibatalkan, dan akhirnya dia tidak mencoba untuk melakukannya lagi. Sekarang ia merasa jenuh, kepalanya disandarkan pada meja sambil melihat Safy mencuci piring.
“Hei, kenapa aku tak bisa mengerti bahasa di dunia ini? Padahal, kalian berdua sepertinya sudah terbiasa. Beritahu aku.“
Safy menjawabnya, “Jika ingin dapat memahami bahasa, anda harus mempelajarinya terlebih dahulu. Sama seperti saat pertama kali kesini, saya dan Tuan Putri berusaha keras untuk belajar.“
Ariel berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Mempelajari bahasa asing membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya, apakah tidak ada solusi lain agar bisa memahami secara instan, begitu?“
"Oh, Putri Ariel. Mengapa tidak menggunakan sihir saja? Dengan sihir, anda bisa langsung memahami bahasa asing." Setelah berkata demikian, Safy melanjutkan menuju ke ruang keluarga untuk menonton tv. Kebetulan tayangan favoritnya sudah dimulai, yaitu kartun kucing dan tikus.
Dengan usul Safy, Ariel baru sadar bahwa sihirnya mampu membantu dia memahami bahasa. Maka, ia memanggil roh pengetahuan. Entitas itu muncul dalam wujud seorang kakek tua dengan tongkat dan pakaian bangsawan. Ariel memberikan perintah agar roh itu memberinya pengetahuan bahasa. Dalam sekejap, berkah pengetahuan itu diberikan melalui tongkat sang kakek. Setelah menerima berkah itu, roh pengetahuan itu menghilang. Ariel mencoba efeknya dengan membaca tulisan pada bungkus makanan ringan. Yang sebelumnya tak bisa dimengerti, kini bisa dipahaminya dengan mudah. Ariel merasa lega karena akhirnya dia mampu memahami bahasa di dunia ini.
Namun, di ruang keluarga, Safy sedang tertawa melihat tayangan kucing dan tikus di televisi. Ariel mendekat dan bertanya, "Apa yang sedang kamu tonton, Safy?"
Safy menoleh, "Oh, Aku menonton acara favorit. Biasanya kami berdua menonton ini bersama. Mau ikut menonton, Putri Ariel?"
Ariel mengiyakan tawaran itu, lalu dia duduk di sofa. Dengan penuh antusias dia menonton tayangan pada tv. Dalam waktu sebentar saja, mereka berdua tertawa bersama melihat tingkah kocak si kucing dan tikus.
Hingga waktu sudah mulai menjelang sore, Safy segera menyiapkan air hangat untuk Seraphina. Sementara itu, Ariel tertidur lelap di kamarnya. Sensasi tidur pertamanya di atas kasur yang empuk, bahkan lebih nyaman dari yang ada di istana, dengan cepat membawanya terlelap. Kehangatan ruangan dan kenyamanan kasur modern menciptakan kenikmatan yang tak tergantikan saat dia berbaring.
Pukul 4 sore, Seraphina tiba di rumah. Suara pintu gerbang terdengar keras bergerak, dan Safy segera turun ke lantai bawah untuk membuka pintu depan.
“Selamat datang kembali, Tuan Putri. Air hangat sudah disiapkan, dan jika ada kebutuhan lain, tolong beri tahu saya," ucap Safy dengan sopan.
“Dimengerti, Tuan Putri“
Safy menuju dapur, sementara Seraphina pergi ke kamar mandi. Di sana, air hangat dalam bathub telah disiapkan dengan sempurna. Semua perlengkapan mandi yang diperlukan, seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, sampo, busa, dan bahkan bebek karet, telah tersedia.
“Huh? Bebek karet? Padahal aku lebih suka beruang. Tapi sudahlah," gumam Seraphina sambil melanjutkan mandinya.
Ariel terbangun dari tidurnya karena mendengar suara keras di lantai bawah. Dia mengusap matanya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
“Kruuuk!“
Perutnya berbunyi keras karena lapar. “Ah, sudah sore. Aku lapar. Sepertinya aku harus memeriksa apa yang Safy masak hari ini."
Ariel bangkit dari tempat tidur dan langsung beranjak ke dapur. Di sana, Safy sedang menyeduh teh di teko.
“Safy, apa yang kamu masak malam ini? Aku merasa sangat lapar," ucap Ariel sambil memegang perutnya.
“Maaf, Putri Ariel. Sore ini saya belum memasak apapun, tetapi anda bisa makan camilan yang ada di meja. Setidaknya itu bisa mengganjal perut," jawab Safy sambil melanjutkan tugasnya.
Safy sudah menyelesaikan tehnya, lalu menuangkan secangkir untuk Ariel. Setelah itu, dia mulai mempersiapkan bahan-bahan makanan. “Putri Ariel ingin makan apa malam ini?"
Sambil menikmati roti di meja, Ariel berpikir tentang hidangan favoritnya. “Hmm, bisa ayam, sapi, atau mungkin daging monster katak juga. Terakhir kali aku makan daging monster katak, dagingnya begitu lembut, terutama paha bagian atasnya. Rasanya ingin memakannya lagi walau hanya sesuap saja, ditambah kecap rasanya lebih enak."
“Saya mengerti. Daging monster katak memang memiliki tekstur seperti daging ayam. Oleh karena itu, saya akan menggunakan daging ayam sebagai bahan utama."
Safy langsung menyiapkan bahan utamanya, dia mengambil daging ayam dari penyimpanan ajaib. Terdapat 15 potong paha ayam yang diambilnya, ditambah dengan bahan-bahan lain yang diperlukan.
Semua bahan berasal dari persediaan istana, sehingga tak perlu lagi pergi ke pasar. Ariel memperhatikan keterampilan Safy dari ruang makan, berkata dalam hati, “Tidak mengherankan Seraphina memilihnya sebagai pelayan setia. Keterampilannya di atas rata-rata. Aku benar-benar beruntung pindah kesini."