
Setelah kedua pelatihan mental itu selesai, para pelayan diwajibkan mengikuti tiga pelatihan fisik yang sangat intens. Dalam pelatihan ini, tidak ada ruang bagi kegagalan, karena risiko yang dihadapi adalah kematian.
Dalam pelatihan ketiga, para pelayan harus menerima ribuan cambukan setiap hari, dilanjutkan dengan tugas menghindari berbagai serangan, termasuk panah, pedang, tombak, dan sihir. Mereka diajarkan untuk tidak mencoba menghentikan serangan tersebut, melainkan hanya untuk menghindarinya. Setelah melewati pelatihan ini, mereka melanjutkan dengan pelatihan keempat.
Pelatihan keempat melibatkan para pelayan dalam tugas memburu monster tanpa peralatan apapun. Dan yang terakhir adalah pelatihan kelima, yang merupakan pelatihan terakhir sebelum ujian kelulusan dimulai. Di sini, mereka diwajibkan bertarung satu lawan satu sampai salah satu dari mereka terluka parah. Kemudian, pada sesi kedua, mereka dihadapkan pada tugas eksekusi terhadap tawanan musuh. Semua pelatihan ini berlangsung setiap hari selama enam bulan, dan ujian kelulusan akan menguji kemampuan mereka untuk menyerang seluruh negara aliansi sesuai dengan target tugas yang telah mereka terima.)
Ariel menjelaskan lebih rinci, namun Seraphina kemudian menghentikannya. Matanya beralih ke Safy, dan dengan penuh perhatian, dia berkata, "Beritahu aku tentang pelatihanmu. Ingat, kita pertama kali bertemu saat kamu mengantar pakaian ke istana, bukan begitu?"
Jawab Safy, “Benar, Tuan Putri.“
“Lantas bagaimana pelatihan itu dilakukan, padahal saat itu aku masih berada di istana.“
Safy tampak tegang, dan dia hanya terdiam, menggenggam erat bajunya.
Seraphina memotongnya, "Jangan khawatir tentang kerajaan atau kepala pelayan, mereka tidak akan bisa melukaimu. Ceritakan padaku tentang pelatihanmu."
“A..aku te..telah di..disumpah darah oleh Yang Mulia Raja.“
Mendengar ini, Seraphina mulai mengeluarkan sihirnya dan mulai merapalkan dengan keras, "Wahai engkau yang menguasai alam perjanjian..."
“Hentikan Seraphina!“ seru Ariel.
Tapi rapalan itu terus berlanjut, "Dari darah dibayar darah, ikatan sumpah kupatahkan atas perintah putri tertinggi kerajaan Seraphinova."
Kemudian Seraphina menggigit bibirnya sendiri hingga meneteskan darah. Dia mengambil sehelai kertas berlambang sihir dari penyimpanan ajaib dan menciumnya tepat pada tengah lambang tersebut. Saat itulah Safy merasakan getaran di dalam tubuhnya, getaran ini semakin kuat seiring berjalannya waktu. Energi yang kuat mulai mengguncang ruangan, membuat lampu-lampu berkedip tidak teratur, dan kertas yang sudah dicap oleh darah tadi terbakar menjadi abu.
Tiba-tiba, terjadi ledakan energi yang membuat Seraphina terhempas ke dinding, dan Safy juga terlempar dari sofa. Ariel segera bergerak untuk membantu mereka berdua. Meskipun Ariel telah memasang perlindungan, dia tidak sempat memberikannya kepada mereka berdua sebelum ledakan terjadi.
Akibat ledakan energi tersebut, Seraphina mengalami luka di kepala yang hampir membuatnya tak sadarkan diri. Ariel memberikan pertolongan pertama untuk mengatasi luka ini.
"Aduh, aku sudah memberikan peringatan padamu tadi. Kenapa tidak mendengarkan?" kata Ariel kepada Seraphina.
Kata Ariel selanjutnya, “Sungguh tidak bisa dipercaya, hari ini kamu sangat gegabah. apakah kamu sadar, jika para dewa tidak menghendaki keinginanmu. Jika kamu tidak beruntung, pada saat ini juga kamu sudah menjadi bagian dari mereka.“
Safy duduk kembali di sofa, dan Seraphina bertanya dengan penuh perhatian, "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Baik, Tuan Putri. Sekarang saya sudah merasa lebih baik, terima kasih sudah repot-repot menolong saya, yang hanya seorang pelayan," jawab Safy.
Seraphina tersenyum lembut, "Tidak ada bedanya antara pelayan, putri, atau sahabat putri. Kami semua adalah keluarga. Tapi sekarang, kamu sudah terlepas dari ikatan itu. Apakah sekarang kamu bisa menjelaskan?" jelas Seraphina.
Kemudian Safy mulai menceritakan pengalamannya.
Safy memulai ceritanya dari pertemuan pertamanya dengan Seraphina. Setelah dia mengantarkan pakaian dari tempat ibunya bekerja, para pelayan istana menahannya sebentar, menunggu kedatangan Seraphina. Lama menunggu, Seraphina akhirnya muncul.
Safy diajak berbincang sembari membayar jasa jahit, setelah beberapa saat kemudian. Seraphina memberikan tawaran untuk bekerja di istana, maka tanpa berpikir panjang Safy langsung menerima tawaran tersebut. Beberapa hari kemudian, dimulailah hari pertamanya mengikuti pelatihan pelayan istana. Memasuki halaman depan, ia melihat sudah banyak sekali orang mengikuti pelatihan yang sama.
Kemudian, kepala pelayan muncul dari dalam istana. Kepala pelayan itu memperkenalkan dirinya sebagai Grob, lalu menjelaskan peraturan umum mengenai pekerjaan pelayan. Banyak sekali yang dijelaskan, namun yang paling mencolok adalah penjelasan akhirnya. Grob memberikan pesan penting bahwa pelatihan mereka tidak akan dilakukan di istana, melainkan di tempat lain yang sudah dipersiapkan sebagai lokasi pelatihan. Semua calon pelayan bersorak gembira, dan perpindahan ke lokasi pelatihan memakan waktu tiga hari perjalanan menggunakan kereta kuda. Mereka akhirnya sampai di tujuan.
Namun, segalanya berubah ketika kepala pelayan memberikan pilihan kepada mereka: pulang atau tinggal. Dia memberikan waktu tiga hari bagi mereka untuk memutuskan sebelum pelatihan dimulai, dan semua memberikan jawaban yang serentak: mereka tidak ingin pulang. Grob memberikan waktu tiga hari lagi untuk bersiap-siap memulai pelatihan. Pada saat itu, banyak dari mereka yang bersenang-senang dan berbicara tentang betapa mudahnya pekerjaan pelayan dan kekayaan yang menanti mereka. Hampir semuanya terpesona oleh kemewahan dan gaji di atas rata-rata, bahkan jika itu hanya pelatihan. Hal ini membuat 99% dari 1000 orang bermalas-malasan hingga pelatihan dimulai.
Tapi…
MEREKA SALAH BESAR!
Ketika pelatihan dimulai, situasinya berubah secara drastis. Kepala pelayan dan bawahannya memberikan pelatihan mental dengan sangat kasar dan tidak manusiawi. Tidak sampai tiga hari, setengah dari seribu orang itu mengalami stres dan trauma berat. Meskipun demikian, mereka tetap diharuskan mengikuti semua latihan sesuai dengan kesepakatan awal. Setelah satu bulan, pelatihan mental akhirnya selesai. Sekarang saatnya untuk pelatihan fisik.
Para bawahan kepala pelayan memanggil satu persatu calon pelayan ke dalam ruangan tertutup. Mereka semua yang ada di dalam langsung diikat dengan rantai dan dicambuk hingga punggung mereka mati rasa. Safy merasakan semua itu, hampir tidak tahan, tetapi dia terus mengingat bahwa pekerjaan ini dapat membantu kedua orang tuanya, jadi ia bersedia menghadapi risiko ini.
Tiga bulan kemudian, saat mereka diharuskan menghindari serangan panah dan serangan lainnya, tiga ratus orang tewas dalam peristiwa itu. Kemudian, pada bulan kelima, mereka diharuskan memburu monster ganas dengan tangan kosong. Safy melakukan apa yang diinstruksikan, tetapi dia hampir tewas disengat oleh monster lebah. Hingga akhirnya Safy berhasil mengalahkannya dengan mengorbankan beberapa anggota tubuhnya.
Hari itu adalah hari yang paling mengerikan, karena dari seribu orang, hanya seratus yang selamat. Ketika bulan keenam tiba, pelatihan mereka sebagai eksekutor dimulai. Awalnya, mereka hanya menghukum para penjahat, tetapi lama kelamaan, mereka diharuskan mengeksekusi setiap orang menggunakan sebatang ranting. Setelah berlatih selama enam bulan, tiba saatnya untuk menyerang negara lain. Pada saat itu, Safy sudah mulai kehilangan akal sehat dan kepribadiannya perlahan berkembang menjadi sosok prajurit.
Akhirnya, Safy menyelesaikan misi berbahaya tersebut, tetapi ia sudah terluka parah hampir tak bisa disembuhkan. Para medis berhasil menyelamatkannya dengan risiko bahwa ia akan memiliki dua sifat yang berbeda. Dan dengan demikian, pelatihan yang sangat berat itu berakhir dengan hanya menyisakan 10 orang dari seribu yang bertahan hidup.