One Paid Two

One Paid Two
6


“Phi Bai!.... Phi Bai! !” teriak seorang perempuan dari


belakang pintu kamar Bright, Win terbangun ia menggesek matanya dengan tangan


yang masih terborgol, begitupun Bright ia terbangun dan langsung menghampiri


pintu lalu membukanya


“Suprise!” seorang wanita cantik yang seumuran


dengan Win langsung menghambur didada Bright. Lyn anak dari Lakorn, rambut


sebahu dan kulit putihnya membuatnya terlihat sempurna. Lyn memeluk Bright


dengan erat seperti sedang memecahkan kerinduan yang amat dalam, begitupun


Bright ia memeluk Lyn dengan hangat Win bisa melihat Bright begitu menyayangi


Lyn.


“Aaaaaahhhh siapa dia P’Bright?” Lyn berteriak saat menyadari ada yang memperhatikan mereka


dari sudut kamar


“Ahh dia anjingku” Bright melirik Win sambil memiringkan sudut bibirnya


“P’Bai aku serius! Ahh apa dia anak yang


kau cari selama ini?” Lyn memandangi Win heran, sedangkan yang dipandangi hanya


menunduk


“Ummm” Bright hanya menganggukan kepalanya


“P’Baii sudah kubilang lupakan hal itu, dia tidak salah apa apa!” Lyn melingkarkan tangannya pada


tangan Bright,


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan mereka


hidup damai!”


“Kau selalu seperti itu P’Bai” Lyn yang sudah tau sifat Bright tidak bisa berbuat


apa apa..


“Emmm lalu kenapa kau mengurungnya di kamarmu?” Tanya Lyn yang was was


“Aku ingin mengawasinya”


“Emmm benarkah? Bukankan kau juga harus mengawasi adikmu yang cantik ini??” Lyn


memeluk Bright dengan manja


“Tentu saja” Bright sambil mengacak rambut Lyn sayang


“Kau tunggulah di luar aku akan mandi dulu”


“Umm” kata Lyn sambil mengangguk, melirik Win sebentar lalu meninggalkan kamar


Win memandangi Bright, namun ketika Bright balik memandangnya Win dengan reflex langsung


menunduk.


(Srrrrrrrrrrrrrrr) suara sower yang terdengar dari luar, tak lama kemudian Bright keluar dengan


handuk melingkar di pinggangnya. Entah apa yang Win pikirkan ia menelan


ludahnya dengan kasar, Bright mengambil satu set pakaian dari lemari dan masuk


kedalam satu ruangan. Bright kembali keruangan tempat Win berada ia menghadap


cermin dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, tanpa Bright sadari Win


mengamati tingkahnya dari tadi. ‘Dia sangat tampan’ dalam hati Win, entah apa


yang Win pikirkan tapi ia tidak dapat mengelak karena pria yang sedang


menyanderanya memang benar benar tampan.


(Dringggg dring dringg) suara panggilan telpon Bright membuat Win tersadar dari


lamunannya Win langsung menunduk sedangkan Bright mengangkat telpon


“Ya aku akan segera kesana”


(Pip) Bright menutup telpon sepihak, seperti melupakan Win yang ada disana Bright


meraih tas berwarna hitam dan pergi entah kemana…


Waktu sudah menunjukan pukul 20:20 malam


(Krukk kruk) perut Win terus bernyanyi saling bersautan, Win masuk toilet karena


memang panjang rantai kekangnya muat sampai ke toilet. Win menyalakan kran lalu


merapatkan kedua telapak tangannya bersiap menerima air yang ke luar (glukk


gluk) Win meminum air dengan kedua telapak tangannya dengan rakus ia melakukan


hal itu karena terlalu lapar Bright tidak memberinya makan sejak pagi, Win


terus melakukan hal itu berulang kali


"Apa yang kamu lakukan?”


“Ohh P’Bight emmm aku aku sedang minum”


Bright langsung menyadari bahwa ia belum member makan atau pun minum Win sejak pagi,


namun lagi lagi Bright tidak merasa salah sedikitpun. Bright lalu keluar kamar


tanpa berkata apapun , tak lama dari Bright keluar kamar datang masuk Alex


dengan sepiring nasi dan segelas air dan meletakannya dekat Win seperti biasa


“Makanlah!” Alex


Tanpa basa basi Win langsung mengambil makanan tersebut dan memakannya tergesa gesa


sampai tersedak (uhukk uhukk) Win meraih air dan meminumnya. Alex yang melihat


hal itu hanya memiringkan kepalanya lalu keluar dari kamar meninggalkan Win


lalu berpapasan dengan Bright yang masuk kamar , seperti member kode kode Alex


mengangguk saat bertemu pandang dengan tuannya begitupun dengan Bright.


“Caramu makan seolah kau belum makan selama setahun” Bright


Win menatap bright sekali lalu melanjutkan makannya.


(tok tok tok) suara pintu diketuk seseorang dari luar, saat Bright membuka pintu


salah satu anak buahnya yang lain masuk dengan nafas tersenggal ia  berkata


“Tuan gawat! Nyonya Lyn dicegat


seseorang saat pulang dari mall, spertinya suruhan dari salah satu musuh kita”


“Lalu bagaimana dengan Lyn?”


“Dia sudah aman, kita juga sudah menangkap pelakunya”


“Dimana pelakunya sekarang?”


“Di ruangan biasa tuan”


Bright melipat lengan bajunya, rahangnya mengeras, matanya melotot apapun yang


berhubungan dengan Lyn Bright tidak akan mengampuninya ia langsung keluar


hendak menghabisi pelaku yang sempat membahayakan Lyn. Bright masuk kedalam


ruangan yang terlihat menyeramkan, latar berwarna hitam dan berbagai alat untuk


penyiksaan berjejer di dindingnya cambuk berbagai ukuran, pistol, pedang dan


lainnya memenuhi isi ruangan. Saat Bright masuk anak buahnya tidak ikut masuk


dan menutup pintu untuk Bright dari luar


(Bughh…Aghhhh) suara suara seperti it uterus saling bersautan, Bright sangat brutal terhadap


musuh musuhnya ia tidak akan mengampuni mereka sedikitpun


Bright duduk di sofa sambil memijat pergelangan tangannya bersama dengan Alex yang


berdiri disampingnya


“Tuan aku rasa musuh musuh kita mulai menargetkan Lyn” kata Alex


“Umm aku rasa begitu”


“Itu karena mereka tahu Lyn adalah kelemahanmu”


“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Lyn!”


“Aku ingin menyarankan sesuatu jika boleh”


“Tentu saja”


“Agar Lyn tidak di targetkan, Tuan harus terlihat memperioritaskan seseorang selain


Lyn!


“Apa kau menyarankan aku agar memiliki seorang kekasih?” Bright dengan cepat mengerti


akan maksud Alex


“Tepatnya hanya untuk mengalihkan perhatian mereka”


Bright tampak berpikir lalu pikirannya langsung tertuju pada Win


“Aku tahu nyawa siapa yang akan menjadi benteng untuk Lyn”


“Siapa tuan?”


“Win akan berguna, nyawanya tidak akan sia sia jika harus mati karena Lyn”


“Kau akan berpura pura berkencan dengan Win? Apa kau yakin?”


“Ini hanya pura pura, aku sengaja tidak membunuhnya secara langsung biarkan dia mati


untuk Lyn.. dengan begitu nyawanya berguna bagiku”


“Apapun keputusanmu tuan”


Bright tersenyum licik sambil melanjutkan memijat tangannya