Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 7


"Dimengerti, Tuan Putri!" Safy dengan penuh semangat mengenakan celemek istana kebanggaannya. Sambil mengingat panduan tentang penggunaan kompor, dia mencoba menyalakannya.


 "Ceklek!"


Api pun keluar berwarna biru. Mata Safy berbinar melihat api biru yang merupakan tingkat sempurna di istana, dia begitu menikmati momen terbaiknya itu.


Safy membaca resep makanan yang ada di atas meja makan, dan dari semua resep, ada salah satu yang menjadi favoritnya Refa. Safy langsung memutuskan untuk membuatnya, yaitu nasi goreng kecap.


"Baiklah, lihat saja, Nona Refa, akan kubuat makanan kesukaanmu sekarang juga," ujar Safy.


Persiapan pun dimulai, dia mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan seperti bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan telur. Lalu, dia menuju ke rice box,  melihat menu pada layar dan memilih mode keluar dengan nominal 1 kg. Setelah beras keluar, Safy mencucinya dan menaruhnya di penanak nasi. Namun, ketika akan menekan tombol ‘cook’ Seraphina mengeluarkan sihirnya sehingga dalam sekejap, beras itu langsung berubah menjadi nasi hangat sempurna. Safy tersenyum senang, dia melihat Seraphina masih asyik membaca, tetapi masih fokus memperhatikannya. Semangat Safy semakin membara, kemudian melanjutkan pekerjaannya itu. Dia mengambil tiga piring nasi dan memasukkannya ke sebuah wadah untuk dimasaknya nanti.


Selanjutnya, Safy menyiapkan bahan-bahan lain seperti bawang merah, bawang putih, dan cabe, lalu mencucinya dan mengirisnya. Semua bahan dikumpulkan dalam satu wadah, wajan dipersiapkan diatas kompor, minyak dituangkan dan Safy menyalakan kompor dalam suhu sedang. Minyak sudah panas, dan Safy mulai menumis bahan-bahan yang sudah disiapkan. Aroma harum rempah-rempah memenuhi seluruh dapur serta ruang makan. Setelah tumisan cukup layu, Safy meniriskannya sebentar. Lalu, dia mengorak-arik telur dalam wajan hingga cukup matang, kemudian mencampurkannya dengan tumisan rempah dan menambahkan sedikit garam. Tidak lupa juga menambahkan nasi ke dalam wajan dan menuangkan kecap.


Seraphina membayangkan rasa masakan yang akan disantapnya dan tanpa disadari air liur keluar dari mulutnya. Dia pun segera mengambil tisu untuk mengusap mulutnya.


"Untung saja Safy tidak melihat kebodohanku tadi, huftt," gumam Seraphina sambil tetap mengusap mulutnya.


Sementara itu, Safy sedikit menambahkan bahan lain ke dalam masakannya yang tidak ada di resep. Dengan cepat, makanan itu dihidangkan di meja makan.


"Silahkan dinikmati, Tuan Putri," ucap Safy.


Seraphina melihat ada tiga piring yang dihidangkan, lalu dia bertanya, "Siapa orang satu lagi?"


"Tuan Putri, makanan kali ini menggunakan resep yang ada di buku panduan memasak. Karena masakan ini merupakan favorit dari Nona Refa, maka hidangan tambahan juga disiapkan sebagai bentuk penghormatan atas jasanya." ujar Safy.


Seraphina menggunakan bahasa magis untuk berterima kasih atas resep yang telah dibuat, setelah itu dia mulai makan satu suapan. Rasa asin, pedas, dan gurih menjadi satu.


"Wow! Apa ini, rasanya begitu kuat. Mengapa bisa seenak ini?" ucap Seraphina yang terkejut bukan main. Dia mencoba kembali satu suapan, dan sekali lagi terkejut.


"Memang benar, bahan-bahan yang digunakan berbeda. Hanya beberapa yang kutahu, tapi ini sangat enak. Lalu sepertinya kamu telah menambahkan daging ayam dan sosis yang sudah dimarinasi, itu semua tidak ada di resep. Dan satu lagi, bagaimana kamu dapat mendapatkan daging di sini?"


Safy berdiri dari tempat duduknya lalu menjelaskan, "Daging ayam dan sosis merupakan makanan paling banyak diminati, termasuk di istana. Tuan Putri pun juga menyukainya, bukan? Karena itu, saya menambahkan daging dan sosis. Untuk menjawab pertanyaan anda, saya telah menyimpan persediaan bahan yang ada di istana menggunakan penyimpanan ajaib dari pemberian anda dahulu."


Seraphina mulai terkesan dengan makanan barunya, kemudian Safy juga bertanya, "Tuan Putri, apakah menurut anda di dunia ini benar-benar tidak ada sihir?"


Seraphina mulai berpikir, "Hmm.. sepertinya kehidupan di sini memang tidak terpaku oleh sihir, dalam radius 100 kilometer pun tidak dapat kurasakan manusia yang memiliki kapasitas sihir. Aneh sekali, padahal banyak tempat memiliki energi sihir besar."


Tiba-tiba sebuah kekuatan menguasai buku catatan itu, sebuah halaman terbuka yang menjelaskan bahwa di dunia itu manusia telah mengalami perkembangan dalam peradaban. Sihir telah ditinggalkan, kemajuan teknologi serta pengetahuan menjadikan sihir dianggap sebagai hal tabu. Manusia berlomba-lomba untuk memajukan teknologi mereka sampai titik tertinggi, dan dijelaskan bahwa pengguna sihir di dunia itu telah langka bahkan dianggap tidak ada, meskipun pengguna sihir masih ada, perbandingannya hanya satu dari satu juta. Lalu diantara penjelasan itu terdapat pesan agar Seraphina tidak mudah menggunakan sihir di depan umum, karena hal itu dapat membuat kehebohan yang akan berakhir buruk.


Seraphina merenung beberapa saat, setelah itu dia menutup buku catatan tersebut. Safy tidak kaget melihat buku itu terbuka sendiri, karena dia berpikir semua itu ulahnya Refa. Setelah makan siang usai, Safy membersihkan peralatan makan, sementara Seraphina mencoba membuka pintu depan. Sebelum membuka pintu, ada catatan lagi di atas rak sepatu. Seraphina berhenti sejenak untuk membacanya, dalam tulisan itu seluruh rumah serta segala isinya sudah diubah kepemilikannya atas nama Seraphina. Refa yang saat itu sudah tahu dia akan mengalami hal buruk, semua asetnya dipindahkan atas nama Seraphina, serta verifikasi wajah juga ikut diganti, semuanya itu dia gambar sendiri menurut rupa di mimpi. Refa juga terpaksa membayar pengacara setiap tahunnya, semua itu dia lakukan agar pihak berwajib tidak menanyakan lebih lanjut tentang Seraphina sampai tiba waktunya.


Perjanjian yang sudah tertulis dalam surat resmi adalah pengacara itu akan dihubungi langsung oleh Seraphina menggunakan telepon rumah. Sebelum pintu depan dibuka, syarat itu harus terpenuhi, jika melanggar, perjanjian akan dibatalkan.


Seraphina melihat contoh gambar dari catatan itu, dan posisi telepon ada di dekat tangga tepatnya menempel di dinding. Dengan melihat sekitar, Seraphina menemukan telepon itu, dan bentuknya juga sama persis seperti yang ada di catatan. Dia mendekat ke arah telepon itu, terdapat perintah untuk memasukkan kode pin. Kemudian Seraphina melihat pada buku catatan itu lagi, kode pin itu tercatat dalam 6-digit yaitu 181010. Kode pin itu merupakan gabungan dari umur Refa, jumlah huruf pada nama (Refa Ardina), dan angka favoritnya.


Ketika nomor pin itu dimasukkan, semua menu terbuka dan nama pemilik rumah bernama Seraphina Aurora. Lalu dengan hati-hati dia memasukkan nomor telepon pengacara sesuai yang tertulis di buku, tak berapa lama, suara seorang pria paruh baya terdengar, "Halo, Refa? Oh, apakah ini Seraphina?"


"Benar, aku Seraphina," jawabnya.


Pengacara itu langsung terkejut, "Oke, tunggu saya di sana, ya. Jangan kemana-mana dahulu, tetaplah di rumah, oke?" Pengacara itu segera menutup teleponnya.


Safy mendengar pembicaraan itu, dan dia pun mendekat, "Tuan Putri, suara siapa itu?"


Seraphina menoleh, "Dia adalah orang yang akan membantu kita untuk menyelesaikan urusan rumah ini."