
Dalam kekacauan itu, Aldi semakin mendekat. Seraphina memejamkan matanya. Dalam kedekatan itu, mata mereka saling terpejam dan perasaan diantara mereka kian membara. Aldi bisa merasakan detak jantung Seraphina begitu keras dan terlena oleh perasaannya sendiri.
Sebuah momen paling langka di antara mereka berdua, dan kini kedekatan itu membawa sebuah rasa hangat menyelimuti hati dan pikiran
Dan ketika Aldi hendak mengutarakan perasaannya, muncul suara dari arah belakang.
"Maaf, kak..."
Aldi segera membangunkan Seraphina yang masih berada di pelukannya. Seraphina pun ikut terkejut mendengar seseorang memanggilnya. Lalu Seraphina menjawab, "Iya?"
Ternyata orang yang menabrak tadi adalah seorang anak sekolahan, mengenakan seragam putih abu-abu dan masih membawa tas punggung. Anak itu mengatakan bahwa dia tidak melihat jalan di depan karena sedang menelepon temannya. Seraphina dan Aldi saling menatap, kemudian Aldi memberikan nasihat agar selalu berhati-hati kepada anak tersebut. Setelah masalah itu selesai, Seraphina melihat es krim yang dibawanya jatuh ke lantai. Sebagian cokelatnya mengenai jaket Aldi.
"Maaf, Aldi. Jaketmu jadi kotor, biar kubersihkan sebentar," kata Seraphina sambil mengambil tisu dari sakunya.
"Tidak perlu. Cuma kotor segini doang, nanti juga kering sendiri,"
Seraphina bersikeras, "Tidak boleh, meskipun kotor seperti ini tetap harus dibersihkan. Jangan membantah lagi."
Aldi hanya bisa menuruti, tidak berani berkata lebih banyak. Seraphina bahkan sampai menggunakan sedikit sihirnya, tapi hal itu tidak diketahui oleh Aldi. Orang-orang mulai memperhatikan mereka, banyak yang berkerumun melihat mereka. Aldi tidak menyangka banyak orang melihat Seraphina membersihkan jaketnya. Karena tidak tahan menjadi pusat perhatian, Aldi berbicara perlahan, "Phina, sebaiknya kita pergi ke tempat yang lebih sepi."
Seraphina tetap fokus membersihkan sisa es krim di jaket, "Sebentar lagi juga selesai."
"Kalau tidak percaya, lihatlah sekelilingmu sekarang," kata Aldi sambil mengalihkan perhatiannya.
Ketika Seraphina menoleh sekitarnya, baru dia mengerti situasinya. Banyak orang melihat mereka berdua dari kejauhan, seolah-olah keduanya adalah artis. Aldi mendapati bahwa Seraphina sudah mengerti situasinya, lalu ia menggandengnya menuju keluar dari gedung perbelanjaan itu.
Setelah sampai di luar, Aldi bersandar di kursi yang ada di depan. Ia merasa lega telah lolos dari kerumunan banyak orang, matanya terpejam menikmati udara luar ruangan yang segar. Tiba-tiba, rasa dingin menyengat pipinya, membuatnya terkejut.
Ternyata rasa dingin pada pipinya berasal dari minuman kaleng yang dibawa Seraphina, yang sengaja menempelkannya. "Minumlah, bukankah ini minuman kesukaanmu?"
"Black Coffees," minuman kaleng itu adalah favorit Aldi. Namun, Aldi tidak menyangka Seraphina akan melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kemudian Aldi mengambil minuman kaleng, "Terima kasih, Phina."
Dengan cepat dia meminumnya, dan rasanya menenangkan pikirannya. Semua kejadian sebelumnya perlahan terlupakan, hanya ketenangan pada saat itu. Lalu Aldi melirik ke samping, ia melihat Seraphina juga minum dari botol, tapi bukan kopi, hanya jus jeruk. Aldi tersenyum melihatnya, lalu melirik kembali.
"Tumben banget, kamu tahu minuman kesukaanku. Apalagi sampai menempelkannya pada pipi. Apakah harimu sedang baik sekarang?"
Kemudian Seraphina melanjutkan dengan suara pelan, "Apalagi setelah memberiku pakaian sebagus ini, bukankah membalas budi sedikit adalah hal yang wajar?"
Tapi perlahan tangan Aldi memeluk lengan kiri Seraphina, mendorongnya sedikit mendekat. Tanpa sadar Seraphina menyandarkan kepalanya tepat di pundak Aldi.
Dan beberapa detik setelahnya, Seraphina tersadar bahwa dia sedang menyandarkan kepalanya di pundak Aldi. Dengan kaget, ia langsung menjauh, menjaga jarak dari Aldi. Kemudian ia menepuk punggung cukup keras, "Kamu sekarang gitu ya? Sudah mulai iseng. Coba kalau tadi ada orang lewat sini, bagaimana respon mereka. Bukankah kamu tidak suka menarik perhatian banyak orang?"
"Hahaha..." Aldi tertawa keras. "Memang benar jika orang lain melihat kita pasti akan memalukan, tapi kalau hanya Phina doang, aku merasa tidak terlalu malu sekarang."
Seraphina memperhatikan begitu serius, raut mukanya memperlihatkan jika saat ini dia sedang jengkel. Namun, Aldi menjawab lagi, “Tunggu dulu, jangan marah begitu. Tadi kamu sudah ngagetin aku pake minuman kaleng, sekarang gantian Phina.“
"Sudahlah, terserah kamu," Seraphina menyandarkan tubuhnya di kursi dan memalingkan wajahnya.
Karena Aldi sudah puas menggoda Seraphina, sekarang dia mengambil handphone yang ada di saku. Kemudian membuka sebuah aplikasi, sebuah peta online canggih. Dengan sedikit mengatur arah tujuan, Aldi sudah menentukan kemana ia akan melanjutkan perjalanan. Namun, Aldi tidak mengatakan tempatnya, hanya menunjukkan bahwa tempat itu adalah tempat paling disukai oleh Seraphina. Akhirnya, usaha keras membujuk itu berhasil. Seraphina menyetujui untuk mengikutinya, sehingga mereka berdua menuju ke basement dan pergi ke tempat tujuan mengendarai mobil.
Di tengah perjalanan, Seraphina masih tidak semangat. Di dalam hatinya, ia bergumam, "Andai saja para bintang ada di sini, pasti mereka akan memberikan arahan padaku. Sayangnya mereka masih di istana, jadi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan kecanggungan ini."
Meski mereka berdua tidak saling berbicara, Aldi tidak terlalu mempermasalahkannya sebab dia sudah memiliki rencana sendiri. Sambil menoleh sebentar, Seraphina masih memandangi ke arah jendela.
“Wah, beneran marah dia. Apa candaan tadi sudah kelewatan?” Aldi juga bergumam di dalam hatinya.
Tidak berselang lama, sampailah di tempat tujuan. Terlihat hanya gedung berwarna biru laut, tingkat spesialnya juga kurang mencolok. Namun, begitu masuk ke dalam bangunan itu, wajah Seraphina yang sebelumnya kurang bersemangat berubah menjadi begitu ceria. Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya; suasana penuh dengan rak buku, sisi kanan dan kiri dipenuhi oleh banyak kertas penting, dan aroma khas dari buku menyelimuti seluruh ruangan itu.
“Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin kurang menarik, tapi bagi pecinta buku, pastinya hal paling mengesankan yang pernah ada. Disinilah kita berada, perpustakan terlengkap yang ada di kota ini. Sejak tahun 2020, tempat ini tidak pernah sekalipun tutup, selalu buka 24 jam setiap hari,” ujar Aldi.
Seraphina terpukau oleh indahnya pemandangan yang ada di depannya, namun ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Lalu Seraphina bertanya pada Aldi, “Tunggu sebentar. Sebelumnya, aku belum pernah sekali pun memberitahukan kepada seseorang bahwa buku itu favoritku. Kenapa Aldi bisa tahu, tapi dari mana?"
Aldi mengalihkan pandangannya, lalu Seraphina tetap bersikeras bertanya lagi, “Darimana kamu tahu, kalau aku menyukai buku?“
“Tolong jangan tertawa. Sebenarnya informasi yang kudapat mengenai ketertarikanmu pada buku berasal dari mimpi.“ jawab Aldi dengan perasaan takut salah.
“Mimpi?“
“Iya, mimpi. Disana terdapat cahaya kelap-kelip layaknya bintang, dan ketika itulah suara aneh berbicara tentang informasi itu.“