Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 22


Cuaca berubah mendung, menyelimuti langit dengan gelap. Itulah yang terlihat dari pandangan mata manusia, termasuk Safy. Meski tak dapat melihatnya, Safy dapat merasakan adanya perubahan energi yang mengalir. Di tengah gelap malam, Seraphina berdiri di luar rumah, mengamati selama tiga jam. Setelah memastikan bahwa tidak ada peristiwa aneh, dia memutuskan untuk beristirahat.


Malam itu, udara terasa panas seperti siang hari, meskipun langit mendung. Orang-orang pun merasa penasaran dengan fenomena tersebut. Salah satu orang yang tertarik mencari informasi adalah Dina, teman kerja Seraphina. Dia melakukan pencarian di internet dan menemukan pemberitahuan dari suatu situs. Di sana tertera bahwa awan mendung melepaskan energi panas yang terletak tidak jauh dari permukaan, yang menyebabkan kenaikan suhu. Meski begitu, Dina masih merasa ada yang aneh, karena panas dari awan itu membuat kulit terasa seperti terkena api. Dengan handphonenya, Dina mengirim pesan kepada Seraphina mengenai kondisi cuaca. Setelah beberapa saat menunggu tanpa balasan, Dina mencoba mengirim pesan lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Dina mencoba menunggu balasan sambil rebahan, tanpa disadarinya dia sudah tertidur pulas.


Disisi lain, Seraphina dan Safy masih tertidur. Waktu masih menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi para bintang masih berjaga keamanan rumah. Mereka saling bergantian untuk menjaga luar rumah dan di dalam rumah, perlindungan mereka juga selalu aktif. Tapi ketika waktu sudah pukul 2 pagi, awan mendung di langit berubah menjadi hitam arang. Putaran angin di dalam awan semakin kencang, pada tengah pusaran awan itu muncul cahaya merah disertai petir.


Para bintang terus mengamati setiap pergerakan awan, hingga akhirnya lingkaran sihir dengan api berkobar pada setiap garisnya muncul di balik awan. Suara bagaikan geraman kawah gunung terdengar keras di telinga manusia biasa, akibatnya banyak orang terbangun dari tidur mereka termasuk Seraphina. Ketika kobaran api itu sudah mengeluarkan suara, saat itu juga langsung menghilang.


Banyak warga yang mendengar suara itu mencoba mencari tahu asalnya. Beberapa berpendapat bahwa itu adalah suara gunung berapi, sementara yang lain menganggap itu sebagai suara gemuruh petir. Seraphina merasakan energi yang kuat beredar di sekitar rumahnya, dan segera bangkit dari tidurnya.


Namun, di depan gerbang, sebuah gadis muda muncul. Dia mengenakan gaun merah dan mahkota berapi di atas kepalanya. Gadis itu berjalan perlahan masuk ke halaman rumah, para bintang yang melindungi rumah sudah siap menghadapinya. Namun, gadis itu dengan mudah melewati perisai sihir mereka tanpa kesulitan. Gadis itu melangkah maju, setiap langkahnya meninggalkan jejak api dari sepatunya.


Para bintang berkumpul, lalu membentuk barisan mengelilingi gadis tersebut. Salah dari bintang berteriak,


“Satu! Dua! Tiga!“


Serangan sihir tingkat S atau lebih tinggi dilancarkan oleh para bintang, ribuan cahaya bersatu menyerang bersamaan. Namun, gadis itu mampu menghindari serangan dengan mudah. Hanya dengan satu gerakan tangannya, cahaya dari para bintang berubah menjadi abu.


“Waaa! Kenapa tidak mempan semua?“


Para bintang mulai panik, sampai ada yang mengenali gadis tersebut.


"Tunggu! Kalian tidak sadar? Dia adalah Putri Ariel, penguasa api dan pemegang kontrak dewa api," terdengar penjelasan dari salah satu bintang.


Para bintang merapatkan barisan mereka, menyadari bahwa mereka mungkin tidak mampu menghadapinya. Ariel, sang penguasa api, melangkah maju. Setiap langkahnya diikuti oleh api, matanya membara merah, dan rambutnya yang merah terurai dengan tatapan yang tajam.


"Katakan padaku, di mana majikan kalian? Jangan khawatir, kalian akan baik-baik saja,"


Setelah Ariel berbicara, Seraphina muncul tepat di belakangnya, “Sedikit saja kamu menyentuh para bintang, maka jangan harap ada damai diantara kita, Ariel!“


Ariel menjawabnya, "Oh, begitu? Apakah itu yang disebut salam? Meskipun aku harus mengakui, itu cukup kasar, Seraphina."


Setelah berbicara, Seraphina melayangkan serangan dari tangannya. Namun, Ariel dengan cepat menghindari serangan itu, lalu membalasnya. Keduanya terlibat dalam pertarungan fisik, dengan pukulan dan tendangan yang terus diberikan. Ariel terus menyerang tanpa henti, dan saat Seraphina terpojok, dia pun membalas dengan serangan balik. Pertarungan fisik mereka semakin sengit, dengan teknik-teknik bela diri masing-masing yang digunakan.


Namun, Seraphina menyadari bahwa dia perlu mengubah pendekatan. Dia memberikan tipuan dengan mengecoh serangan ke arah kaki Ariel, lalu dengan cepat mengubah arah serangan ke bagian atas. Ariel berhasil menghindarinya, tetapi Seraphina dengan kuat menghempaskan tangannya ke arah Ariel, membuatnya terjatuh dengan jarak yang cukup jauh.


Karena tidak terima kekalahan singkat itu, Ariel bangkit dan mulai mengaktifkan api dari tubuhnya.Udara terasa panas di sekitar dirinya, dan langkah kakinya mulai terangkat dari tanah. Rumput di bawahnya perlahan-lahan menjadi abu karena suhu panas mencapai 800 derajat.


“Seraphina! Kamu telah memperlakukanku dalam teknik bela diri, sekarang aku akan serius untuk melawanmu.“


"Hentikan, Ariel! Jangan menggunakan kekuatanmu di sini,"


Namun, Ariel tampaknya tidak mendengarkan dan malah semakin memperkuat sihirnya. Tapi hal itu tidak membuat Seraphina mundur, justru sebaliknya, emosinya menjadi naik karena telah diremehkan.


Maka, Seraphina mengambil cincin dari penyimpanan ajaibnya. Cincin tersebut memiliki batu gelap dengan kekuatan hitam terkuat. Dia segera mengenakannya di jari telunjuknya. Ketika Ariel menyerang, Seraphina juga mengaktifkan kekuatan cincin tersebut. Sihir hitam keluar dari cincin itu, mengikat sihir api Ariel. Tidak butuh waktu lama, sihir api Ariel yang bersuhu tinggi tiba-tiba menghilang.


Setelah kekuatannya menghilang begitu saja, Ariel tampak kebingungan, mencoba memahami apa yang terjadi. Kemudian, Seraphina mendekatinya dan menjitak kepalanya dengan keras.


“Tuk!“


“Aduh! Kuat sekali kamu memukul ku! Seraphina!“


Sekali lagi Seraphina kembali menjitaknya dengan keras,


“Tuk!“


“Ah! Hentikan, apa yang kamu lakuka…“


Untuk yang ketiga kalinya, di jitaknya lagi,


“Tuk!“


“Cukup, cukup, Seraphina. Tolong jangan di jitak lagi.“


Namun permintaan itu tidak didengarkan oleh Seraphina, malah semakin Ariel meminta, kekuatan jitakan akan lebih ditambah. Hingga akhirnya Ariel benar-benar menyerah, dia berlutut menandakan dirinya telah tidak berdaya lagi.


“Kenapa? Ada apa dengan semangatmu tadi, Ariel. Bukankah kamu merupakan putri dari raja api, penguasa kontrak dewa api?“


Ariel menjawabnya dengan berlutut, “Seraphina, maafkan aku. Niatku hanya untuk membuat kejutan.“


Seraphina mengulurkan tangannya ke depan Ariel,kemudian Ariel menggapai uluran tangan itu.


Setelah berdiri, Ariel dipeluknya dengan erat, “Selamat datang, Ariel. Senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama.“


“Uhmm. Aku juga merindukanmu semenjak lulus dari akademi, tapi disamping itu. Bagaimana tentang kejutanku tadi?“


Seraphina melepaskan pelukannya, kemudian dia menyentil pelan dahi Ariel, “Jangan lakukan hal itu lagi, kejutanmu bukan membuatku senang tapi khawatir.“