
Dengan keahliannya dalam sihir, Seraphina mencari keberadaan Ariel. Sihir deteksi yang digunakannya melacak jejak kehidupan, membimbingnya hingga ke sebuah hutan. Di sana, dua sumber energi yang kuat terlihat sedang bertempur. Salah satunya berasal dari Ariel, sementara yang lainnya milik seorang pria tua yang berada di dalam hutan. Setelah memperhatikan situasi dari jauh, Seraphina memutuskan untuk melakukan teleportasi ke dalam hutan, lebih tepatnya di dekat gua tempat pertarungan berlangsung. Didampingi oleh para bintang, dia muncul di tengah semak-semak yang diciptakannya sendiri. Sekarang, segalanya tampak jelas di mata Seraphina. Sambil tetap menjaga jarak, dia memperhatikan situasi dengan seksama.
Sementara itu, Ariel berdiri di depan mulut gua. Matanya yang menyala dengan api memperhatikan sekelilingnya, mengidentifikasi setiap jebakan yang telah dipasang di dalam gua. Dengan penuh percaya diri, Ariel berbicara dengan keras,
“Hei, pertapa! Keluarlah dari persembunyianmu. Mari kita bicarakan ini seperti kesatria sejati. Namun jika kamu enggan, jangan salahkan aku jika gua ini berakhir hangus.”
Tak lama kemudian, pria tua itu muncul. Wajahnya keriput, kumis dan jenggotnya tebal, serta rambutnya telah berubah putih. Pakaian usang yang dikenakannya tampak sudah berabad-abad. Dengan suara tegas, ia berkata,
“Jelaskan tujuanmu di sini!”
“Tujuanku sudah jelas, aku menantangmu untuk bertarung. Tekadmu begitu besar sehingga berani mengganggu kedamaian kami. Kini, saatnya kamu membuat pilihan. Apakah ingin berduel atau menyerah?”
Pria tua itu meraih tongkat di sisinya, lalu menggambar lingkaran di tanah. Saat lingkaran itu terbentuk, sihir terikat merengkuh jiwa Ariel dengan kuat. Namun, yang muncul bukanlah ketakutan, melainkan sifat asli Ariel. Dalam sekejap, sihir pengikat jiwa itu hancur terbakar oleh api panas 3000 derajat.
Dengan menggunakan bahasa magis, pria tua itu berkata, “Nampaknya kamu bukan orang biasa. Ilmu kebatinanmu begitu kuat.”
Ariel pun menjawab dengan bahasa magis, “Apa? Ilmu kebatinan? Jangan samakan aku dengan seorang cenayang. Sihir yang kutunjukkan tadi bukanlah ilmu kebatinan, melainkan sihir khusus pengendalian api. Kita berdua berbeda, kamu seorang pertapa dan cenayang, bukan?”
Mendengar jawaban dari Ariel, pria tua itu sangat kesal sampai mengeluarkan pedang dari sarungnya, “Lancang sekali! ucapanmu barusan sudah kelewatan, aku telah bertapa selama 50 tahun. Gelarku di dunia magis disebut putra api, dan sekarang kamu menyebut dirimu pengguna api? “
Argumen saling terlempar, baik dari Ariel maupun pria tua tersebut. Percakapan semakin memanas hingga akhirnya berujung pada pertarungan.
Kekuatan magis khas pertapa membawa para pengikutnya dari dunia magis untuk ikut berperang. Pasukan ini terdiri dari lebih dari seribu makhluk. Dengan cepat, pedang yang dipegang oleh tangan kanannya melayang menuju leher Ariel. Namun, sebelum sisi tajamnya menyentuh kulit, pedang itu meleleh akibat panas api 3000 derajat, yang kemudian melonjak hingga 8000 derajat. Lengan pertapa itu terbakar dan sulit digerakkan. Tidak kehabisan akal, para pengikut magis diarahkan untuk menyerang Ariel secara bersamaan.
Makhluk terbesar dari mereka melancarkan serangannya sekuat tenaga, mengayunkan gada batu dengan duri tajam. Namun, Ariel merespons dengan tenang. Meski begitu, perasaannya berubah secara tiba-tiba. Dengan cepat, dia melakukan teleportasi untuk menghindari serangan gada tersebut, muncul di belakangnya.
Memang, gada itu mengeluarkan tetesan air berwarna ungu, pertanda racun terdapat pada durinya. Setelah berhasil menghindari serangan, saatnya untuk menyerang balik. Ariel merapalkan sihirnya, sehingga memunculkan pedang berwarna merah dihiasi oleh bunga api. Mahkota dari api terbentuk di atas kepalanya, sementara kakinya siap meluncur maju menuju monster dengan gada. Kurang dari satu detik, Ariel sudah berada tepat di kaki monster itu. Ariel mengambil posisi kuda-kuda, dengan erat menggenggam pedang menggunakan kedua tangannya. Lalu, dengan tenaga penuh, ia menebas ke depan.
Roh api di dalam pedang mengeluarkan tekanan panas yang sangat tinggi pada kedua mata pedang. Sesuai dengan tebasan Ariel, monster itu langsung terbelah menjadi dua. Begitu tindakan selesai, tekanan panas berubah menjadi gas dan meledak, menghasilkan angin kuat yang menerpa dedaunan kering. Pepohonan pun bergoyang, dan burung-burung terbang menjauh dari ranting-ranting yang gemetar. Hewan-hewan di sekitar juga berlari menghindari hantaman angin, sementara pertapa tua terpental dan terjatuh di tanah. Benturan keras itu menyebabkan cedera di bahu dan pergelangan kakinya.
Ariel mendekati pertapa tua yang terluka. “Seribu tahun lebih cepat bagimu untuk menandingi kekuatanku. Aku sangat menghormati tekadmu karena telah berani melawan. Sekarang, aku akan menyembuhkanmu dan kita siap untuk ronde kedua.”
Namun, Ariel belum merasa puas dengan pertarungan singkat itu. Malam masih panjang hingga pagi tiba. Pertapa tua akhirnya sembuh dengan cepat, segala cederanya hilang dalam sekejap. Lengan dan kaki sudah bisa digerakkan kembali.
Tiba-tiba, pertapa tua itu berlutut di hadapan Ariel. “Maafkan saya atas perilaku saya yang tak pantas. Saya menyerah, dan saya menjamin bahwa ini tidak akan terulang.”
Ariel tidak puas setelah mendengar jawaban itu, tetapi dia juga tidak ingin membuat masalah lebih jauh. Maka dengan berat hati ia menyetujui permintaan dari pertapa tua itu.
Dari kejauhan, Seraphina merasa lega karena Ariel tidak mengamuk seperti biasanya. Karena tidak ada masalah besar, dia pun memutuskan untuk pulang bersama para bintang. Semua berjalan dengan lancar malam itu, tanpa ada masalah tambahan.
Hari berikutnya, pukul 4 pagi, kedua putri masih tertidur nyenyak. Di lain sisi, Safy sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan pagi. Dia juga mengatur perlengkapan yang diperlukan untuk rapat Seraphina nanti. Persiapan ini ternyata memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, hingga hampir satu jam lamanya. Tak lama setelah itu, Seraphina turun dari lantai atas. Setelah mandi dan merias wajahnya, dia mengenakan pakaian formal dengan sangat rapi. Blus putih dan rok hitamnya tampak sempurna, begitu pula dengan sepatu hitam mengkilap yang ia pakai dan jam tangannya yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.
“Safy, bagaimana penampilanku hari ini?”
“Cocok sekali, Tuan Putri. Wibawa anda terpancar melalui pakaian yang anda kenakan.“
“Apakah begitu?” Seraphina berdiri di depan cermin, melihat dirinya sendiri dengan penuh percaya diri. Ia memandang dari berbagai sudut, memeriksa tampilannya. Tubuhnya berputar ke kanan, kemudian kembali ke kiri.
Setelah merasa puas, Seraphina dan Safy duduk bersama di ruang makan. Mereka menikmati sarapan pagi kira-kira pada pukul 6 pagi. Selama makan, Seraphina memberikan tanggapan positif terhadap menu hari ini, memberi sedikit komentar baik dan basa-basi. Setelah sarapan selesai, saatnya Seraphina untuk berangkat bekerja.
“Safy, aku akan pergi sekarang. Mohon jaga rumah dan Ariel, serta tetap berhati-hati.”
Safy menjawab, “Tentu, Tuan Putri.”