Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 19


Mereka terus menikmati tayangan kartun tanpa menyadari berlalunya waktu. Tanpa dugaan, tayangan tersebut berakhir saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Ketika Seraphina menyadari betapa larutnya waktu, ia memutuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Safy juga merasa sudah waktunya tidur. Pada malam itu, hujan turun dengan derasnya, membasahi segala penjuru. Suara tetesan hujan mengisi udara, menciptakan suasana yang menenangkan untuk tidur. Namun, tiba-tiba, Seraphina terbangun dari tidurnya. Dia merasakan kehadiran sebuah kekuatan besar yang mendekat.


Para bintang yang telah bersiaga di luar rumah segera melakukan sihir perlindungan di sekitar rumah. Perlindungan itu adalah yang terkuat dari semua perlindungan tingkat tinggi. Seraphina dengan cepat teleportasi keluar dari rumah. Meskipun cuaca masih hujan, perlindungan sihir yang diciptakan para bintang berhasil menahan air masuk area rumah. Seraphina melihat ke langit dengan teliti, namun tidak dapat melihat apa pun. Untuk mengungkap kekuatan yang tengah bergejolak di langit, dia menggunakan sihir tingkat tinggi. Seraphina mengucapkan mantra pendek,


"Dengan nama Seraphina Aurora, aku melepaskan segala ikatan dunia dan mengungkap wujud sejati dari segala kekuatan magis. Magispectra!"


Mantra sihir tersebut memicu getaran kuat hingga jarak 100 kilometer. Makhluk magis di sekitar tempat itu merasa takut dan bersembunyi, merasakan energi yang mengerikan. Kekuatan sihir yang Seraphina lepaskan membuka dimensi kedua dunia secara paksa. Di mata manusia, langit dipenuhi dengan pancaran cahaya yang menari-nari di gelapnya malam. Namun, di mata makhluk magis, kekuatan dahsyat membelah langit dan energi kuat mendominasi seluruh area. Setelah dimensi terbuka, Seraphina melihat lingkaran sihir diselimuti oleh api dan berputar di dimensi lain. Lingkaran tersebut sangat besar, dengan gemuruh yang menyamai suara letusan gunung. Para bintang berkumpul di sekitar Seraphina.


"Tuan Putri! Apa yang sedang terjadi?".


Seraphina tetap menatap tajam ke arah lingkaran sihir.


"Jangan khawatir, ini masih tahap awal. Sepertinya sihir ini belum sepenuhnya sempurna, dan pengguna sihir tersebut masih membutuhkan waktu untuk membuka portal."


Safy terbangun oleh kekuatan yang begitu besar. Ia segera berjalan keluar dan mendapati Seraphina berdiri di luar. Safy segera mendekatinya,


"Tuan Putri, apakah Anda baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Kita akan membahas ini besok. Untuk sekarang, mari kita kembali ke dalam rumah," jawab Seraphina.


Akhirnya, Seraphina menarik kembali semua sihirnya sehingga langit tertutup kembali. Setelah itu mereka langsung beristirahat kembali, semua makhluk magis pun keluar kembali dari persembunyian. Tapi di tempat yang jauh, terdapat orang yang dapat menggunakan sihir. Dia merasakan energi kuat telah mengguncangkan alam lain, karena kekuatan itu begitu besar orang itu mulai penasaran.


Kemudian hari telah berganti, seraphina pun mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja. Safy telah mempersiapkan semua keperluan yang dibutuhkan, di dalam tas juga dimasukkan bekal makan siang berupa roti buatannya. Setelah persiapan sudah selesai, Seraphina berangkat bekerja. Seperti hari sebelumnya, dia berjalan kaki untuk menuju ke minimarket. Di perjalanan Bu Indah menyapanya dari halaman rumahnya, karena jalan utama menuju tempat kerja akan melewati jalan depan rumah Bu Indah. Seraphina juga membalas sapaan itu dan melanjutkan berjalan. Belum sampai di minimarket, cuaca berubah menjadi mendung pekat. Namun, cuaca tiba-tiba berubah menjadi mendung. Tidak lama kemudian, hujan mulai turun perlahan. Seraphina mempercepat langkahnya, tetapi ditengah perjalanan, dia bertemu dengan Dina.


“Phina, ayo naik!” teriak Dina.


Seraphina segera naik ke atas motor, kemudian Dina mengemudi dengan cepat menuju ke minimarket. Sebelum sampai tujuan, gerimis sudah mendahului turun. Dina mencari jalan pintas yang lebih sepi, dia menoleh ke arah Seraphina sembari berteriak keras, “Phina! Pegangan yang kuat, oke?“


Seraphina memeluk Dina dengan erat dari belakang, dan Dina menggeber motor dengan cepat. Speedometer menunjukkan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, dan Dina tetap memacu motornya hingga mencapai 100 kilometer per jam. Dalam waktu singkat, mereka sudah tiba di minimarket. Mereka segera masuk ke dalam toko, dan hujan turun dengan semakin derasnya. Riko juga tiba tak lama kemudian, melompat dari motor dan berlari ke dalam toko.


“Selamat pagi Phina dan Dina“ ucap Riko.


Kemudian Riko menuju ke Seraphina, dia juga mengajaknya tos, “ Pagi, Phina “


Seraphina tidak mengerti mereka sedang melakukan apa, tapi tangannya diangkat seperti Dina tadi. Lalu, Riko menepuk telapak tangan Seraphina.


“ Takk! “


Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan tos. Di dunianya, hal semacam itu tidak ada. Ketika orang-orang akrab bertemu, mereka biasanya hanya memberikan sapaan atau berjabat tangan. Melihat ekspresi bingung Seraphina, Riko bertanya, "Phina, apakah ini kali pertamamu melakukan tos?"


“Tos itu seperti tadi?” tanya Seraphina.


“ Iya.. Tos itu.. “ Kemudian Dina menyela pembicaraan Riko, “ Phina anak rumahan nih, gak tau yang namanya tos. Ketika mengucapkan salam ditambah tos, itu menunjukkan keakraban, bisa juga untuk ucapan selamat pada seseorang,..“


Sebelum Dina selesai berbicara, pipinya tiba-tiba ditarik oleh Riko. “ Nih anak songong motong pembicaraan, apa mau ditarik sampai lepas?”


“ Iya, Iya! Sakit tau! lepasin dong“ teriak Dina.


Riko melepas tarikannya, kemudian mereka saling bercanda di dalam toko. Sambil menunggu kedatangan Aldi, Seraphina mulai membersihkan lantai menggunakan sapu lobby. Dengan sekali dorongan sapu, debu-debu di lantai langsung hilang. Melihat Seraphina membersihkan dengan mudah, Dina dan Riko berhenti bercanda dan ikut membantu membersihkan toko. Dina mengambil semprotan pembersih kaca dan wiper, karena pintu dan sekat depan toko terbuat dari kaca bening. Dengan hati-hati, Dina membersihkan kaca dengan wiper yang dia bawa. Sementara itu, Riko pergi ke gudang untuk mengambil stok barang. Karena fisiknya kuat, ia membawa tiga kardus minuman sekaligus. Dengan keahlian, dia mengisi ulang semua minuman di kulkas dan mesin penjual otomatis. Setelah itu, Riko kembali ke gudang untuk mengambil stok barang lainnya. Kali ini, dia membawa empat kardus makanan ringan. Akhirnya, semua produk telah diisi ulang dan toko tampak rapi.


Ketika semuanya selesai, handphone Dina berbunyi. Beberapa saat kemudian, Dina memberitahu mereka bahwa Aldi tidak bisa datang ke toko karena ada pertemuan penting di luar kota. Pertemuan tersebut sangat penting bagi perusahaan, terutama dalam hal penjualan. Semua manajer toko dipanggil untuk pertemuan tersebut, jadi Aldi memutuskan izin tidak masuk hanya satu hari.


Riko kemudian ditunjuk oleh Aldi untuk menjadi pemimpin shift sementara. Dengan semangat, Riko memberikan perintah, “Baiklah, para gadis. Sekarang waktunya kita menunggu pelanggan yang datang, dan jangan lupa untuk memberikan salam ramah kepada mereka.”


Mereka pun mulai menunggu pelanggan sambil memeriksa stok barang. Namun, setelah berjam-jam berlalu, tidak ada pelanggan yang datang. Di luar, hujan terus deras, dan suara petir menggema. Dina merasa sangat lelah karena berdiri berjam-jam, sehingga ia memilih duduk di lantai. Namun Riko memberi perintah sambil duduk di kursi dekat kasir,  "Dina, mengapa kamu duduk? Lanjutkan kerja!"


Dina mendekat ke arah Riko, menggulung lengan bajunya. Tanpa aba-aba, ia tiba-tiba menarik kedua pipi Riko.


“Adu-duh, Din! Din! Sakit”


“Enak banget lu! Mentang-mentang jadi pemimpin kerjaannya duduk doang. Rasakan nih! Emang enak!” ucap Dina sambil melampiaskan kekesalannya.