
Setelah mengucapkan demikian, Aldi melanjutkan membaca karena sekarang giliran dia untuk membaca menggantikan Seraphina. Namun, dia menahan keinginannya untuk mengutarakan apa yang telah dialaminya. Entah apa yang telah terjadi, tetapi pada saat itu Aldi mencoba melupakannya sebentar agar tidak mengganggu waktu bersama Seraphina. Hingga gilirannya telah selesai, buku novel tersebut sudah berakhir satu musim.
Seraphina benar-benar menikmati hari ini, kelanjutan dari novel yang dinantikannya sudah selesai. Kepuasan telah terpenuhi, sehingga Seraphina menutup buku itu. Dan tidak disangka, waktu menunjukkan pukul setengah satu siang. Kemudian Aldi mengajaknya untuk makan siang di tempat dekat situ, maka dengan menyetujuinya, mereka langsung berangkat menuju tempat makan.
Aldi segera mengendarai mobilnya. Sementara dia mengendarai, ia mencoba melihat Seraphina secara diam-diam. Aldi masih ingat ketika di suatu ruangan kamar terdapat lukisan besar bergambarkan Seraphina mengenakan gaun indah serta mahkota. Tapi, dalam benaknya, selalu saja terpikirkan apakah semua yang telah terjadi itu hanya mimpi atau memang peristiwa nyata. Dengan banyak pertimbangan, sebuah ide muncul secara tidak sengaja.
Aldi ingat betul pada lukisan, bahwa pose Seraphina begitu anggun dan khas layaknya penguasa. Wajahnya begitu bercahaya, matanya menatap begitu serius yang menunjukkan bahwa dirinya memang memiliki derajat tinggi. Gaun yang Seraphina kenakan dipenuhi rajutan dari emas serta permata, ditambah dengan bunga warna ungu yang tidak diketahui jenisnya. Mahkota dari kristal menambahkan pesona tinggi. Dengan begitu, Aldi sudah memiliki gambaran untuk merealisasikannya, maka ia mempercepat laju mobilnya menuju tempat tujuan.
Dan akhirnya mereka tiba di restoran keluarga, tempat di mana pemesanan meja minimal untuk dua orang atau lebih. Saat Aldi selesai memarkirkan mobilnya, dia segera memesan makanan di dalam restoran tersebut. Proses menunggu tidak memakan waktu lebih dari 5 menit, dan pelayan di sana mengantarkan mereka ke meja yang telah dipesan. Kemudian salah satu pelayan mendatangi Seraphina untuk memperlihatkan menu yang tersedia. Sementara Seraphina masih sibuk berbicara dengan pelayan tersebut, Aldi dengan cepat mengirim pesan kepada rekannya.
Dalam isi pesan itu, Aldi meminta bantuan rekannya untuk membuat gambaran tentang semua yang telah dia bicarakan. Setelah mengirim pesan, Aldi kembali memesan menu di sana, namun Seraphina tidak memesan apapun. Karena dia sudah membawa bekal yang diberikan oleh Ariel kepadanya, jadi hanya memesan minuman saja. Agar tidak merepotkan, Aldi juga memesan minuman saja kepada pelayan.
Di restoran keluarga bernama ‘Freedom,’ yang memiliki makna kebebasan, mereka mempromosikan kebebasan pelanggan untuk membawa makanan dari luar atau sekedar makan camilan. Meski diperbolehkan membawa makanan dari luar, pemesanan meja tidaklah gratis. Harga tetap harus dibayar, sebagai bentuk menghargai jasa restoran. Semakin banyak makanan yang dibawa dari luar, harga pemesanan meja akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika semua makanan dipesan di restoran, pemesanan meja akan gratis.
Setelah pelayan pergi mengambil minuman, Seraphina mengeluarkan isi dari tas dari rajutan benang wol. Di dalamnya sudah terpancar sihir yang dapat membuat makanan di dalamnya bisa bertahan lama, dan benar saja. Ketika dibuka, aroma rempah-rempah langsung menyengat hidung mereka. Meski hanya aroma, tetapi seakan-akan bau wangi itu dapat dimakan.
Lalu Seraphina menangkupkan tangannya sembari berkata, “Terima kasih, Ariel. Karena telah membuat makanan ini sebagai makan siang kami hari ini.”
Aldi memperhatikannya dengan penuh perhatian, kemudian sebuah pesan muncul di handphonenya. Ternyata itu adalah pesan dari rekannya yang telah mengirimkan ilustrasi sesuai permintaan Aldi sebelumnya. Karena rekannya adalah seorang ilustrator gambar, ilustrasi yang dikirimkan identik dengan gambaran yang ada dalam bayangan Aldi.
“Phina?” Aldi memanggil.
“Begini,” Aldi berkata dengan sedikit gugup. “Sebenarnya, aku ingin minta tolong sama Phina. Bisakah aku mengambil fotomu hanya untuk kenangan? Itu saja.”
Aldi sedikit kebingungan mencari kata-kata yang tepat, dan Seraphina menjawab, “Boleh, mumpung kita masih di sini.”
Maka Aldi memberitahu Seraphina apa yang harus dilakukannya, menjelaskan dengan detail mulai dari pose hingga raut wajahnya. Dan pada akhirnya, Seraphina membuat pose sesuai dengan arahan tersebut.
Benar saja, ketika Aldi mencari sudut pas dari kamera, ternyata pose Seraphina memang sangat mirip bahkan identik dengannya. Dari situlah Aldi mulai percaya bahwa peristiwa di perpustakaan merupakan pesan penting mengenai asal usul Seraphina yang sesungguhnya. Tidak lama setelah berfoto, pelayan datang membawakan pesanan minuman. Satu gelas berisi kopi hitam, dan satunya lagi adalah teh wangi. Setelah minuman datang, mereka berdua melanjutkan makan siang menggunakan bekal dari Ariel. Sungguh kenikmatan kuliner terbaik dalam sejarah hidup Aldi; belum pernah sebelumnya dia merasakan perpaduan rasa dan bumbu seperti ini. Meskipun begitu, Seraphina masih memiliki pengetahuan tentang bahan-bahan yang digunakan dalam makanan tersebut.
Seraphina dapat merasakan sentuhan daun tumbuhan beracun yang tumbuh di dekat pesisir pantai Seraphinova, yang kemudian dicampur dengan biji bunga topaz. Inilah yang membuat bumbu sausnya terasa begitu enak. Hanya dengan mencium aroma kedua bahan tersebut saja, nafsu makan mereka langsung meningkat. Karena itulah, kurang dari 15 menit, bekal makanan itu habis tanpa sisa.
“Wah, sudah habis saja. Padahal rasanya enak sekali, sampai tidak terasa aku makan 2 piring.“ ujar Aldi.
Seraphina masih membersihkan bibirnya dengan tisu, lalu menjawab, “Aku juga tak menyangka bahwa masakan Ariel bisa selezat ini. Mungkin kalau ada waktu lagi, Aldi bisa mampir ke rumah. Kita bisa makan bersama seperti saat kamu dan Arvin mengantarku pulang.”
Aldi sangat senang mendengar jawaban langsung dari ucapan Seraphina, dan menceritakan pengalaman tentang rasa makanan yang luar biasa. Mereka mengobrol lagi hingga pukul tiga sore, lalu meninggalkan restoran tersebut. Aldi segera memacu mobilnya menuju rumah Seraphina agar ia dapat beristirahat dan merasakan teh herbal buatan Safy. Namun, ketika hampir sampai, tiba-tiba penglihatan Aldi mulai berkunang-kunang. Kepalanya terasa pusing, suhunya meningkat, dan perasaan takut merayapi perasaannya.
Akhirnya mereka tiba di rumah, Seraphina menawarkan teh herbal. Tapi Aldi menolaknya dengan sopan, dia merasa sudah tidak tahan dengan rasa itu. Maka Seraphina berpamitan mendahului masuk rumah, sementara Aldi segera pulang ke rumahnya sendiri. Di tengah perjalanan ia segera menelpon dokter untuk datang ke rumah memeriksa kondisinya sekarang. Dengan begitu, Aldi langsung mempercepat perjalanan dan sampailah di rumah.
Dokter yang dipanggilnya masih belum tiba, dia segera memasukan mobil ke garasi. Kemudian, segera mandi dan ganti pakaian. Lalu menuju ke tempat tidur sembari menunggu kedatangan dokter. Tak lama kemudian, dokter tiba di rumahnya, dan pelayan membawanya ke kamar. Aldi diperiksa sesuai keluhan yang dialami.