
Win tak sadarkan diri sejak siang kemarin, dan
sekarang sudah siang lagi namun lagi lagi Win tak kunjung siuman. Bright masih
setia Menunggu Win, masih dengan pakaian yang sama seperti kemarin namun dengan
wajah yang lebih kacau.
Setelah beberapa saat Win melakukan pergerakan kecil
di jari jarinya, hal itu disadari Bright yang tak luput memperhatikan Win
sedari tadi. Bright sangat senang, saking senangnya ia tak tahu harus melakukan
apa.
“Win…?, Win apa kau sudah sadar?”
Bright sambil memegang lembut tangan Win.
Win perlahan membuka matanya, namun ia tak seperti
biasanya tak seperti orang yang baru siuman. Ia melirik Bright sebentar lalu
mengalihkan matanya ke langit langit di depannya. Melihat hal itu tentu saja
membuat Bright kebingungan.
“Win apakah ada yang sakit?”
Namun
lagi lagi yang ditanya hanya membuat wajah datar tanpa mengatakan sepatah
katapun, Bright yang takut ada apa apa dengan Win langsung keluar lalu kembali
lagi dengan seorang dokter dan beberapa perawat. Dokter segera memeriksa Win
dengan alat alat yang authorpun tak tahu namanya sadL,,, Lanjut!
!.... perawat sedang mencatat sedangkan dokter sibuk memeriksa Win
“Apa kau baik baik saja?, coba katakana sesuatu” namun
lagi lagi Win tak menjawab.
“Tuan ada sesuatu yang ingin saya bicarakan, tolong
ikuti saya ke ruangan” Dokter
“Baik” Bright hanya mengikuti dokter
Skip ruangan dokter
“Ada apa dengan Win dok?” Bright mengawali pembicaraan
“Dari hasil penelitian sepertinya Win mengalami Selective mutism atau bisu selektif
adalah kondisi saat seseorang tidak bisa berbicara pada situasi sosial atau
kepada orang-orang tertentu.Hal itu disebabkan
karena gangguan kecemasan”
Kini
Bright berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, hatinya tak henti hentinya
mengumpat “Brengsek Bright bagaimana kau bisa melakukan kesalahan sefatal itu,
haha Selective mutism sekarang Win mengalami autis, Bright sialan! !” hingga Bright tak sadar dirinya memukul dinding
rumah sakit dan bisa di pastikan tangannya lecet dan memar. Sampai di ruangan
tempat Win di rawat Bright melihat Win sedang tertidur pulas. Alex tiba tiba
masuk ruangan dengan nafas terengah engah.
“Tuan kenapa kau tak dapat di hubungi?” Alex
Sedangkan Bright merogoh saku celananya dan
mengeluarkan handphone dari sana
“Umm aku lupa hpku habis baterai” Bright tampak tak
semangat
“Tuan ayo bicara di luar” Alex
“Bicaralah disini aku lelah” Tolak Bright, karena ia
mengira tak ada hal serius, namun Alex menarik tangan Bright hingga mereka
sampai di luar ruangan.
“Louis di temukan mengakhiri hidupnya pagi ini tuan”
Alex dengan mata terpejam tak tega
Bright kaget bukan main, rasanya tubuhnya tak
bertenaga. Ia menangkup wajahnya kasar sambil perlahan duduk di kursi tunggu
yang berada tepat di belakangnya, ia tak terlalu mengenal Louis tapi
kepergiannya sangat menyakitkan mengingat Win yang merupakan keponakan Louis.
“Sebelum meninggal ia sempat menulis ini tuan” Alex
memberikan secarik kertas dan segera di buka oleh Bright.
“Bright aku
sudah tak memiliki siapa siapa, setelah orang tuaku meninggal aku menjadikan
kakak ku Pim sebagai ibuku dan kakak iparku sebagai ayahku. Setelah kakak
iparku meninggal aku merasa telah kehilangan sosok ayahku untuk ke 2 kalinya,
kini kak Pim sudah meninggal dan aku sangat hancur. Aku sudah tak sanggup lagi
aku terlalu taku untuk hidup. Tapi satu pintaku, tolong jaga Win aku terlalu
pengecut untuk menghadapi Win. Tapi aku yakin kau bisa menjaga dan
membahagiakan Win. Selamat tinggal”.
Bright menangis sesegukan sambil meremas surat itu,
“Bagaimana? Bagaimana bisa Win bahagia sedangkan kau
pun pergi meninggalkannya!” Ucap Bright di tengah tengah
tangisannya.
Seminggu telah berlalu Win di bawa ke rumah Bright
seperti apapun. Namun saat Win hendak di bawa ke kamar Bright Win langsung
membeku, langkahnya berhenti padahal baru saja Bright membukakan pintu kamar. Tergambar
bayangan bayangan saat Bright melakukan penyiksaan terhadap Win di kamar itu
bagai film yang terus diulang ulang, Win menangis histeris. Win ingin lari dan
terus memberontak, kamar itu seakan menjadi trauma baginya. Bright yang
mengerti akan hal itu berusaha menenangkan Win dengan memeluknya, perlahan Win
tenang dan menghentikan tangisannya. Namun kini malah Bright yang menangis ia
sangat sedih karena dalam memory Win hal tentang Bright adalah neraka bagi Win.
“Tak apa apa Win, tenanglah aku takan menyakitimu”
Bright hampir tak terdengar
Bright memutuskan membawa Win ke kamar lain yang tak
jauh dari kamarnya,
“Apa kau baik baik saja dengan kamar ini?”
Percuma saja Win takan menjawab, tapi Bright tahu
jawaban Win walaupun ia tak bersuara. Bright sudah terbiasa dengan itu,
“Mulai sekarang kau akan tinggal disini dan aku akan
menjagamu, aku janji” Bright sambil mengusap rambut Win sayang
“Istirahatlah perjalanan dari rumah sakit pasti
membuatmu lelah” Bright sebelum akhirnya keluar dari kamar Win.
Hari telah berganti minggu, minggu telah berganti
bulan. Setiap pagi Bright akan mengecek Win di kamarnya sebelum ia melakukan
hal apapun termasuk membasuh wajah, sekarang Win adalah prioritas utamanya
apalagi Lyn belum kembali dari luar negeri setelah beberapa bulan lalu, bahkan
mungkin Lyn tak tahu apa saja yang terjadi. Rutinitas mengecek Win selalu ia lakukan
setelah beberapa bulan Win tinggal di rumahnya ini, namun tak ada perkembangan
dari Win sedikitpun. Dilihatnya Win masih tidur dengan damainya, Bright duduk
di samping kasur sambil memandangi Win. Tangannya terangkat mengusap lembut
rambut Win, tanpa ia sadari airmatanya jatuh mengingat seluruh perbuatannya
pada Win hingga membuatnya menderita samapi seperti ini. Hal itu membuat rasa
bersalahnya semakin mengerogoti dirinya
“Bagaimana aku bisa membunuh bunga yang sudah layu
hingga hancur berkeping keeping?” Tanya nya pada dirinya sendiri.
Sore hari Win duduk di samping kasurnya menghadap luar
jendela, ia sangat jarang keluar dari kamar bahkan dapat dihitung jari selama
ia tinggal di rumah Bright. Bright datang dengan kemeja putih khas orang baru
pulang kerja, dengan membawa berbagai buah di tangannya tidak lupa sebilah
pisau buah untuk mengupasnya.
“Hahh cuaca hari ini sangat bagus, tapi terlalu panas
untuku” Bright sambil tersenyum, walau selalu tak ada jawaban tapi Bright
selalu mengajak Win berbicara.
“Apa kau ingin Pir?” Win menengok kearah Bright dengan
tatapan penuh arti, dari sana Bright menyimpulkan bahwa Win mau. Bright lalu mengupas
pir untuk Win hingga tiba tiba aktivitasnya terhenti karena hpnya bordering
“Hallo?” Bright meletakan buah dan pisaunya lalu
berdiri dan membelakangi Win.
Sedangkan Win menatap Bright yang sedang menelpon,
entah apa yang Win pikirkan tentang Bright. Bright telah selesai menelpon baru
saja ia berbalik Bright membelalak karena saat sesuatu terasa menembus kulit
perutnya
“W …win…” Bright memegangi luka tusuknya, kemeja putih
yang dikenakannya kini telah berubah warna menjadi merah karena darah yang
terus merembas dari luka tusukan karya Win. Win seketika kaget dengan aksinya
barusan, ia ingin memanggil Bright namun suaranya tak kunjung keluar. Ia juga
ingin menolong Bright namun badannya kaku seakan otak dan tubuhnya sudah tak
lagi terhubung. Tubuh Win bergetar hebat saat melihat Bright ambruk dan
sekarat, Win sangat ingin memanggil Bright namun lagi lagi tak bersuara, dan
yang keluar hanyalah suara teriakan histeris dari Win yang menangis dan
ketakutan.
“W..winn” Dengan suara bergetar Bright berkata
“Tak apa … win.. tak…apa..aku baik..baik saja…tak apa”
ucap Bright terbata bata dan perlahan kehilangan nafas lalu matanya menutup
secara perlahan. Win menangis sejadi jadinya dengan badan yang membeku ternyata
melihat Bright di ambang kematian dengan darah berlumuran di hadapan kepalanya
sendiri tak membuat Win merasa senang.
Udah lama gak up:v
maaf ya mentemennnn…… dan cerita ini belum berakhir:v
Like dan komentar kalian
sangat berarti bagi author Happy Reading! !