
Win berjalan
di bawah redupnya lampu jalanan kota Bangkok,suasana sunyi dan dingin menambah
rasa was was di hati Win. (tak tak tak) suara langkah kaki terus mengikuti
kemana Win pergi, keringat dingin mulai bercucuran Win menghentikan langkah
kakinya dan berbalik badan melihat ke belakang namun tidak ada siapa siapa. Win
menghela nafas panjang lalu melanjutkan perjalanannya, namun lagi lagi suara itu
terus mengikutinya dari belakang, Win mempercepat langkahnya tapi suara langkah
kaki itu terus mengejar ‘Tuhan tolong aku tuhan’ doa win dalam hatinya tak
henti henti. Tanpa aba aba Win menghentikan langkahnya dan berbaik kebelakang
membuat orang yang mengikutinya kaget dan “Mmmph” pria dengan pakaian serba
hitam dengan jas selututnya membungkam Win dengan saputangan berwarna hitam
pula, Win berusaha berontak ia sudah kehilangan oksigen, ketika ada kesempatan
Win berusaha mengambil oksigen sebanyak banyaknya namun semakin ia berusaha
bernafas badannya semakin melemah lalu kehilangan kesadarannya.
Win
terbangun di ruangan yang terlihat asing baginya cat berwarna abu abu dengan
tema klasik, lukisan lukisan antic memenuhi seluruh ruangan tersebut. Win yang
belum sepenuhnya baru menyadari kedua tangannya diborgol seperti seorang
tahanan ditambah lehernya yang ikut terborgol juga layaknya seekor anjing yang
di kekang majikannya. Win berusaha melepaskan borgol di tanggannya lalu di
lehernya namun semakin Win berusaha lepas rantai tersebut semakin mencekiknya
dan hampir membunuhnya ‘Tuhan apa yang sedang terjadi? Dimana aku?’ kata kata
itu tentunya hanya bergumam di lubuk hatinya. (tok tok tok) Langkah kaki
terdengar dari balik pintu dimana Win dikurung (cklek) gagang pintu berputar
kebawah bersamaan dengan pintu yang terbuka. Terlihat seorang pria berwajah tampan dengan
tatapan yang tak dapat di artikan, pria tersebut tak hentinya menatap win
dengan tajam. Dengan kedua tangan yang masih tersembunyi dibalik kantung
celananya pria tersebut berjalan menghampiri Win bersamaan dengan Win yang
terus mundur menghindari pria yang sudah mendekatinya.
“Halo Nong
Win” Suara pria tersebut bergema, dengan pakaian rapi serba hitam harusnya
terlihat menawan, tetapi dimata Win dia lebih terlihat menyeramkan ditambah
senyum psikopatnya.
“D…ddarimana
kau tahu namaku?” Win terbata bata, tentang ekspresi dan keadaan Win saat ini
kalian pasti tahu keadaannya. Wajah pucat, keringat dingin bercucuran,
tangannya bergetar dan suasana hati yang kacau.
“Metawin
Opas-iamkajorn Thanat Opas-iamkajorn ohh sungguh keluarga yang manis bukan?” Pria
itu setengah berjongkok meraih wajah Win dengan tangannya dan mengusap ngusap
wajah Win menyingkap kan rambutnya. Walau tangannya mengusap wajah Win dengan
lembut tapi Win tahu itu bukanlah rasa kasih sayang tetapi lebih ke keinginan
membunuh Win saat itu juga.
“Bbb…bagaimana
kau tahu ayahku? Kau siapa?”
“Hmmm
bagaimana aku tidak tahu pembunuh kelas kakap seperti ayahmu?!” pria yang
tadinya membelai pipi win dengan lembut berubah menjadi genggaman kasar di
kedua pipi win. (deggg) Win seperti terjatuh dari ketinggian mendengar pria
tersebut bilang bahwa ayahnya seorang pembunuh, namun Win berusaha tidak
mempercayainya
“Kau
berbohong ayahku bukan pembunuh!!!” Win berteriak di hadapan wajah pria
tersebut
(Plakkkkk)
satu tamparan yang sangat kuat mendarat di pipi Win membuat ujung bibir Win
sedikit berdarah
“Maaf tapi
aku tidak suka di teriaki” dengan wajah tak berdosa pria itu melihat lihat
telapak tangannya sendiri
“Apa maumu? Siapa
kau?”
“Sepertinya
kau lupa padaku Nong Win (Nong panggilan di thai kepada orang yang umurnya
lebih kecil), apa kau melupakanku? Kau tidak ingat dua hari yang lalu kita
pernah bertemu? Hah??” pria tersebut menampilkan mimik wajah seakan akan sedang
sedih.
Win berusaha
mengingat ngingat dimana ia pernah bertemu dengan pria jahat tersebut
.
.
*Flashback
Win berjalan
keluar dari sebuah apotik dengan sekantung plastic obat di tangannya, sedangkan
matanya tertuju pada plastic obat obatan tersebut sehingga tidak memperhatikan
berantakan
“Maafkan aku
Phi aku tidak memperhatikan jalanku (Phi panggilan untuk kakak di thai)” Win
sibuk memungut obat obatan yang tergeletak. Pria tersebut terus memandangi
wajah Win seperti mengingat sesuatu.
“Phi…. Phi
kha apa kau baik baik saja?” Win mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah
pria tersebut membuat si pria tersadar
“Aku baik
baik saja”
“Kalau
begitu aku pergi duluan”
“Euhh
tunggu, kamu sangat cantik apa aku boleh tahu namamu?” Alibi pria tersebut
“Metawin
panggil saja Win, lalu nama Phi?”
“Ohh namaku
Bright”
“Ohh P’Bright
kalau begitu sampai jumpa” Win melambaikan tangannya dan berbalik meninggalkan
Bright lalu dibalas senyuman oleh Bright. Ketika Win semakin menjauh senyum
Bright perlahan memudar lalu menjadi tatapan menyeramkan.
Sejak saat
itu Bright memanggil anak buahnya untuk mengawasi Win untuk memastikan apakah
Win targetnya atau bukan karena wajah Win sangat mirip dengan wajah seseorang
yang sudah lama ia cari.
.
.
“Bright? Apa
kau Bright? Apa maumu?” Win sudah mengingat kejadian tempo hari ketika ia
pulang dari apotik
“Ohh kau
sangat pintar Win sama seperti ayahmu”
“Tolong
hentikan ini, apapun masalahmu dengan ayahku itu semua sudah berakhir! Ayahku sudah
meninggal” win menangis mengingat kembali Alm.Ayahnya.
“Karena
ayahmu sudah mati!! Jadi kaulah yang harus menggantikannya” Bright mendaratkan
tamparan tamparan kecil di pipi Win
“Apa yang
ayahku lakukan padamu?!”
“Apa kau
benar benar ingin tahu apa yang ayahmu lakukan??? Hmm?” Bright mengangkat dagu
Win sehingga sejajar dengan wajah Bright
“Ayahmu
telah membunuh orang yang sangat aku sayangi!!” mata Bright memerah rahangnya
mengeras bibirnya bergetar menahan amarahnya, bahkan satu tetes air mata jatuh
daru ujung matanya dan langsung diseka oleh tangannya sendiri.
“Kau
berbohong!! Ayahku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!” Win berusaha
tidak mempercayai kata kata Bright
“Kau sama
saja seperti Ayahmu!! Kau selalu mengelak seperti dia! Kau tidak pernah
menerima bahwa kau keluarga pembunuh!! Ha ha ha lucu sekali” Bright dengan
senyuman kesalnya.
“Lalu apa
kau akan membunuhku?”
“Tentu saja
tidak Nong Win, tapi aku akan membuat hidupmu terasa mati setiap detiknya!”
Bright berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan meninggalkan win sendirian.
Badan Win
lemas terkulai hatinya kacau Win menangis sejadi jadinya ia bukan membayangkan
apa yang akan terjadi padanya, namun yang terjadi pada ibunya saat ia tidak ada
nanti. Ibunya adalah hidupnya dialah yang membuat Win tetap bertahan hidup sampai
saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
Follow+Like+Vote+Komen sesudah baca:) Khop Khun Kha and Happy Reading>_<
ig:@enihandayani_26