Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 57


Ratu Merviss memandang Raja Fireia dan Ratu Sera dengan serius, membiarkan momen itu berlangsung beberapa saat. Setelah cukup lama, dia memberikan tepukan tangan tanda apresiasinya kepada kedua pemimpin itu karena berani menghadapinya. Wajah Ratu Merviss tersenyum senang, tanpa ada bekas kemarahan yang terpancar.


Melihat Ratu Merviss memberikan tepukan tangan dengan senyum, Ratu Sera dan Raja Fireia saling pandang. Mereka sedikit kebingungan, namun akhirnya mengerti alasan di balik tindakan tersebut. Ratu Merviss melakukan ujian ini untuk menguji mental dan hati mereka, terutama Ratu Sera. Menurut penjelasan Ratu Merviss, Seraphina masih labil secara emosional. Maka, ia menguji mereka sebagai pemimpin.


Namun, meskipun itu adalah ujian, Ratu Merviss tetap menyembuhkan semua orang yang terluka akibat tekanan sihir pengekang. Untuk menggunakan sihir sebesar itu, kaki manusia Ratu Merviss dihilangkan menjadi ekor duyung. Itu adalah bentuk asli dari wujudnya, ekor berwarna biru dengan sisik berkilauan. Kemudian salah satu sisiknya lepas, tetapi dengan cepat digantikan oleh sisik baru. Dari sisik tersebut, cahaya biru laut memancar, menyinari ruangan dan menerangi setiap sudutnya. Ratu Sera dan Raja Fireia merasakan kekuatan besar muncul dari sisik tersebut, terasa seperti energi tak terbatas.


Kedua tangan Ratu Merviss mengambil sedikit kekuatan dari sisik itu, sebesar setetes air, lalu menggenggamnya. "Sebagai penguasa lautan, aku perintahkan setetes energi ini menyembuhkan semua makhluk di sini. Karena namaku, Merviss Sseyoddy Alveey, sang penguasa kerajaan laut selatan," ucapnya dengan penuh keyakinan.


Setelah mantra sihir diucapkan, suara gemuruh air laut terdengar jelas. Air jernih mulai memenuhi lantai, naik hingga sebatas lutut orang dewasa. Cahaya berirama bermain di dalam air jernih, dan mereka yang tenggelam tidak kehabisan napas, melainkan sadar kembali. Ombak kecil dengan kekuatan lembut menyentuh setiap bagian tubuh, termasuk Seraphina, memulihkan kekuatannya. Air mengalir menuruni tangga, mengalir keluar rumah dan menggenangi halaman.


Tingkat kesuburan tumbuhan yang terkena air tersebut langsung meningkat pesat, seakan-akan waktu telah dipercepat sehingga rumput layu atau warnanya menguning mereka semua menjadi hijau kembali dalam beberapa detik saja. Tidak lama kemudian, genang itu tersebut surut dan menghilang secara ajaib.


Melihat Seraphina sudah pulih, Ratu Merviss berkata, “Putri Seraphina, maafkan apa yang telah terjadi sebelumnya. Semua itu dilakukan untuk menilai kepemimpinanmu saat ini, dan hasilnya tidak terlalu buruk. Meski begitu, urusan dengan pria bernama Aldi belum berakhir. Agar semuanya berjalan dengan lancar, bawalah dia menemuiku, kita akan membahas ini bersama-sama.”


Seraphina merenung sejenak, lalu menjawab, “Baik, Ratu Merviss.”


“Bagus, tapi ingat. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali,” ujar Ratu Merviss seraya berjalan pergi. Namun, sebelum sampai ke pintu depan, dia berhenti, “Oh, aku lupa sesuatu. Ratu Sera, tolong ikut dalam rapat ini untuk menemani putrimu.” Lalu ia melanjutkan berjalan menuju ke luar.


Kereta kuda laut sudah tiba di halaman rumah, para duyung membuka pintu mempersilahkan Ratu Merviss dan Raja Fireia masuk ke dalam. Setelah keduanya di dalam, pintu pun ditutup. Kereta kuda laut bergegas berangkat kembali ke dunia asal, sementara Ratu Sera tetap di situ menemani Seraphina. Awan di langit membentuk gerbang yang membuka dimensi antara dua dunia, dan saat semua pasukan kerajaan laut telah pergi, langit bersinar cerah.


Seraphina masih memandang ke atas, “Apakah ibu akan kembali ke istana?”


“Ibu akan menemanimu sebentar di sini sampai kamu sembuh,” jawab Ratu Sera, terlihat sedikit khawatir.


“Terima kasih, Ibu. Tapi bagaimana ibu bisa datang kemari, lalu bagaimana dengan Ratu Merviss dan Ayahnya Ariel?” tanya Seraphina.


Ratu Sera mengajak Seraphina kembali ke ruang tamu, lalu menjawab, “Aku bisa datang ke sini berkat sihir Ariel, dia menggunakan media ikatan keluarga sebagai perantaranya. Tapi untuk Ratu Merviss, berbeda. Kekuatan sebagai tetua membuatnya jauh melampaui makhluk apapun, terutama rasnya yang bukan manusia. Melakukan perpindahan dimensi bukanlah hal baru baginya.”


Seraphina memeluk ibunya sekali lagi, mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah membela meskipun apa yang dilakukan salah. Lalu...


Suara tersebut menghentikannya, Seraphina menoleh ke arah tangga. Ternyata itu adalah Safy yang tengah berjalan menuju lantai bawah, berpegangan pada sisi tangga agar keseimbangannya tetap terjaga. Seraphina segera menuju Safy untuk menuntunnya ke ruang tamu.


Ratu Sera juga melihat Safy yang belum bisa berjalan dengan baik, sehingga dia membantu. Setelah Ratu Sera ikut membantu,sontak saja Safy langsung berlutut, “Yang Mulia Ratu…”


“Sudah, istirahatlah. Tidak perlu formalitas dalam keadaan seperti ini!” seru Ratu Sera.


Maka Safy segera dibawa menuju sofa, kemudian Seraphina pergi ke dapur. Sementara Ratu Sera menyempurnakan kesembuhan Safy. Beberapa saat kemudian, Seraphina tiba membawa teh dan beberapa kue kering kesukaannya.


“Khusus untukmu, Safy,” ujar Seraphina sambil tersenyum penuh keramahan.


Safy merasa bingung, belum pernah mengalami perlakuan seperti ini dari pemimpinnya sendiri. Namun, Ratu Sera menuangkan teh ke dalam cangkir, “Mengingat keadaanmu masih belum pulih sempurna, biarkan kami yang memberikan pelayanan.”


Safy hanya mengangguk, kemudian meminum teh yang sudah dituangkan. Tidak disangka rasa teh membuatnya terkesan, “Saya belum pernah melihat Tuan Putri menyeduh teh, tetapi teh ini begitu nikmat.”


“Bolehkah aku ikut?” tanya Ariel dari tangga.


Ratu Sera berdiri dari sofa, mempersilakan Ariel bergabung di tengah mereka. Ariel sungguh terkejut melihat Ibu Seraphina masih berada di rumah, sehingga dia segera menuju ke sana.


“Ratu Sera, salam hormat dari saya, Ariel, Putri dari kerajaan api. Terima kasih atas semua bantuan Anda, hingga saya sudah pulih kembali,” ujar Ariel dengan penuh rasa hormat.


“Aku juga berterima kasih atas kesetiaanmu dalam menemani putriku yang cukup ceroboh ini. Jadi, untuk saat ini, tidak perlu terlalu formal seperti di istana. Anggap saja kita adalah keluarga, dengan begitu pembicaraan akan lebih santai,” balas Ratu Sera.


Kini, empat orang sudah berkumpul di ruang tamu dengan kehangatan, canda dan tawa menambah suasana lebih baik dari saat mereka masih bertiga. Saat masih bercanda, suara televisi berbunyi menandakan kartun 'Si Kucing dan Si Tikus' baru saja tayang. Safy heran, seharusnya tayangan ini muncul pada siang atau sore hari, bukan sekitar pukul 3 pagi seperti sekarang. Meskipun begitu, Seraphina mengajak mereka semua menonton bersama di ruang tamu. Karena tidak mau ambil pusing, Safy lantas memberitahu letak camilan yang sering ia buat, dan Ariel segera menuju ke sana. Benar saja, banyak camilan dalam toples masih dalam keadaan segar. Ada biskuit, kue kering, dan makanan ringan dari minimarket Almart.


Ratu Sera takjub, makanan ringan itu begitu lezat, seolah-olah makanan paling mewah di antara kaum bangsawan. Tayangan kartun di TV juga menarik perhatiannya. Baginya, itu adalah hiburan yang sangat lucu. Setelah kartun selesai dalam satu jam, tayangan berubah menjadi film aksi. Kisah tentang pertempuran kerajaan di abad pertengahan membuatnya terpaku, efek animasi serta kemampuan aktor dalam berperan sungguh memukau, ditambah strategi perang yang memberikan inspirasi.