
Lalu Seraphina melihat sekitar, suasana pada saat itu begitu sepi karena sedang hujan deras. Menggunakan kekuatan sihir, mereka berdua berpindah ke suatu tempat yang asing bagi Safy. Disana adalah perbukitan dipenuhi dengan rerumputan, pohon-pohon besar jarang ada yang sampai menjulang tinggi, serta tidak ada hujan. Pada tempat sebelumnya waktu masih pagi, namun cuaca tidak mendukung sampai turun hujan begitu deras. Tetapi, di tempat yang baru ini waktu telah sore, langit berwarna oranye disertai awan putih. Di depan mereka ada salah satu pohon cukup besar namun tidak terlalu tinggi, dibawahnya ada meja dan kursi, terdapat juga ayunan yang terbuat dari akar pohon. Seraphina membawa Safy ke tempat duduk, “Duduklah disini, kita nikmati saja waktu yang ada.“
Seraphina menyiapkan makanan yang telah mereka beli di minimarket, wafer cokelat dan keripik kentang. Safy melihat makanan itu dikeluarkan dari penyimpanan sihir, kemudian dia juga meminta sesuatu, “Tuan Putri, bisakah anda mengambil koper dari kamar saya? Ada sesuatu yang ingin saya makan bersama anda.“
“Tentu, saja,“ ucap Seraphina dengan penuh senyuman. Tangannya menulis huruf magis di udara, saat tulisan telah terbentuk, keluarlah cahaya kilat. Bersamaan dengan itu, koper sihir milik Safy muncul. Seraphina memberikan koper itu padanya, kemudian Safy mengambil sesuatu dari penyimpanan sihirnya. Sebuah kantong cukup besar dikeluarkan dari koper, tali yang mengikatnya dihiasi oleh batu-batu mutiara. Ketika dibuka terlihat di dalamnya adalah roti kering dengan aroma madu.
“Safy, roti apa ini? Belum pernah sekalipun aku melihat roti aneh, mungkin dari aromanya mirip bolu madu, tapi ini bertekstur kering,“ Seraphina mengamati setiap bagian roti itu. Dicobanya sedikit, “Hmm… enak sekali. Bisa jelaskan tentang roti ini?“
“Tentu saja, Tuan Putri.“ Safy telah menyiapkan teh herbal dari penyimpannya, “Roti ini bernama Spichiel atau dikenal dengan roti kering. Roti ini termasuk deretan ke-6 dari makanan jelata terenak. Mengapa demikian? Karena sebelum kerajaan berjaya, para rakyat miskin membuat resep mereka sendiri menggunakan bahan yang ada terutama gandum. Pada waktu para bangsawan telah menjual harga terlalu tinggi, sehingga rakyat jelata tidak dapat membelinya. Mereka hanya memiliki penghasilan dari penjualan gandum, dan ketika musim dingin tiba, semua orang telah menimbun gandum sebanyak-banyaknya. Semua itu dilakukan untuk menghindari kelaparan, karena musim dingin akan membuat ladang membeku.“ Safy meminum tehnya dan makan sedikit roti kering itu.
Kemudian dia melanjutkan, “Nah, makanan pada saat itu hanyalah bubur gandum dan susu gandum, tidak ada camilan apapun. Dan seorang juru masak terkenal di kalangan jelata, bernama Jorche, membuat sebuah ide untuk camilan musim dingin. Camilan itu adalah Spichiel, yaitu roti gandum yang dipanggang sampai kering. Rasa pertama dari spichiel hanyalah manis ditambah taburan gula, lalu madu. Ketika itulah makanan ini berjaya hingga diterima di kalangan bangsawan, namun tidak diterima oleh dapur istana. Meski begitu, makanan lain dari resep Jorche telah merubah kehidupan rakyat jelata menjadi kalangan menengah. Seperti teh herbal yang sering saya buat untuk anda, semua itu adalah resep dari Jorche. Dan juga, roti ini dimasak oleh Ayah sendiri sebelum saya pergi, sehingga membuatnya begitu spesial.“
Seraphina menatap roti kering tersebut, “Memang benar apa katamu, makanan akan lebih nikmat jika dibuat oleh orang yang kita sayangi. Ayahku juga sering memberikan masakan gosong pada saat hari ulang tahun, memang rasanya tidak enak tapi entah mengapa ada kesenangan tersendiri yang tak dapat dikatakan, dan suatu hari aku pasti akan merindukan makanan gosong itu. Ketika sudah kembali ke kerajaan, pemberian roti ini akan ku balas.“
Safy merasa senang berbincang dengan Seraphina, dia seperti orang spesial di antara pelayan lainnya. Melihat pemandangan matahari terbit sambil memakan camilan dan minum teh merupakan momen terindah mereka, tiba-tiba Seraphina memanggilnya,
“Safy! Tolong bantu aku sebentar.“
“Baik, Tuan Putri!“ Safy pun menoleh, ternyata Seraphina sedang duduk di ayunan.
Segeralah dia berlari menuju belakang ayunan, menggunakan kedua tangannya, Safy mendorong perlahan sehingga ayunan bergerak ke depan. Seraphina berteriak lebih keras lagi, “Lebih kuat, Safy!“
“Baiklah, Tuan Putri. Tolong pegangan kuat-kuat, ya.“ Safy mengumpulkan tenaganya, memegang bangku ayunan secara kuat, “Satu… Dua… Tiga!“
Saat sudah puas, Seraphina menyuruh Safy untuk bergantian duduk di ayunan. Safy tidak menolaknya, dia duduk sambil kedua tangannya memegang akar pohon. Kemudian, Seraphina bersiap untuk mendorong, “Pegangan yang erat!“ Kedua tangannya mendorong ayunan sekuat tenaga. Safy terayun cukup kencang, perasaannya perlahan mulai menikmati momen itu.
“Tuan Putri, lebih kencang lagi! Sebelum matahari benar-benar terbit, biarkan saya di sini lebih lama.“
Seraphina menjawab, “Kalau begitu pegangan yang kuat, jangan sampai terjatuh karena ini akan jauh lebih kencang!“
Kali ini dorongan tidak menggunakan kekuatan fisik, melainkan dari sihir. Perlahan-lahan ayunan mulai bergerak, hingga kecepatan bertambah sampai batas aman. “Waah… angin nya kencang sekali!“ Saat Safy bergerak lebih kencang lagi, dia tertawa terpingkal-pingkal.
Tidak terasa matahari sudah terbenam, cahaya oranye di langit berubah menjadi gelap dengan ribuan bintang-bintang di angkasa. Meski matahari sudah terbenam, namun cahaya bulan bersinar begitu terang. Sihir yang menggerakan ayunan sudah berhenti, lalu Safy menghadap ke arah Seraphina sambil berlutut, “Tuan Putri, terima kasih telah bersedia mengabulkan permintaan egoisku, saya merasa momen bermain tadi merupakan kesempatan sekali seumur hidup. Semua kenangan ini akan kuingat selalu supaya kelak saya tidak melupakan bahwa kita telah bermain bersama.“
Seraphina juga ikut berlutut, sontak Safy berkata keras, “Tuan Putri! Jangan berlutut di depan pelayan…“
“Aku juga berterima kasih untuk semua bantuanmu selama ini. Sebelumnya kita telah membuat perjanjian, bukan? Jadi hari ini bukanlah kesempatan sekali seumur hidupmu. Kita masih bisa bermain lagi besok, atau besok lusa, ataupun tahun depan.“ ucap Seraphina.
Dengan begitu, berakhirlah saat bermain mereka. Menggunakan kekuatan sihirnya, Seraphina membuat lingkaran teleportasi di bawah mereka. Sebuah cahaya keluar dari sekitar lingkaran, kemudian dalam waktu satu detik mereka berdua telah berpindah ke ruang keluarga. Para bintang masih berkumpul di kamar, merasakan kekuatan yang tidak asing, mereka semua langsung menuju ke ruang keluarga.
“Tuan Putri! Tuan Putri! Maafkan kami, maafkan kami. Jangan pergi meninggalkan kami semua! Jangan tinggalkan kami!“ Mereka semua saling berbicara menggunakan bahasa magis.
Seraphina pun menjawabnya, “Aku juga minta maaf juga karena telah memarahi kalian begitu keras. Apakah kalian mau memaafkanku?“
Para bintang berkumpul di tangan Seraphina, mereka semua berteriak, “Kami memaafkan semua kesalahan Tuan Putri. Dan selamat datang kembali.“