
Win sempat kaget sepersekian detik namun Win hanya mampu memejamkan
matanya, Bright melepaskan ciumannya lalu kembali duduk di kursinya. Ada rasa
canggung diantara mereka setelah kejadian beberapa detik itu, mereka saling
memalingkan wajah kearah lain. Anehnya Bright tidak melakukan hal lain lagi
padahal biasanya ia akan melakukan apapun sesukanya tanpa rasa canggung, namun
ia merasa canggung pada Win.
“Mengapa kau melakukan itu Phi?” Win pada akhirnya
“Karena kau terlalu banyak bicara, kau perlu lebih banyak istirahat
gunakan tenagamu seperlunya” Bright
“Kenapa kau tak pulang dan beristirahat Phi?” Win
“Ini sudah malam” Bright
“Lalu bagaimana kau akan tidur?” Win
“Aku bisa tidur sambil duduk” Bright lalu melipat tangannya di kasur
lalu menyandarkan kepalanya
“Kau tak akan nyaman tidur seperti ini” Win
“Lalu cepatlah sembuh! Aku rindu kasur empuk ku!” Bright
Win memiringkan wajahnya heran
“Jangan bilang Phi tidur di sini setiap malam?” Win
Namun Bright tak menjawab ia memejamkan matanya lekas
tidur. Win yang melihat hal itu merasa kasihan tapi hati kecilnya ia bahagia
“Apakah kau benar benar mengkhawatirkanku Phi?,
mengapa sikapmu selalu penuh dengan teka teki? Aku selalu tak tahu apa maksud
dibalik sikapmu. Tapi terimakasih aku merasa senang karena aku selalu melihatmu
dari duniaku” Win perlahan mengangkat tangannya yang di infuse itu meraih surai
hitam milik Bright dan mengusapnya lembut.
.
.
Setelah seminggu di rumah sakit akhirnya Win sudah di
perbolehkan pulang, kini ia sedang beristirahat di kamar Bright. Bright yang
hendak masuk kamar tertahan oleh Alex
“Tuan Bright” Alex sambil menahan tangan Bright,
sedangkan yang di panggil hanya menengok
“Aku ingin bicara” Alex
“Bicara saja disini” Bright
“Ini tentang ibu Win” Alex
Wajah Bright berubah ke mode serius
“Bicaralah” Bright
“Keuangan mereka sangat kacau tuan, bahkan untuk
membayar obat dari rumah sakitpun mereka tak mampu. Setelah peralihan kuasa
tanah, datang dua orang rentenir untuk menagih hutang yang lainnya mereka
mengacak acak rumah Win lalu mengambil barang yang bisa di jual. Namun hutang mereka
masih belum terbayar sepenuhnya karena sumber penghasilan mereka sudah kita
ambil alih tuan” Alex
Bright tersentak hatinya, ia mulai panic
“Lalu bagaimana keadaan ibu Win?” Bright
“Walau sudah operasi namun ternyata tak ada perubahan”
Alex
(Brakkkk) Win hendak ke toilet namun ia tak sengaja
mendengar percakapan Alex dan Bright ia tak kuasa mendengar kata “ibu Win” dan
mendengar “obat”, walau ia tak tahu apa yang terjadi pada ibunya namun ia dapat
memastikan bahwa ibunya sedang tidak baik baik saja. Badannya lemas ia kehilangan
kendali dan hampir jatuh namun ia berpegangan pada buku yang ada pada rak
hingga mereka berjatuhan. Bright yang mendengar suara itu langsung menghampiri kearah
suara, ia kaget melihat Win yang berdiri sempoyongan disana. Win menatap Bright
dengan marah
“Kau benar benar serakah!”
wajah dan mata Win sama merahnya
“Itu tak seperti yang kau dengar” Bright
“Apa yang aku dengar? Kau sudah berjanji takan berurusan
dengan ibuku lalu kenapa kau juga menyiksanya? ! kau mengambil tanah satu satunya sumber uang ibuku! Apa tak cukup hanya dengan menyiksaku? ! !” air mata Win mulai berloma lomba keluar
“Cukup! Dengarkan aku!”
Bright juga ikut terpancing emosi
“Selama ini aku selalu menuruti perintahmu pernahkah
aku membangkang? Bahkan aku menuruti perintahmu untuk mempertaruhkan nyawaku
demi adik tercintamu! Tapi kenapa kau tak memenuhi satu
janjimu saja? ! !” Win
“Jika terjadi sesuatu pada ibuku aku takan pernah
memaafkanmu! ! !” Win sambil menunjuk nunjuk Bright dengan
telunjuknya.
Bright mulai hilang kesabaran karena Win tak
mendengarkannya ia meraih pergelangan tangan Win lalu mencengkram wajah Win
dengan kuatnya, rahang Bright mulai mengeras bahkan urat urat di wajahnya
sangat terlihat jelas
“Sudah kubilang aku tak suka di bentak! ! !” Bright
Alez yang melihat hal itu berusaha menenangkan Bright
untuk tidak melakukan apa apa pada Win
“Tuan tenanglah” Alex berusaha melepaskan tangan
Bright yang mencengkram wajah Win hingga memerah
“Jangan ikut campur! ! ! keluar! !” Bright dengan nada berteriak pada Alex
“Tuan” Alex dengan wajah memohon, namun Bright benar
benar sedang marah
“Aku bilang keluar! !” Bright
Alex dengan berat hati keluar kamar meninggalkan mereka,
namun karena khawatir pada Win Alex menunggu mereka diluar dekat pintu.
Bright memandang Win dengan tatapan marah, sedangkan
yang di pandangi hanya pasrah dan kesakitan Win masih belum pulih sepenuhnya
bahkan bekas luka di lehernya masih terasa sakit.
“Kau brengsek!” Win berusaha bicara walau pipinya
tertahan tangan Bright
Amarah Bright sepertinya sudah di ujung tanduk ia
benar benar tak tahan dengan kata kata tak enak yang di lontarkan Win, ia
mendorong Win hingga punggungnya terbentur pada rak buku, seketika Win ambruk
di lantai disusul buku buku yang berjatuhan mengenai kepala dan badan Win. Belum
saja luka luka Win sembuh sudah ada luka baru di kepala dan di wajahnya. Win memegang
kepalanya yang terasa pusing setelah tertimpa buku buku tebal, Bright
menghampiri Win lalu berjongkok sejajar dengan badan Win.
“Aku brengsek? Hah apa aku brengsek?” Bright
mengangkat dagu Win dengan telunjuknya
“Bukan hanya brengsek kau jahat! Kau kejam! Tak punya hati! Kau..” Sumpah serapah Win terhenti karena satu
tamparan mendarat di pipinya
“Maksudmu seperti itu?” Bright membalikan wajah Win
kembali menghadapnya, déjà vu Win melihat kembali semirk jahat Bright yang
sudah tak ia lihat selama dua bulan kebelakang itu.
“Aku hanya minta untuk jangan menyentuh ibuku, jangan
berurusan dengan ibuku. Hanya itu saja, tapi kau tak bisa memenuhi itu bahkan
kau mengambil alih penghasilan ibuku” Win dengan wajah memelasnya
“Aku punya alasan untuk itu!”
Bright
“Apa? Hah Lyn? Kau
menukar kehidupan ibuku untuk Lyn? Tak cukup nyawaku kau menukar ibuku juga?”
ekspresi Win membuat Bright sangat muak
“Bisakah kau mendengarkanku dulu! !” Bright sambil berteriak
“Apa yang harus aku dengarkan?” Win
“Zhen menginginkan Tanah bagian selatan keluargamu,
aku setuju untuk membantu Zhen mengambil alih agar Zhen melepaskanmu! Kalau aku tak melakukan itu kau akan mati saat itu!” Bright
“Ohhh benarkah? Bukankah menyenangkan bagimu jika
melihat keluargaku hancur? Bukankah itu tujuanmu? Hah?” Win
Bright sangat marah karena Win tak mempercayainya, ia
menarik tangan Win lalu menyeretnya ke tempat dimana Win biasa di borgol.
Bright gelap mata ia tak peduli leher Win masih berdarah dan Win meringis
kesakitan beberapa kali ia tetap mengabil borgol lalu memasangkannya pada leher
Win lalu Bright keluar kamar meninggalkan Win. Tinggalah Win yang meringkuk
kesakitan memegangi borgol di lehernya agar tak bergesekan dengan lukanya ia menangis
terisak menahan sakit hatinya dan sakit di seluruh tubuhnya.
Sorry for the late
update karena author lagi sibuk sama laporan dan persiapan sidang, mohon doanya
ya semuanya biar atuthor di beri kelancaran jadi author gak telat update
lagiiii…
Bantu Like sama komen
ya! Happy Reading all><