
“Phi Bai!.... Phi Bai! !” teriak seorang perempuan dari
belakang pintu kamar Bright, Win terbangun ia menggesek matanya dengan tangan
yang masih terborgol, begitupun Bright ia terbangun dan langsung menghampiri
pintu lalu membukanya
“Suprise!” seorang wanita cantik yang seumuran
dengan Win langsung menghambur didada Bright. Lyn anak dari Lakorn, rambut
sebahu dan kulit putihnya membuatnya terlihat sempurna. Lyn memeluk Bright
dengan erat seperti sedang memecahkan kerinduan yang amat dalam, begitupun
Bright ia memeluk Lyn dengan hangat Win bisa melihat Bright begitu menyayangi
Lyn.
“Aaaaaahhhh siapa dia P’Bright?” Lyn berteriak saat menyadari ada yang memperhatikan mereka
dari sudut kamar
“Ahh dia anjingku” Bright melirik Win sambil memiringkan sudut bibirnya
“P’Bai aku serius! Ahh apa dia anak yang
kau cari selama ini?” Lyn memandangi Win heran, sedangkan yang dipandangi hanya
menunduk
“Ummm” Bright hanya menganggukan kepalanya
“P’Baii sudah kubilang lupakan hal itu, dia tidak salah apa apa!” Lyn melingkarkan tangannya pada
tangan Bright,
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan mereka
hidup damai!”
“Kau selalu seperti itu P’Bai” Lyn yang sudah tau sifat Bright tidak bisa berbuat
apa apa..
“Emmm lalu kenapa kau mengurungnya di kamarmu?” Tanya Lyn yang was was
“Aku ingin mengawasinya”
“Emmm benarkah? Bukankan kau juga harus mengawasi adikmu yang cantik ini??” Lyn
memeluk Bright dengan manja
“Tentu saja” Bright sambil mengacak rambut Lyn sayang
“Kau tunggulah di luar aku akan mandi dulu”
“Umm” kata Lyn sambil mengangguk, melirik Win sebentar lalu meninggalkan kamar
Win memandangi Bright, namun ketika Bright balik memandangnya Win dengan reflex langsung
menunduk.
(Srrrrrrrrrrrrrrr) suara sower yang terdengar dari luar, tak lama kemudian Bright keluar dengan
handuk melingkar di pinggangnya. Entah apa yang Win pikirkan ia menelan
ludahnya dengan kasar, Bright mengambil satu set pakaian dari lemari dan masuk
kedalam satu ruangan. Bright kembali keruangan tempat Win berada ia menghadap
cermin dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, tanpa Bright sadari Win
mengamati tingkahnya dari tadi. ‘Dia sangat tampan’ dalam hati Win, entah apa
yang Win pikirkan tapi ia tidak dapat mengelak karena pria yang sedang
menyanderanya memang benar benar tampan.
(Dringggg dring dringg) suara panggilan telpon Bright membuat Win tersadar dari
lamunannya Win langsung menunduk sedangkan Bright mengangkat telpon
“Ya aku akan segera kesana”
(Pip) Bright menutup telpon sepihak, seperti melupakan Win yang ada disana Bright
meraih tas berwarna hitam dan pergi entah kemana…
Waktu sudah menunjukan pukul 20:20 malam
(Krukk kruk) perut Win terus bernyanyi saling bersautan, Win masuk toilet karena
memang panjang rantai kekangnya muat sampai ke toilet. Win menyalakan kran lalu
merapatkan kedua telapak tangannya bersiap menerima air yang ke luar (glukk
gluk) Win meminum air dengan kedua telapak tangannya dengan rakus ia melakukan
hal itu karena terlalu lapar Bright tidak memberinya makan sejak pagi, Win
terus melakukan hal itu berulang kali
"Apa yang kamu lakukan?”
“Ohh P’Bight emmm aku aku sedang minum”
Bright langsung menyadari bahwa ia belum member makan atau pun minum Win sejak pagi,
namun lagi lagi Bright tidak merasa salah sedikitpun. Bright lalu keluar kamar
tanpa berkata apapun , tak lama dari Bright keluar kamar datang masuk Alex
dengan sepiring nasi dan segelas air dan meletakannya dekat Win seperti biasa
“Makanlah!” Alex
Tanpa basa basi Win langsung mengambil makanan tersebut dan memakannya tergesa gesa
sampai tersedak (uhukk uhukk) Win meraih air dan meminumnya. Alex yang melihat
hal itu hanya memiringkan kepalanya lalu keluar dari kamar meninggalkan Win
lalu berpapasan dengan Bright yang masuk kamar , seperti member kode kode Alex
mengangguk saat bertemu pandang dengan tuannya begitupun dengan Bright.
“Caramu makan seolah kau belum makan selama setahun” Bright
Win menatap bright sekali lalu melanjutkan makannya.
(tok tok tok) suara pintu diketuk seseorang dari luar, saat Bright membuka pintu
salah satu anak buahnya yang lain masuk dengan nafas tersenggal ia berkata
“Tuan gawat! Nyonya Lyn dicegat
seseorang saat pulang dari mall, spertinya suruhan dari salah satu musuh kita”
“Lalu bagaimana dengan Lyn?”
“Dia sudah aman, kita juga sudah menangkap pelakunya”
“Dimana pelakunya sekarang?”
“Di ruangan biasa tuan”
Bright melipat lengan bajunya, rahangnya mengeras, matanya melotot apapun yang
berhubungan dengan Lyn Bright tidak akan mengampuninya ia langsung keluar
hendak menghabisi pelaku yang sempat membahayakan Lyn. Bright masuk kedalam
ruangan yang terlihat menyeramkan, latar berwarna hitam dan berbagai alat untuk
penyiksaan berjejer di dindingnya cambuk berbagai ukuran, pistol, pedang dan
lainnya memenuhi isi ruangan. Saat Bright masuk anak buahnya tidak ikut masuk
dan menutup pintu untuk Bright dari luar
(Bughh…Aghhhh) suara suara seperti it uterus saling bersautan, Bright sangat brutal terhadap
musuh musuhnya ia tidak akan mengampuni mereka sedikitpun
Bright duduk di sofa sambil memijat pergelangan tangannya bersama dengan Alex yang
berdiri disampingnya
“Tuan aku rasa musuh musuh kita mulai menargetkan Lyn” kata Alex
“Umm aku rasa begitu”
“Itu karena mereka tahu Lyn adalah kelemahanmu”
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Lyn!”
“Aku ingin menyarankan sesuatu jika boleh”
“Tentu saja”
“Agar Lyn tidak di targetkan, Tuan harus terlihat memperioritaskan seseorang selain
Lyn!
“Apa kau menyarankan aku agar memiliki seorang kekasih?” Bright dengan cepat mengerti
akan maksud Alex
“Tepatnya hanya untuk mengalihkan perhatian mereka”
Bright tampak berpikir lalu pikirannya langsung tertuju pada Win
“Aku tahu nyawa siapa yang akan menjadi benteng untuk Lyn”
“Siapa tuan?”
“Win akan berguna, nyawanya tidak akan sia sia jika harus mati karena Lyn”
“Kau akan berpura pura berkencan dengan Win? Apa kau yakin?”
“Ini hanya pura pura, aku sengaja tidak membunuhnya secara langsung biarkan dia mati
untuk Lyn.. dengan begitu nyawanya berguna bagiku”
“Apapun keputusanmu tuan”
Bright tersenyum licik sambil melanjutkan memijat tangannya